Melaksanakan Thawaf Wada dan "Misteri" Hajar Aswad (B)
Melaksanakan Thawaf Wada dan "Misteri" Hajar Aswad (B)
Ketika kami baru selesai melakukan putaran ketiga, terdengar suara azan shubuh.
Kami berhenti thawaf untuk melakukan shalat shubuh, dan melanjutkannya kembali
setelah mengucapkan salam dan selesai berdoa.
Kur terlihat sangat senang ketika akhirnya saya bisa menyelesaikan dengan baik
thawaf sebanyak tujuh putaran. Selama tujuh putaran tersebut saya memang tidak
berhasil mengantar Kur mencium Hajar Aswad, karena memang dia tidak terlalu
menginginkannya, dan lebih mengkhawatir kondisi kesehatan saya.
Setelah selesai shalat sunat kami turun untuk minum dan mengambil air zam-zam.
Hal yang agak aneh kembali terjadi. Saya yang dalam tiga pekan terakhir ini
sangat susah dan sering terbatuk-batuk kalau minum air, pagi itu bisa minum air
zam-zam langsung dari kerannya dengan sangat lancar sampai perut saya kenyang.
Kami keluar dari Masjid melalui Marwah, melewati Pasar Seng kemudian berbelok
ke kiri mengitari Masjid. Ketika hendak keluar dari Masjid saya lihat mata Kur
masih basah. Kemudian kami mampir di sebuah depot makanan dan minuman guna
membeli roti kebab ("hot dog" berisi daging ayam atau daging domba cincang,
yang juga merupakan makanan favorit jemaah haji Indonesia) dan jus jeruk dalam
gelas plastik berukuran sedang seharga dua riyal. Pemiliknya seorang yang ramah
dan mengambilkan kursi untuk kami duduk. Tetapi kami tidak lama di sana dan
makanan dan minuman kami beli kami bawa pulang.
Di sebuah perempatan saya sempat kebingungan menentukan jalan ke tempat kami
biasa menunggu angkot untuk pulang ke pemondokan yang berada tidak jauh dari
pagar depan Masjid. Saya mendekati askar yang berjaga di sana lalu bertanya
dalam Bahasa Inggris jalan mana yang menuju arah Hotel Dar es Tawhid, yang
tepat berada di depan halaman Masjidil Haram.
Tidak lama berjalan kami bertemu dengan perempuan duafa berkulit hitam yang
menuntun seorang anak perempuan. Kur memberi ibu dan anaknya uang masing-masing
satu riyal. Anaknya menolak uang dan menunjuk-nunjuk kearah Kur, tepatnya ke
arah jus jeruk yang sedang dipegang Kur. Mengetahui apa yang diinginkannya,
Kur dengan tersenyum segera memberikan jus jeruk yang ada di tangannya itu
kepada anak perempuan itu yang menerimanya dengan wajah suka cita.
Tidak jauh dari sana kami mendapati sebuah "angkot" yang rutenya ke arah
pemondokan kami di Hafair sedang menunggu penumpang.
(bersambung)
-------------
1) Seperti yang ditulis oleh suami isteri Fahmi Amhar, seorang insinyur
dan isterinya Arum Harianti seorang dokter, yang bermukim di Wina, Austria,
yang berhaji dalam tahun 1994, dalam buku "Buku Pintar Calon Haji" yang
diterbitkan oleh Gema Insani Press (1996), yang sesuai dengan judulnya, sangat
bagus dan perlu dibaca oleh para calon haji
--
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.