Mudah2an berguna ...
 selamat memperingati isra' mikraj 1431 H

Salam

d...@padank

Menyibak Makna Spiritual Isra' Mi'raj

Oleh Nasaruddin Umar

Peristiwa Isra Mi'raj adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjid 
Haram ke Masjid Aqsha yang sangat dramatik dan fantastik. Dalam tempo 
singkat-kurang dari semalam (minal lail)-tetapi Nabi berhasil menembus 
lapisan-lapisan spiritual yang amat jauh bahkan hingga ke puncak (Sidratil 
Muntaha). 

Walaupun terjadi dalam sekejap, tetapi memori Rasulullah SAW berhasil menyalin 
pengalaman spiritual yang amat padat di sana. Kalau dikumpulkan seluruh hadis 
Isra Mi'raj (baik sahih maupun tidak), maka tidak cukup sehari-semalam untuk 
menceritakannya. Mulai dari perjalanan horizontalnya (ke Masjid Aqsha) sampai 
perjalanan vertikalnya (ke Sidratil Muntaha). Pengalaman dan pemandangan dari 
langit pertama hingga langit ketujuh dan sampai ke puncak Sidratil Muntaha.

Ada pertanyaan yang mengusik. Mengapa Allah SWT memperjalankan hambanya di 
malam hari (lailan), bukan di siang hari (naharan)? "Maha Suci Allah, yang 
telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil 
Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya 
sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha 
Mendengar lagi Maha Melihat." (QS al-Isra [17]: 1).

Dalam bahasa Arab kata lailah mempunyai beberapa makna. Ada makna literal 
berarti malam, lawan dari siang. Ada makna alegoris (majaz) seperti gelap atau 
kegelapan, kesunyian, keheningan, dan kesyahduan; serta ada makna anagogis 
(spiritual) seperti kekhusyukan (khusyu'), kepasrahan (tawakkal), kedekatan 
(taqarrub) kepada Allah.

Dalam syair-syair klasik Arab, ungkapan lailah lebih banyak digunakan makna 
alegoris ketimbang makna literalnya. Seperti ungkapan syair seorang pengantin 
baru: "Ya lalila thul, ya shubhi qif" (wahai malam bertambah panjanglah, wahai 
Subuh berhentilah). Kata lailah di dalam bait itu berarti kesyahduan, 
keindahan, kenikmatan, dan kehangatan; sebagaimana dirasakan oleh para 
pengantin baru yang menyesali pendeknya malam.

Di dalam syair-syair sufistik orang bijak (hukama) juga lebih banyak menekankan 
makna anagogis kata lailah. Para sufi lebih banyak menghabiskan waktu malamnya 
untuk mendaki (taraqqi) menuju Tuhan. Mereka berterima kasih kepada lailah 
(malam) yang selalu menemani kesendirian mereka. Perhatikan ungkapan Imam 
Syafii: Man thalabal ula syahiral layali (barangsiapa yang mendambakan martabat 
utama banyaklah berjaga di waktu malam), bukan sekadar berjaga. Kata al-layali 
di sini berarti keakraban dan kerinduan antara hamba dan Tuhannya.

Arti lailah dalam ayat pertama surah al-Isra di atas menunjukkan makna 
anagogis, yang lebih menekankan aspek kekuatan spiritual malam (the power of 
night). Kekuatan emosional-spiritual malam hari yang dialami Rasulullah, dipicu 
oleh suasana sedih yang sangat mendalam, karena sang istri, Khadijah, dan 
sekaligus pelindungnya telah pergi untuk selama-lamanya. Rasulullah 
memanfaatkan suasana duka di malam hari sebagai kekuatan untuk bermunajat 
kepada Allah SWT.

Kesedihan dan kepasrahan yang begitu memuncak membawa Rasulullah menembus 
batas-batas spiritual tertentu, bahkan sampai pada jenjang puncak yang bernama 
Sidratil Muntaha. Di sanalah Rasulullah di-install (diisi) dengan spirit luar 
biasa sehingga malaikat Jibril sebagai panglima para malaikat juga tidak 
sanggup menembus puncak batas spiritual tersebut.

Kehebatan malam hari juga digambarkan Tuhan di dalam Alquran: "Dan pada 
sebahagian malam hari shalat Tahajudlah kalian sebagai suatu ibadah tambahan 
bagi kalian: mudah-mudahan Tuhan kalian mengangkat kalian ke tempat yang 
terpuji. (QS al-Isra [17]: 79).

"Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka 
memohon ampun (kepada Allah)." (QS al-Dzariyat [51]: 17).

Kata lailah dalam ketiga ayat di atas, mengisyaratkan malam sebagai rahasia 
untuk mencapai ketinggian dan martabat utama di sisi Allah SWT di malam hari.

Ayat pertama (QS al-'Alaq [96]: 1-5) di turunkan di malam hari, ayat-ayat 
tersebut sekaligus menandai pelantikan Muhammad SAW sebagai Nabi di malam hari. 
Tidak lama kemudian turun ayat dalam surah Al-Muddatstsir yang menandai 
pelantikan Nabi Muhammad, sekaligus sebagai Rasul menurut kalangan ulama 
'Ulumul Qur'an.

Peristiwa Isra dan Mi'raj, ketika seorang hamba mencapai puncak maksimum 
(sudrah al-muntaha) juga terjadi di malam hari. Yang tidak kalah pentingnya 
ialah lailah al-qadr khair min alf syahr (malam lailatul qadr lebih mulia dari 
seribu bulan), bukannya siang hari Ramadlan (nahar al-qadr).

Kecerdasan

Surah al-Isra [17] diapit oleh dua surah yang serasi yaitu al-Nahl [16] dan 
al-Kahfi [18]. Surah al-Nahl dianggap simbol kecerdasan intelektual, karena 
berkaitan dengan dunia keilmuan (kisah lebah). Surah al-Kahfi sebagai simbol 
surah kecerdasan spiritual, karena berkaitan dengan cerita keyakinan dan 
spiritualitas (kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa, Ashabul Kahfi dan Dzulqarnain).

Sedangkan surah Al-Isra sering dijadikan sebagai simbol kecerdasan emosional, 
karena di dalamnya diceritakan pengaruh kematangan emosional dan prestasi 
puncak seorang hamba. Itulah sebabnya, ketiga surah yang menempati pertengahan 
juz Alquran disebut dengan surah tiga serangkai, yaitu surah IQ, EQ, SQ.

Keutamaan di malam hari, juga banyak membuat anak manusia menjadi lebih sadar 
(insyaf) dari perbuatan masa lalu yang kelam dan hitam. Malam hari banyak 
menumpahkan air mata tobat para hamba yang menyadari akan kesalahannya. Malam 
hari paling tepat untuk dijadikan momentum menentukan cita-cita luhur.

Mungkin inilah salah satu keistimewaan pondok pesantren yang memanfaatkan malam 
hari untuk memperbaiki akhlak dan budi pekerti santrinya. Sementara di 
sekolah-sekolah umum, jarang sekali memanfaatkan malam hari untuk pembinaan 
budi pekerti. Padahal, Allah sudah mengisyaratkan bahwa pada umumnya shalat itu 
ditempatkan di malam hari. Hanya shalat Zhuhur dan Ashar di siang hari, 
selebihnya di malam hari (shalat Maghrib, Isya, Tahajjud, Witir, Tarawih, Fajr, 
Subuh). Ini isyarat bahwa pendekatan pribadi secara khusus kepada Tuhan lebih 
utama di malam hari.

Sebenarnya peristiwa Isra-Mi'raj mempunyai dua macam peristiwa. Pertama, 
perjalanan horizontal dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha. Dan kedua, perjalanan 
vertikal dari Masjid Aqsha ke Sidratil Muntaha. Perjalanan Isra mungkin masih 
bisa dideteksi dengan sains dan teknologi, tetapi perjalanan Mi'raj sama sekali 
di luar kemampuan otak pikiran manusia.

Perjalanan Mi'raj ini, juga masih diperdebatkan banyak ulama, apakah dengan 
fisik dan roh Rasulullah atau hanya rohaninya saja. Mayoritas ulama Suni 
memahami bahwa yang diperjalankan Tuhan ke Sidratil Muntaha ialah Nabi Muhammad 
SAW secara utuh, lahir dan batin. Sementara pendapat lain memahami hanya 
rohaninya saja.

Yang pasti, perjalanan singkat itu berhasil merekam berbagai pemandangan 
spiritual bagi Rasulullah SAW, dan hendaknya bisa dijadikan pelajaran dan 
hikmah bagi umat Islam. Sebab, perjalanan malam hari itu, telah membangkitkan 
semangat baru Rasulullah dalam menyebarkan dakwah Islam.

Red: irf

Sumber :republika
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke