MUJUR...

Namanya hanya satu kata, MUJUR, mungkin dulu orang tua beliau berdoa dan
berharap hidupnya penuh kemujuran. Kami di kampungpun memanggilnya Uncu
Mujur (Mujua). Walaupun sudah dimakan usia, tetapi sisa-sisa kecantikannya
sebagai perempuan jelita di masa muda masih terlihat nyata.

Saya ingat waktu kami kecil dulu, Uncu Mujua adalah orang yang selalu ceria
dan suka bercanda. Beliau tak segan-segan dari jauh bersorak dan menyapa
sambil tertawa-tawa. Padahal usianya jauh diatas ibu-ibu kami semua.
Kadang-kadang dia bernyanyi dengan cuekya sambil mencuci di tepian. Tak
jarang saya dan teman-teman dulu sering menyembunyikan handuknya, jika kami
sedang berenang bersama-sama di danau. Hanya kepada beliau kami berani
berbuat demikian. Beliau dengan gaya yang kocak, sambil memegang basahan,
akan mencari handuknya yang hilang di balik dahan-dahan pohon atau di balik
bebatuan, atau dimana saja kemungkinan kami sembunyikan. Walaupun kami dulu
usil dan jahil, beliau sangat jarang marah. Apabila akhirnya kami minta
maaf, beliau akan membelalakkan matanya besar-besar, tapi diiringi senyumnya
yang lebar.

Ketika usianya sudah mulai uzur, dia kemudian pindah ke rumah anak-laki-laki
dan menantunya. Dalam rumah itu mereka hidup damai dan sederhana. Rumah
berlantai papan yang kebetulan ditinggalkan penghuninya merantau. Walaupun
ditakdirkan punya anak lelaki yang kurang sempurna secara fisik, dan masih
harus menanggung ibunya, yaitu Uncu Mujur, keluarga itu hampir tidak pernah
kami dengar mengeluh. Pekerjaan anak Uncu Mujur dibidang pertukangan
kecil-kecilan dan kegiatan menantunya yang berjualan sayur cukuplah untuk
hidup apa adanya.

Roda kehidupan mereka berubah ketika anak laki-laki Uncu Mujur itu meninggal
beberapa tahun yang lalu,  di usia yang masih separo baya.

Menantu perempuannya tentu tak sanggup lagi mengurus mertua dan anak-anaknya
sekaligus. Mulailah kehidupan uncu Mujur tidak lagi sesuai namanya.
Tapi Uncu Mujur tetap percaya Tuhan memberikan yang termujur untuknya.
 Istri almarhum anaknya sudak kembali ke rumah orang tuanya yang juga serba
kekurangan. Tinggallah uncu Mujur sendiri di rumah tua, dengan mata yang
semakin lama semakin kabur mendekati buta. Hidup dari belas kasihan orang
kampung dan tetangga.

Tapi Uncu Mujur tetaplah uncu mujur yang dulu. Tabah, tidak berkeluh kesah,
dan menerima takdir Tuhan apa adanya. Tidak banyak orang yang peduli dengan
beliau, karena istilah Uncu Mujur sendiri, dia bukan siapa-siapa. Beliau
bukan mantan pejabat yang terhormat ataupun orang kaya yang hartanya
berlipat. Sehingga dia juga tidak memimpikan orang memandang kepadanya
dengan segala hormat.

Saya hanyalah perempuan biasa yang kebetulan bernama 'MUJUR", dan semoga
memang selalu bernasib mujur, begitu selalu komentarnya sambil terenyum
renyah.

Dulu Uncu Mujur juga sering menamakan dirinya sendiri "Bos Mujur", tentu
saja sambil tertawa terbahak-bahak. Kalau sudah begitu nasehatnya kadang
muncul, "Biasakanlah menertawakan diri sendiri, sehingga ketika ada orang
yang menertawakan kita, dada terasa lebih lapang karena kita lebih siap
menerimanya. Dan biasakanlah memafkan orang lain, sehingga kita juga tidak
merasa canggung untuk meminta maaf kalau kita merasa bersalah..."

Salah satu hal lagi yang saya pelajari dari beliau adalah semangat
hidupnya. Ketika suatu kali diberi uang sekedarnya, sambil mengucapkan
terima kasih beliau menyigi uang kertas ditangannya dan bercanda, "Ta,
Itulah enaknya sudah setengah buta, semua lembaran uang bisa uncu lihat
dan uncu anggap seperti lembaran ratusan ribu saja, sehingga uncu merasa
kaya... Alhamdulillah...".

Kemaren saya ketahui Uncu Mujur kembali sakit yang cukup parah juga, mungkin
juga karena faktor usia. Tapi saya harap semangatnya yang dulu tetap
menyala. Semoga cepat sembuh Uncu, kepada Allah kami mendoakan
kesembuhanmu....

Wassalam,

Rita Lukman

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke