Alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu, Angku Ridwan M Sirin sarato Rang Lapau nan Basamo,
Sanang MakNgah mambaco statistik Jemaah Haji tiok tahun dengan banyaknyo partisipasi dari Guru. Tampak di ambo kesadaran Taqwa dan Ibadah, perhatian Dunia dan Akhirat serta penyerahan diri kepada Ilahi Rabbi tampaknya tinggi di kalangan Guru. Nah, patokan bahwa tingginya kesadaran menunaikan Ibadah Haji ini dengan didasarkan dan dihitung dari gaji mereka saja barangkali perlu dipertimbangkan. Perlu unsur-unsur dan variabel lain untuk diperhitungkan. Pergi menunaikan Ibadah Haji seperti kita maklumi bersama adalah Ibadah yang disyaratkan Sekali Seumur Hidup. Setiap Muslim berniat untuk melakukannya kalau dapat diizinkan Allah baik kesehatan maupun keuangan. Karena ini adalah kejadian sekali seumur hidup para Guru, dengan penuh niat kesadaran dan keinsyafan tinggi, mungkin telah mengumpulkan sumber-sumber pribadi lain menabung seumur hidupnya untuk membekali anggaran kejemahaan itu. Point Makangah, kemungkinan perbelanjaan untuk Jemaah itu bagi Guru denqan kesadaran tinggi untuk menunaikannya mungkin bukanlah semata-mata dari Gaji mereka saja. Dari segi lain, dengan patokan lain, adakah data atau statistik siapa-siapa atau profesi mana yang sibuk belanja ke Singapura, Hongkong dsbnya? Berapa persen kah -- kalau ada -- di antara Guru? Atau, lebih dekat lagi, golongan-golongan mana yang dapoat keuntungan (benefit) samping dari profesi mereka seperti dapat tiket gratis untuk perjalanan atau penerbangan mereka? Atau, adakah orang misalnya memperhatikan melihat kiri kanan dalam dunia kecil saja, di bawah hidung setiap hari atau setiap weekend, misalnya dalam Kereta Api Kelas Satu antara Jakarta dan Bandung saja? Siapa-siapakah penumpangnya? Anak-anak dan famili siapakah yang hilir mudik gratis karena ayah atau karib mereka mendapat fasilitas tiket gratis untuk itu? Berapa persenkah -- kalau ada -- di antara para Guru? Balik lagi sedikit kepada Jemaah Haji. Adakah statistik di Jedah, golongan mana yang dapat "Haji Perai" atu "Haji Gratis" seperti yang pernah dialami dan diceritakan oleh A. A. Navis? Navis dibayar secara instan -- tanpa rencana panjang, apalagi menyimpan uang ataupun menggunakan gajinya -- untuk naik haji dan menulis buku pengalaman perjalanan kehajiannya. Tentunya dia berbahagia (walaupun tidak terniat, malahan terperanjat waktu ditawarkan itu) dapat menunaikan Ibadah Hajinya untuk akhirat dengan serta merta dia juga dapat keuntungan finansial di dunia fana. Salam, --MakNgah Sjamsir Sjarif --- In [email protected], ridwan m sirin <ridwan_mah...@...> wrote: > > Assalamua'laikum mamanda Syansir, > > Setahu ambo mak...tiok tahun basuo jama'ah haji dari kota kelahiran ambo > Padang Panjang > presentase jamaah ko nan guru paliang banyak 5%..salabiahnyo pedagang dari > pasa. > > Tapi beda komposisi barubah drastis jo jama'ah haji thn.2009..60% adolah guru > PNS.. > Dari carito kawan-kawan dikampuang..nan paliang elok kesejahteraan PNS kini > ko adolah guru. > > Di Jakarta tampek anak ambo sakola..lapangan parkir untuak guru dan pegawai > salaweh lapangan > bola..iko panuah jo oto pak guru dan bu guru. > > Kalau maraso masih merana dek kakurangan juo dan minta disamokan jo PNS > lain..antah kama kadicari pitih.. > Pambaia bungo utang sajo alah abih 30% dari APBN (add. Riri tolong koreksi > uda yo kalau salah). > > Jadi mak..kasejahteraan ko iyo hrs bertahap lah.. > > kamanakan dari Arab, > > Ridwan M Sirin > > ________________________________ > From: sjamsir_sjarif <hamboc...@...> > To: [email protected] > Sent: Tue, June 29, 2010 9:05:57 AM > Subject: [...@ntau-net] Nasib Guru Masih Merana > > > 2010-06-28 > Nasib Guru Masih Merana. Mendiknas: Gaji Guru Belum Akan Dinaikkan > > [JAKARTA] Nasib guru di Indonesia masih merana. Perhatian pemerintah terhadap > kesejahteraan para pendidik anak bangsa tersebut jauh berbeda dibandingkan > perhatian terhadap pegawai negeri sipil (PNS) di Kementerian Keuangan > (Kemkeu), yang gajinya dinaikkan melalui kebijakan reformasi birokrasi. > Kenyataannya, meskipun sudah dinaikkan kesejahteraannya, masih banyak PNS di > Kemkeu, misalnya di Ditjen Pajak, yang memperkaya diri sendiri dengan > terlibat dalam mafia perpajakan. > > ... dst.. > Sumber: Suara Pembaruah > http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=20347 > > --MakNgah -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
