2010/7/9 sjamsir_sjarif <[email protected]>: > Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu, > Wa'alaykumus salaam warahmatullahi wabarakaatuh,
> Baa lah kironyo hubuangan antaro Hadith di ateh jo duo ayat nan takana di > ambo tu? Apokoh salah ambo mamahamkan > hadith tu nan tampaknyo di ambo agak babeda, malahan batantangan jo ayat nan > duo tu? Baa caronyo kito mencerna > dan mampatauikkannyo? > Mak Ngah, dua ayat dalam surat al-Fajr (89.15-16) tersebut menggambarkan pendeknya cara berpikir manusia yang mengaitkan kemuliaan dan kehinaan hanya dengan kesenangan duniawi. Sedangkan hadits tersebut menjelaskan sikap yang semestinya dilakukan oleh orang yang beriman yakni bersyukur ketika memeroleh kesenangan dan bersabar ketika memeroleh mushibah. Mengenai dua ayat tersebut, ketika seorang manusia diberikan kesenangan, dia meganggap baik kedudukannya di sisi Rabb-nya. Sedangkan ketika dia menemui keterbatasan rizqi, dia merasa telah dihinakan Rabb-nya. Hal tersebut dibantah oleh Allah Ta'ala dengan firman-Nya di ayat berikutnya (yang artinya): "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan." (QS. al-Fajr 89.17-20) Allah Ta'ala memberikan harta kepada orang-orang yang Ia cintai (sebagai berkah iman dan taqwa mereka) dan juga kepada orang-orang yang Ia murkai (sebagai ujian dan tipuan). Dapat kita lihat dalam firman-Nya (yang artinya): "Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar." (QS. al-Mu'minuun 23.55-56) Orang-orang yang tertipu dengan kesenangan duniawi mengira bahwa dirinya selamat. "Dan mereka berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab." (QS. Saba' 34.35) Oleh karena itu, dibantahlah sangkaan mereka itu, "Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). Dan orang-orang yang berusaha (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan untuk dapat melemahkan (menggagalkan azab Kami), mereka itu dimasukkan ke dalam azab. Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (QS. Saba; 34.36-39) Allah 'Azza wa Jalla pun mengingatkan orang-orang yang beriman dalam firman-Nya (yang artinya): "Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir." (QS. at-Taubah 9.55) Kini kembali pada hadits tersebut, seseorang yang beriman selalu menjumpai manfaat dalam segala keadaan. Rizqi dan pelbagai kenikmatan yang dia peroleh menjadikannya tambah bersyukur. Syukur yang tidak hanya di lisan, tetapi juga termaktub dalam hati dan terwujud melalui amal shalih sehingga nikmat tersebut meningkatkan imannya. Sedangkan di masa sulit, dia tetap bersabar dan berprasangka baik kepada Rabb-nya, sehingga itu pun menjadi catatan kebaikan bagi dirinya. Semoga Allah Ta'ala menguatkan iman kita dan menjadikan kita orang-orang yang beruntung di segala keadaan baik di dunia maupun di akhirat. Amiin. Allahu Ta'ala a'lam. -- Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim (l. 1400 H/1980 M) -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
