Rabu 12 Maret, Arbain Hari Kedelapan Hari ini adalah hari terakhir kami melaksanakan shalat-shalat wajib dari shubuh hingga isya secara lengkap dari rangkaian arbain yang kami laksanakan di Masjid Nabawi sejak hari Rabu tanggal 5 Maret yang lalu. Untuk menggenapkan shalat wajib lima waktu yang kami lakukan di sana menjadi 40, besok kami masih akan melakukan shalat shubuh di sana sekali lagi, karena kami memulai arbain hari pertama dengan shalat dzuhur.
Sebagaimana hari-hari sebelumnya, kami berangkat ke Masjid untuk shalat shubuh, kemudian pulang, beristirahat, makan, mandi, berwudhuk dan kembali ke Masjid. Karena sudah lama tidak menelepon ke rumah, dalam perjalanan untuk shalat shubuh di Masjid pagi tadi, Kur menelepon dari sebuah Wartel Internasional menanyakan keadaan anak-anak di rumah dan sekaligus memberitahukan rencana kepulangan kami pada tanggal 15 Maret. Karena masih dalam waktu diskon dan Kur bicara seperlunya saja, kami hanya dikenakan pembayaran sebanyak 4 riyal. Hari ini saya berangkat ke masjid untuk melakukan shalat dzuhur dengan menggunakan payung berwarna biru kepunyaan kami hadiah dari Bank yang tasnya mempunyai kompartemen guna menaruh sandal, yang berhasil diketemukan Kur tadi malam dari tumpukan pakaian kami di dalam koper. Setiba di Masjid dan sehabis melakukan shalat tahiyatul Masjid saya kembali membaca Al-Qur'an sampai waktu dzuhur. Seperti biasa, setelah shalat dzuhur saya beristirahat sembari duduk bersandar di kaki pilar Masjid yang berbentuk segi empat itu. Pak Radjikin yang ketika hendak pulang ke pemondokan rupanya melihat saya, lalu mampir dan duduk di sebelah saya. Pak Radjikin menceritakan bahwa anaknya yang dihubunginya pertelepon memberitahu bahwa Amerika Serikat akan menyerang Irak sehabis musim haji ini. Berbeda dengan hari sebelumnya, sesudah beristirahat sebentar, saya melanjutkan pembacaan Al-Qur'an. Sekembalinya dari makan dengan Kur seusai shalat ashar, saya kembali melanjutkan membaca Al-Qur'an sampai azan maghrib dikumandangkan. Sesuai dengan catatan saya selama tujuh hari ini saya sudah menyelesaikan pembacaan Qalam Illahi tersebut sebanyak 91 halaman atau rata-rata 13 halaman dalam satu hari, suatu hal yang seumur-umur belum pernah saya lakukan. Tetapi itu bukan hanya sekedar bilangan. Sejak hari pertama membaca Al-Qur'an, hari demi hari saya mengalami pemulihan suara, pemulihan kekuatan dan pemulihan selera makan sehingga saya kembali menjadi saya yang "saya", dan bukan saya yang "bukan saya" yang ringkih, loyo, parau, susah menelan air dan kehilangan selera makan seperti yang saya rasakan sejak selesai melakukan thawaf ifadlah. Sekarang ini rasanya saya sudah mampu lagi menghabiskan dua piring nasi dan dua piring sop konro di Jalan Lompobatang Makassar sampai kuahnya kering berikut segelas air jeruk seperti yang biasa saya lakukan setiap bertugas ke Sulawesi Selatan. Atau menghabiskan nasi bungkus munjung RM "Pagi Sore" yang saya beli dengan berjalan kaki dari Hotel Bumi Minang tempat saya menginap di Padang kalau lagi bertugas ke Sumatra Barat. Tetapi yang pulih tidak hanya selera makan saya saja. Seperti diumumkan kemarin di pemondokan, besok jam 8 pagi, kafilah kami akan melakukan "Raudah Wada" atau "Ziarah Wada". Sebelumnya para jemaah dipersilakan ke Raudah sendiri-sendiri sesuai dengan waktu yang disediakan untuk jemaah laki-laki dan jemaah perempuan. Mendengar istilah "Raudah Wada" itu saja, saya sudah "alergi" duluan untuk ikut. Tetapi juga ada "alasan lain". Karena itu dalam perjalanan pulang sehabis shalat isya saya katakan kepada Kur bahwa besok pagi sebaiknya kami tidak usah ke Raudah sendiri-sendiri dan ikut "Raudah Wada" atau "Ziarah Wada", dan sehabis shalat shubuh kami langsung saja pulang ke pemondokan. Mendengar itu Kur diam saja. Kur malah menceritakan bahwa dia sudah khatam Al-Qur'an tadi di Masjid. Kemudian terpikir oleh saya, alangkah egoisnya saya. Hanya karena ingin "berduaan" dengan isteri saya besok pagi, saya sampai hati berusaha mencegah doi melakukan kegiatan peribadatan yang tidak mungkin dilakukannya pada kesempatan lain. Karena itu ketika sehabis makan malam Kur minta izin kepada saya untuk pergi ke Raudah besok pagi dan kemudian mengikuti Acara yang akan diselenggarakan kafilah kami, saya segera menganggukkan kepala. Malahan saya sendiri akhirnya merencanakan untuk kembali berziarah ke makam Rasulullah serta shalat sunat dan berdoa di Raudah ba'da shubuh besok. Kamis, 13 Maret, Menjelang Shubuh Seperti biasa jam 4 pagi kami sudah berangkat ke Masjid Nabawi guna melaksanakan shalat shubuh yang merupakan shalat shubuh kami terakhir di Masjid tersebut. Dalam perjalanan ke Masjid kami kembali mampir ke Wartel untuk menelepon ke rumah guna memberitahukan bahwa kami akan menelepon dari Jeddah kalau ada perubahan jadwal kepulangan kami. Di rumah kebetulan ada Reihan, cucu kami yang berusia tiga tahun, yang lalu diajak ngomong oleh Kur. Ya, bereslah. Kur kaget ketika tagihan telepon mencapai 10 riyal. "Lho, ini kan waktu diskon," ujarnya heran, tetapi lupa berapa lama dia ngobrol dengan cucunya itu. Ketika hendak berpisah di pintu pagar Masjid, kami kembali menegaskan bahwa seusai shalat shubuh kami tidak akan pulang bersama ke pemondokan. Karena siang nanti kami sudah tidak mendapat kiriman nasi boks dari katering, saya bilang kepada Kur agar membeli roti kebab untuk sarapan pagi sepulang dari Masjid. Dengan demikian kiriman makan pagi dari katering bisa digunakan untuk makan siang nanti. Saya lalu masuk melalui pintu utama, terus ke depan dan untuk pertama kali masuk di bagian lama Masjid. Alhamdulillah, saya masih menemukan tempat kosong, dan langsung melakukan shalat tahiyatul masjid. (bersambung) --------------------------- 1) Ketika Ustadz Azis mengunjungi saya ketika terbaring sakit di Makkah, ia menyarankan agar kami menyumbangkan dua buah Al-Qur'an ke Masjidil Haram dan 2 buah lagi ke Masjid Nabawi. Yang di Makkah pembelian dan penyerahannya ke Masjidil Haram dibantu oleh mas Andi. Ketika ada seorang jemaah haji Indonesia melalui Kur berkomentar: "Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia kan kaya, buat apa ikut-ikut menyumbang Al-Qur'an?," saya berkata kepada Kur, "Al-Qur'an adalah fondasi Islam. Walaupun kita hanya orang kebanyakan tidak ada alasan bagi kita untuk tidak ikut menyumbang". -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
