Selembar Kenangan 4
By : Ritrina Hu..hu..hu..hu.. tangis di Upik dalam hati sambil menarik-narik kaki celana putih katunnya yang berlis merah darah dari belitan rantai sepedanya yang sungguh antik. Sepeda yang dipakai Si Upik adalah sepeda yang tidak ada yang jual dalam kondisi baru, sebab sepeda itu didapatkan Upik dari minjam ke Abangnya yang memodifikasi sepeda-sepeda bekas sepupu yang karena kebandelannya orangtuanya sengaja merusakkannya. Karena hanya tersimpan percuma di gudang mereka, Abang Upik memintanya untuk dimodifikasi. Jadilah sepeda aneh dengan body BMX sport, roda belakang roda aslinya dan roda depannya roda bekas kursi roda yang berdiameter cukup lebar. Walaupun sepeda itu kelihatan aneh tapi Upik suka nyuri pakai sepeda Abangnya itu. Sepeda khusus untuk anak cewek yang rendah malah gak diliriknya. Kadang Upik ngeri sendiri melihat hancurnya mainan-mainan sepupunya itu, entah dihancurkan sendiri ataupun dihancurkan orangtuanya karena saking jengkelnya. Yah.. memang sepupu Upik itu memang sedikit eh mungkin luar biasa bandel hihihi. Untung jalanan dekat persimpangan rumah Upik tidak terlalu rame seperti masa sekarang ini. Jalanan waktu itu sangat sangat sepi sekali. Hanya dalam hitungan jari saja ada kendaraan yang lewat di gang itu di tahun 1984 itu. Jadinya dengan sedikit-sedikit menyeret kakinya, akhirnya si Upik berhasil juga untuk membebaskan pinggir kaki celananya yang terjepit di rantai itu. Tapi alangkah kagetnya si Upik, celana yang terjepit itu meninggalkan bekas lubang-lubang kecil yang full hitam dengan oli disekelilinya. Bayangan kemarahan Mama Upik sudah terasa didepan matanya. Yah mau gimana lagi, namanya juga apes harus tanggung resiko. Upik keranjingan main sepeda unik itu, apalagi kalo sekolahan libur. Upik jarang naik ke sandel dudukan sepeda itu, sebab kalo dia naik maka kakinya tidak bisa menyentuh kayuhannya. Jadi harus ngalah salah satunya, jadilah si Upik bersepeda dengan duduk di batangan sepeda yang dibikin dari dua besi bulat sejajar dan diberi sarung busa berkulit disekelilingnya. Upik cukup nyaman bersepeda dengan tidak sempurna seperti itu. Sehingga dia bisa belajar menyeimbangkan badan dengan laju sepeda yang aneh dan posisi dia yang aneh itu. Parahnya Upik sering sekali jatuh, sampai sampai kaki-kakinya lecet-lecet. Pernah bahkan sampai rem tangan yang berbentuk besi tempahan tumpul itu hampir menusuk lehernya sehingga menimbulkan bekas biru dan rasanya nyeri sekali pas membentur pagar tetangga J. Ketika Upik mengendarai sepeda aneh itu, punggungnya selalu bersandar di sadel dudukan sepeda dan sering terantuk-antuk sehingga menimbulkan bekas memar biru ditengah tulang punggungnya. Tapi semua kenyerian itu mana pernah menghentikan kebandelan si Upik kecil ini untuk tetap meminjam dengan paksa ke Abangnya. Dia hanya tinggal nangis dan ngadu ke Mama kalo Abang tak kasih. Hahaha. begitulah kalo menjadi si anak bungsu yang tidak beradik lagi. Umur Upik ketika itu masih 7 tahunan dan terlihat lebih kecil lagi karena Upik memang mungil sehingga biasa di panggil Unyil oleh beberapa orang tua disana. Upik kurang suka dipanggil Unyil sebab Unyil kan tembem, sedangkan Upik kurus, kecil dan merupakan anak Mama tercantik setelah Nia kakak tertuanya.(hi..hi..hi.ini mah katanya Mama J). Tapi jangan salah, Upik dia enerjik sebab dia bisa balapan sepeda tapi sendirian..haha.. balapan ama angin. Apalagi Abang-abang Upik yang rada jahil, mereka panggil Upik si Cingkulik spaceghost.. alamakk.. Entah apa maksudnya, Upikpun bingung tetapi bila diolok-olok dengan nama itu, diapun lari mengejar untuk menghajar mereka itu, tapi tetap saja hasilnya ga jauh beda. Lari ke Mama sambil nangis ngadu hahaha.. dasar cengeng. Tapi hasilnya memang lumayan, para Abangnya itu bakal kena marah sang Mama, walaupun marahnya mungkin dibuat-buat tapi berhasil melegakan si Upik yang cengengnya bisa overload di kala itu. Suatu pagi Minggu Upik ikut kakak-kakaknya yang lari marathon kearah Jam Gadang Bukittinggi. Tapi Upik bukannya marathon tapi malah ngekor dengan sepedanya yang normal. Dia ngebut di tengah kedinginan udara Bukittinggi yang berkabut tipi situ. Tiap nafas