Senin, 10 Maret, Arbain hari ke enam. Sesuai dengan rencana, pagi ini ba'da shubuh saya akan ke Raudah.
Karena khawatir hilang, saya tidak berani membawa sajadah merah berkualitas tinggi oleh-oleh almarhumah Uni Niar, kakak (angkat) saya tertua yang sangat sayang kepada saya, ketika menunaikan ibadah haji, yang biasa dipakai Kur. Karena itu, saya "terpaksa" menggunakan sajadah "sumbangan" pak Menteri Agama. Sebelum berpisah saya mengingatkan Kur agar sehabis shalat shubuh ia tidak usah menunggu saya untuk pulang bersama. Begitu memasuki Masjid, saya memilih saf di ruang terbuka beratap fiber glass paling depan yang berada di belakang sekat yang membatasi bekas bangunan lama hasil renovasi Khalifah Umar bin Abdul Azis yang desain arsitektur, aksesori dan sistem pendinginannya berbeda dengan bangunan hasil perluasan-perluasan sesudahnya yang waktu ini merupakan kesatuan tersendiri. Ketika itu jemaah sudah tidak sepadat ketika kami mulai datang, karena sebagian jemaah sudah pulang kembali ke tanah airnya. Giliran bagi jemaah laki-laki untuk masuk ke Raudah adalah sesudah selesai shalat shubuh sampai saat shalat dhuha. Karena itu seusai shalat saya langsung bersiap-siap. Agar bisa bergerak lincah di Raudah saya meninggalkan sajadah dan sendal saya yang terbungkus plastik di rak sendal yang sudah saya ingat nomornya baik-baik. Kemudian saya melihat kembali denah yang dibuat mas Juliansyah, dan untuk menegaskan orientasi saya, saya bertanya dalam Bahasa Inggris kepada seorang askar yang kebetulan berada di dekat sana, yang langsung menunjukkan tangannya ke arah yang saya perkirakan sebelumnya. Tetapi, tanpa saya duga ternyata saya tidak menuju ke arah yang langsung ke Raudah, tetapi mengikuti jemaah yang hendak berziarah ke makam Rasulullah. Menyadari bahwa saya berada di dekat makam Rasulullah, perasaan haru muncul, lalu saya mengucapkan salam kepada Nabi dan kedua sahabatnya yang dimakamkan di dekat makam beliau dan membaca selawat bagi beliau dengan linamgan air mata. Sebenarnya ada pintu yang menghubungkan lorong yang digunakan jemaah yang menziari makam Rasulullah, yang langsung berhubungan dengan pintu Masjid di sebelah timur, dengan Raudah. Tetapi ketika itu pintu-pintu tersebut tertutup dan dijaga sejumlah askar. Merasa sudah cukup puas dengan menziarahi makam Rasulullah, saya bermaksud untuk pulang dan mencoba untuk masuk ke Raudah nanti siang sesudah shalat dzuhur. Karena itu saya langsung keluar dan masuk lagi ke Masjid melalui pintu belakang, terus ke arah tempat saya meninggalkan sajadah dan sendal sebelumnya, dan betapa kagetnya saya karena tempat tersebut sudah disekat petugas cleaning service untuk dibersihkan. Saya mencoba untuk masuk dari sisi timur yang berbatasan dengan ruang jemaah perempuan, tetapi saya tidak menemukan celah untuk masuk ke tempat tadi. Kemudian saya coba dari sisi Barat dan dari sana saya melihat jemaah berjalan berbondong-bendong di sebelah Barat sekat eks bangunan lama. "O la la, mereka ini pasti menuju Raudah ya," saya berkata dalam hati, lalu membaurkan diri dengan mereka. Benar saja, begitu tiba di Raudah sebagian jemaah langsung shalat sunat dengan berdesak-desakan. Saya mencoba ikut shalat dengan "nyempil" di antara mereka. Tentu saja sukar untuk shalat dengan tuma'ninah dalam kondisi seperti itu. Kemudian saya cari tempat yang agak longgar di pojok belakang dan kembali shalat sunat. Setelah selesai saya bangun karena ada jemaah yang sudah menunggu di belakang. Setelah bangun sambil berjalan saya berdoa bagi anak-anak, handai taulan dan diri sendiri, lalu bergabung dengan jemaah yang bergerak keluar Raudah dan terus keluar Masjid. Setelah tiba di luar saya langsung pulang dengan nyeker karena saya pikir sudah tidak mungkin lagi bagi saya menemukan sajadah dan sendal yang tertinggal di dalam Masjid. Karena dalam latihan Tetada Kalimasada saya sudah terbiasa menggesekkan telapak kaki ke permukaan tempat latihan, saya tidak mengalami masalah yang berarti untuk pulang ke pemondokan tanpa alas kaki. Kur senang, kaget dan geleng-geleng kepala mendengar cerita saya. Demikian pula halnya dengan teman-teman sesama jemaah. Siang itu saya ke Masjid untuk shalat dzuhur dengan menggunakan sendal Kur dan membawa sajadah "sumbangan" Menteri Agama yang satu lagi. Setelah memasuki Masjid dan melakukan shalat tahiyatul masjid saya meneruskan pembacaan Al-Qur'an. Ketika makan siang sehabis shalat ashar. kami tidak makan di RM di basemen Hotel Bahaudin, tetapi di tempat saya makan pertama kali yang terletak di basemen Hotel Andalus di sebelahnya. Waktu kami masuk dari lantai satu kami melihat adanya kesibukan yang luar biasa. Kemudian kami ketahui bahwa jemaah haji asal Malaysia yang menginap di hotel berbintang tersebut sedang bersiap-siap untuk kembali ke tanah airnya. Saya makan dengan gulai ikan patin, sayur dan sambal dan berhasil menghabiskan semuanya. Hari ini adalah hari ulang tahun Kur. Di rumah biasanya dirayakan dengan makan di luar bersama anak-anak, menantu dan cucu-cucu atau menyantuni anak yatim. Saya jarang sekali memberi hadiah dan Kur juga tidak terlalu mempersoalkannya, apalagi sampai memintanya. Tetapi saat ini ia menginginkan sesuatu, tetapi dana kami yang tersisa sudah tidak mencukupi untuk itu. Artinya saya harus menggunakan kartu kredit, suatu hal yang tidak ingin saya lakukan. Saya memang agak berhati-hati, atau mungkin terlalu berhati-hati dalam menggunakan kartu kredit. "Bagaimana kalau setelah pulang ke Indonesia saja nanti," jawab saya sembari menelan air ludah. Ketika saya hendak menjelaskan alasan mengapa saat itu saya tidak ingin menggunakan kartu kredit, Kur langsung menukas: "Sudah, tidak perlu dibahas lagi." Kami kemudian berjalan ke Masjid tanpa berkata-kata. Peristiwa tersebut sangat menekan perasaan saya. Saya memahami keinginan isteri saya untuk memiliki barang yang dibeli di Tanah Suci yang bisa jadi kenang-kenangan selama hidupnya, isteri yang sepanjang kehidupan perkawinan kami tidak banyak mempunyai tuntutan-tuntutan, tetapi di saat dan tempat yang begini istemewa, saya tidak punya kemampuan guna mewujudkan keinginannya. Karena itu, setelah kembali ke Masjid saya lebih banyak duduk termangu-mangu dan tidak mampu membaca Al-Qur'an pada waktu yang biasa saya gunakan untuk itu. Dan saya merasa sangat lega dan bersyukur karena ketika bertemu dengan Kur waktu hendak pulang ke pemondokan, Kur bersikap biasa dan seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. (bersambung) -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
