Rabu, 14 July 2010 http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?mod=detail_berita.php&id=7785
Tak tong-tong Galamai jaguang Ta gunda-gunda ka cambuang basi Daulu balaki ajuang Kini balaki tukang padati Masyarakat Sumatra Barat pasti hafal lirik lagu yang pernah dipopulerkan artis Minang itu. Lagu itu menjadi legenda. Lagu itu dibawakan kelompok paduan suara asal Bandung. Bahkan, mampu jadi juara di Inggris. Tak Tong Tong dan Yamko Rambe Yamko asal Papua mengantarkan Paduan Suara Universitas Parahyangan meraih juara satu pada kompetisi Folksong Choirs pada Llangolen International Musical Eisteddfod di Llangolen, Inggris. Penampilan paduan suara berusia 48 tahun itu yang membawakan kedua lagu tersebut lengkap dengan tarian dan kostum tradisional memukau dewan juri dan penonton. Kepastian Tak Tong-Tong dan Yamko Rambe Yamko jadi juara dikemukakan Councellor KBRI London, Herry Sudrajat. Sebagaiman dikutip Antara, setelah sukses meraih prestasi pada berbagai ajang kompetisi paduan suara internasional sejak 1995, paduan suara yang anggotanya sebagian besar adalah mahasiswa ini yang dipimpin konduktor Paulus H. Yoedianto, juga meraih gelar juara dua kategori Mixed Choirs, juga meraih penghargaan sebagai Professional Choir dan Best Program. Pada kompetisi Folksong Choirs itu, PS Parahyangan mengalahkan Camerata Seattle Children?s Chorus dari AS di posisi kedua dan Canterbury College Cantabile Choir dari Australia yang menjadi juara tiga. Sementara itu, untuk katagori Mixed Choirs, juara pertama diraih University of Santo Thomas Singers dari Philippina, dan juara dua Parahyangan Catholic University Choir dari Indonesia dan juara tiga Linkoping University Mixed Choir dari Swedia. Pada kategori Mixed Choirs, selain mendapatkan gelar Juara II, paduan suara yang anggotanya sebagian besar adalah mahasiswa ini juga meraih penghargaan sebagai Professional Choir dan Best Program. Paulus H. Yoedianto mengatakan, PS Unpar juga mendapatkan kesempatan untuk tampil pada Evening Concert membawakan Janger dari Bali dan Tari Saman dari Aceh di hadapan 4100 penonton. "Sungguh sebuah kesempatan yang sangat langka sekaligus membanggakan karena dapat mempromosikan budaya Indonesia kepada masyarakat Inggris," ujar Paulus H. Yoedianto. Llangollen International Musical Eisteddfod sejak diadakan pertama kali pada tahun 1947 untuk meningkatkan kedamaian dunia melalui musik dan tarian telah menjadi salah satu pesta musik terbesar dunia digelar sejak tanggal lima Juli yang berakhir tanggal 11 Juli. Paulus H. Yoedianto, mengatakan diadakan di tengah keindahan Dee Valley, kompetisi ini menghadirkan suasana bermusik yang unik yang berpusat di Pavillion Stage, sebuah auditorium modern dengan kapasitas penonton lebih dari 4.000. Menurut Paulus H. Yoedianto, kebersamaan melalui musik sungguh-sungguh terasa diantara para peserta maupun penonton sehingga kompetisi ini dinominasikan pada ajang Nobel Peace Prize tahun 2004 dan kompetisi ini telah dianggap sebagai Wales' Gift to the World. (*) -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
