Assalamu'alaikum Ww
Dari Kompas babarapo hari nan lewat ,
ambo ambiak dari klipping online
http://pik.kompas.co.id/demo/DetailDemo.cfm?item=1&startrow=1&session=1279611757432
Wassalam
Z Chaniago - Palai Rinuak
Kehidupan
ORANG AWAK GALI KUBANGAN DI RANTAU
Oleh Marthias Dusky Pandoe
Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri awak, namun tetap
cinta ke negeri awak. Pepatah Minang ini tidak lagi dihayati sebagian
besar orang awak yang merantau. Buktinya, jika ada hujan emas di
negeri orang, mereka terapkan hukum alam, di mana ada gula, ke situlah
semut berkerubung. Akibatnya, jangankan mencintai, malah melupakan
kampung.
Beberapa waktu lalu, penulis mengunjungi sentra-sentra perantau
orang awak di kota-kota Pekanbaru, Palembang, Jakarta, dan lain-lain.
Mereka sudah berkembang biak di sana, beranak-bercucu, bermenantu laki-
laki atau perempuan, baik sesama orang awak maupun campur dengan suku
non-Minang Kampung halaman leluhur, hanya kenangan lagi.
Mereka tidak tahu sudut-sudut negerinya, tidak tahu tepian mandi,
tidak tahu pandam perkuran kaumnya, tidak tahu sawah-ladang milik
ulayatnya, batas-batas tanah haknya, dan tidak peduli kepada siapa
diturunkan. Terserahlah siapa yang mau menggarapnya di kampung. Malah
tidak tahu sukunya (clan). Mereka tidak tahu, kawin -dengan sepupu-
tidak boleh. Walau menurut hukum Islam boleh, tetapi sangat janggal
menurut adat Minangkabau. Kawin dengan suku (clan) yang sama, diusir
dari kampung karena hal itu jadi aib keluarga.
Ada anak yang menganggap sukunya sama dengan bapak. Padahal,
menurut sistem matrialineal, suku si anak sama dengan suku ibu. Mereka
tidak tahu atau tidak kenal lagi dengan ninik mamak panji-payungnya
(datuk-penghulu). Tidak tahu wewenang penghulu.
Ini mungkin saja kesalahan kemenakan yang tidak mau kenal dengan
penghulunya, sebaliknya juga mamak yang tidak berkomunikasi dengan
kemenakan di rantau. Hal ini risiko karena sepanjang hari asyik
bergelut dengan perjuangan hidup mencari nafkah.
Wiraswasta
Perantau Minang umumnya berwiraswasta, tidak banyak jadi pegawai
negeri sipil. Di sudut-sudut kota, bahkan sampai ke pedalaman daerah
Nusantara, terdapat warung Padang, untuk mengisi perut orang banyak.
Harga makanannya terjangkau dan cepat saji. Para pedagang kecil kaki
lima merajai tempat-tempat strategis tiap kota.Semua itu menyentuh
kepentingan dan hajat masyarakat banyak.
Di kampung leluhur banyak tanah telantar, tidak digarap. Tenaga
produktif pergi merantau. Logika mereka di rantau, pagi pergi kerja
atau menggalas, sorenya sudah dapat hasil. Bertani di kampung, hari
ini ditanam, baru beberapa bulan panen mendapat hasil. Petani di
kampung sabar menunggu panen walaupun berbulan-bulan.
Di rantau, mereka sudah booking pandam perkuburan. Artinya,
apabila seorang anggota keluarga meninggal, di sanalah dikubur. Langka
meniru almarhum Mahaputra Mr Mohammad Yamin (1902-1962), yang
beramanah jika meninggal minta dikubur di kampung halaman Talawi,
Sawahlunto, di samping makam ayahnya, Usman Bagindo Khatib.
Kecuali beberapa hartawan yang lahir di kampungnya, ada juga yang
minta dikubur seperti amanah Mr Mohammad Yamin itu. Kalau tidak salah,
kuburan ayah Buya Hamka, Dr Abdul Karim Amarullah, yang meninggal di
Jakarta dan dikubur di Karet dipindahkan ke negeri beliau, Sungai
Batang, Maninjau, berupa seonggok tanah saja, dibawa dari Jakarta
dalam sebuah peti kecil.
Untuk tidak merepotkan keluarga yang ditinggal, dewasa ini banyak
orang awak yang meninggal di rantau, dikubur di tempat. Dima tambilang
tahantak, di sinan dikubua (di mana ada tembilang penggali tanah, di
sana jasad dikubur).
Berlawanan dengan pepatah: Sejauh-jauh terbang bangau, kembali ke
kubangan juga. Sejauh-jauh merantau, kembali ke kampung juga. Saat
ini, rupanyamereka sudah "menggali" kubangan di rantau sehingga di
kubangan baru itulah dimakamkan. Tidak terpaut lagi sanubarinya ke
tanah leluhur.
Namun, tak bisa dimungkiri, bukan tidak sedikit mereka terketok
hatinya memberi bantuan untuk sanak-keluarga di kampung, investasi
pembangunan rumah permanen, walaupun rumah itu tidak
berpenghuni.Mereka juga memberi dana pembangunan masjid, surau,
madrasah, atau prasarana lainnya, lebih-lebih pada momen hari raya
Idul Fitri, atau saat negeri ditimpa musibah. Mereka cepat tanggap dan
ringan merogoh kantong memberi bantuan. Miliaran rupiah dikirim dari
rantau.
Pekumpulan perantau satu kampung (paguyupan) masih bertahan.
Seluruh warga asal satu kampung, walau lahir di rantau, ataupun
sudah "kawin campuran" dengan orang non-Minang, hari raya Idul Fitri
dijadikan ajang pertemuan sekali setahun. Ada pula yang membentuk
arisan sebagai forum bersua (rendevous) sekali sebulan. Kesempatan itu
dimanfaatkan untuk mempererat hubungan silaturahim.
Marthias Dusky Pandoe
Wartawan Senior di Padang
Foto: 1
Kompas/Agus Susanto
Banyak warga minang yang merantau. Di perantauan umumnya mereka
berwiraswasta, dan tidak banyak yang menjadi pegawai negeri sipil.
Karena banyak yang merantau itulah, tanah leluhur telantar.
Sejumlah pekerja sedang merapikan pagar bagian luar dalam pembangunan
kembali replika Istana Pagaruyung di Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten
Tanah Datar, Sumatera Barat, pertengahan Oktober 2009.
--
Z Chaniago - Palai Rinuak
Alam Minangkabau semakin memukau oleh kemilau Danau Maninjau .
Sayangi Danau Maninjau -
--
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.