yang keluar dari mulut Upik terlihat berasap. Upik sangat suka jika napasnya berasap-asap gitu. Tapi setelah sadar Upik gak nampak Abang-abangnya lagi di jalanan, sebab orang-orang seperti hampir mirip saja di tengah kabut dingin pagi kota Bukittinggi itu. Akhirnya Upik berbelok ke arah Pasar Bawah dan terus ke kiri dari arah pusat kota, inginnya dia mau pulang tapi mau ngambil jalur seperti jalur mobil angkot Mersi yang biasa dia tumpangi dengan mama kalo diajak ikut ke pasar Bawah Bukittinggi. Upik mencoba mengingat-ingat jalur itu, hampir mirip kiri kanan jalannya tapi kok gak nampak-nampak simpang Sarojonya ya? Upik tetap mengayuh sepedanya sambil melihat pemandangan pagi yang menyenangkan itu ke arah Gunung Merapi yang terkadang mengeluarkan asap di puncaknya. Dia mulai bertanya-tanya dalam hati, kok sampai sejauh ini ya rumahnya? Padahal rasanya gak terlalu lama naik angkot itu biasanya udah nyampe rumah. Di persimpangan yang tidak dikenalnya akhirnya dia berhenti memperhatikan plang jalan yang ditulis disisi jalan itu. Pa-ya-kum-buh. hah...mau masuk Payakumbuh? Alamak...si Upik kaget bukan main karena setau dia Payakumbuh itu kan udah kota lain. Mak .ee.ternyata dia udah nyampe ke perbatasan antara Bukittinggi dengan Payakumbuh. Ketika berhenti itu Upik menyadari jika telinganya sangat sakit sekali. Dipegangnya dua daun telinganya.wah. dinginnyaaa..MasyaAllah... aduuhhh.. sakitnya luar biasa. Setelah dia pegang-pegang agak lama baru agak mendingan. Setelah tidak terlalu sakit lagi baru dia melanjutkan perjalanan dengan berbalik arah kearah pusat kota lagi. Beberapa kali Upik berhenti di jalan sebab telinganya kembali sakit lagi. Begitu dia sampai di simpang Mandiangin barulah dia sadar jika inilah simpang kearah rumah yang benar. Mungkin melamun atau saking sebangnya bersepeda di alam BUkittinggi pagi yang sangat sejuk dan asri, atau entah nasib memang nyuruh dia untuk punya pengalaman nyasar begitu. Tapi yang jelas Upik sangat senang dengan pengalaman nyasarnya itu. Sebab kalo dipikir, dia ga bakalan berani bersepeda sendirian sejauh itu. Alhamdulillah Allah Sungguh Maha Kaya dengan karuniaNya. Tahun 1999 di Sitiung Blok C Pakanbaru Sijunjung (Daerah transmigrasi asal Kediri Jatim) Upik yang saat itu juga tengah memegang stang sepeda gunung yang cukup mantap dan kokoh. Dia berlima dengan kawan-kawan kelompok KKN utusan kampusnya. Mereka sedang mempertimbangkan cara bagaimana melintas jalan desa yang dihadapan mereka terbentang seperti jurang yang dibawahnya ada aliran sungai kecil. Sungai kecil itu tertutup jembatan kayu sederhana yang kelihatan dari atas kejauhan ini hanya seperti titian saja. Kawan-kawan memutuskan untuak berjalan kaki saja sambil menuntun sepedanya masing-masing. Upik yang boleh dibilang sudah menjelma jadi seorang wanita muda cukup menarik ini (hahaha.jangan ada protes) seperti kembali ke masa kecilnya dulu yang suka bersepeda hingga kemahiran bersepedanya udah ga diragukan lagi hehehe.. pastinya yang amatiran ya bukan dibandingin ama atlit sepeda.. Upik dengan mantap melepaskan rem sepedanya dari ketinggian itu langsung menukik turun kearah jalan yang berbentuk cukaman jurang dalam itu. Kawan-kawannya satu cowok dan tiga orang cewek itu langsung berteriak kaget setengah mampus melihat si Upik meluncur laju ke tengah jurang itu. Yang cowok marah-marah ga tentu arah tapi gak ikut mau ambil resiko untuk ngejar dan yang cewek-ceweknya pada histerisan. Upik dengan penuh perhitungan dan kesenangan dengan memacu adrenalinnya berhasil tepat melintas di sungai kecil yang diberi titian kayu itu dengan cepat dan tepat. Sepedanya langsung melaju tanpa berhenti menaiki jalanan desa yang cukup terjal di depannya. Tapi setengah tanjakan dari jurang itu, sepedanya sudah ga sanggup lagi dikayuh untuk mendaki. Upik berhenti menunggu kawan-kawannya yang kelihatan dari jauh udah pada pucat-pucat menggiring sepeda mereka. Yang cowok marah luar biasa, menurut dia itu sangat tidak bertanggung jawab, sangat sembrono, ceroboh dan gila. Bagaimanapun waktu itu kami kan satu kelompok yang dikasih amanah ber-KKN di desa itu, sempat terjadi kecelakaan konyol yang dibuat-buat seperti itu. Iyalah titian kayu itu kuat, kalo tidak? Mau jadi apa tuh muka yang sebiji aja itu? Marahnya gak tertahan-tahan, walaupun Upik sudah membujuk mereka untuk ga marah tapi kayaknya ga berhasil. Mereka sangat syok dan jantungan lihat adegan bersepeda si Upik konyol ini. Sepertinyapun orang-orang desa trans itu juga kalo diperhatikan ga ada yang nekat tetap berada di atas sepeda, mereka dengan sabar menuntun sepeda atau sepeda motor untuk turun dan menyeberang. (hahaha.memang pas nyampe posko, hampir semua orang memarahi si Upik yang tersenyum-senyum geli melihat orang-orang yang pada jengkel pas diceritain anak-anak). Akhirnya tujuan mereka untuk melihat sungai Batanghari di pinggiran desa itu tercapai juga dengan kayuhan stress sepeda-sepeda itu. Sungai Batanghari membatasi Sitiung yang di perbatasan Sumbar dengan Jambi. Kata penduduk desa ini, sungai ini menjadi tempat yang sangat strategis untuk menyelundupkan hasil tebangan kayu yang di hutan seputaran tempat itu. Ketika pagi yang masih berkabut dipinggiran jurang di tebing pinggir Sungai itu, matahari muncul di tengah rimbunan pohon di sisi sungai yang disebelahnya. Hutan yang masih dilingkupi kabut itu sedikit-demi sedikit memancarkan semburat cahaya dibalik pepohonannya. Sungguh sangat indah dipandang mata, apalagi cuaca yang sedikit sejuk dipinggiran tebing sungai yang terjal itu. Kami berlima sama-sama terpana dengan keindahan alam Sungai Batanghari itu. Sepertinya tidak akan terlupakan hingga nanti. Suasana desa terpencil yang dihuni oleh transmigran dari Kediri Jawa Timur. Mereka dipindahkan kesana karena pembangunan Waduk Gajah Mungkur yang harus merilahkan tanah leluhur mereka dikeruk untuk kepentingan umum. Sungguh mulia orang-orang desa sederhana itu, namun Allah Maha Mengetahui sehingga sebagian besar mereka boleh dibilang hidup makmur di daerah Sitiung tersebut. Hasil kebun karet dan tanaman palawija yang lainnya cukup berhasil memakmurkan perekonomian mereka di daerah transmigrasi ini. Tapi yang sangat ironisnya Upik menemukan satu desa yang berpenduduk orang Minang asli yang telah turun temurun di ujung lain dari desa ini. Kehidupan penduduk desa yang hampir semuanya orang Minang asli ini sungguh jauh dari yang namanya sejahtera. Ketika Upik melintas dengan kawan-kawannya di jalan tanah desa yang berlobang-lobang besar seperti kubangan kerbau itu, mereka melihat anak-anak kecil yang bertelanjang mengikuti ibunya yang menyeret-nyeret kambing peliharaan. Sepertinya mereka habis mandi di sungai yang berada di pinggiran desa itu. Melihat dari perbedaan kondisi desa yang sangat cukup jauh itu, kami jadi bertanya-tanya, kok sampai segitu berbedanya kehidupan antara para orang transmigrasi dengan orang-orang desa ini yang hanya dibatasi jarak tidak lebih dari sekilo perjalanan ini? Yang sangat berbeda sekali adalah kehidupan di bidang kebersihannya dimana sebagian besar di rumah transmigran yang kami temui, mereka sudah punya kamar mandi sendiri di dalam rumah yang memakai pompa listrik. Akan tetapi di rumah penduduk desa ini sepertinya hampir semua orang memakai sungai untuk hampir semua keperluan air bersihnya. Yang paling memprihatinkan adalah entah itu keterbelakangan atau semacam itu, ungkapan dari orang Minang sendiri yang telah bekeluarga dengan warga transmigrasi menyatakan jika para warga trans sangat tidak memercayai warga Minang dari desa yang terpencil itu. Sebab sering sekali kedapatan warga disana maling baik itu di desanya ataupun di wilayah trans itu. Ternyata si padang pancilok itu jadi terlihat jelas di wilayah ini. Ini sangat meresahkan hati kami sekelompok, bagaimanapun kami di kelompok itu adalah orang Minang asli. Apalagi kami tidak enak hati atas perlakuan warga transmigrasi yang seringnya tanpa pamrih memberikan banyak fasilitas ke kami sekelompok itu. Terlihat kebersihan hati mereka yang bersahaja namun hampir kesemuanya profil para pekerja keras sehingga mereka bisa menikmati hidup yang layak walaupun jauh dari negeri leluhur mereka sendiri. Batam, Jun 28th, 2010 (hu..hu..hu..hu.. jadi kepingin bersepeda lagi........) -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
