Rabu, 21 Juli 2010 Dalam beberapa hari belakangan, sejumlah ibu miskin dan anaknya datang ke Singgalang. Hal serupa terjadi pula pada hari-hari sebelumnya. Peristiwa yang sama terulang setiap tahun. Mereka datang membawa air mata. Anak-anaknya yang cerdas bukan buatan itu, diterima di perguruan tinggi, tapi uang tak punya.
Menetes air mata saya melihat kondisi mereka. Naik darah saya karena pemerintah bersipekak melihat fenomena memiriskan ini. Ingin saya naik ke tower tinggi dan berteriak meminta pemerintah agar sudilah kiranya membantu anak-anak tak berpunya. Ditulis di Singgalang besar-besar, tapi pemerintah diam membisu. Yang datang memberikan bantuan adalah para dermawan. Berkat rahmat Tuhan, anak-anak itu bisa kuliah. Sekarang beban yang sama datang lagi. Beberapa dermawan telah datang pula membantu. Pemerintah masih saja diam. Padahal Sumatra Barat punya Yayasan Pendidikan Sumbar dengan dana abadi Rp500 miliar, sumbangan PT Rajawali beberapa tahun silam. Betapa lambannya pemerintah bergerak. Saya sungguh geram. Entah saya yang rapuh, entah wartawan Singgalang yang juga rapuh, kami tersedu setelah mewawancarai anak-anak miskin itu. Kami di redaksi diam-diam sering meneteskan air mata, saat menulis kisah orang-orang yang kami wawancarai. Betapa tidak, ada anak yang cerdas, lugu, bahkan terkesan kampungan. Datang ditemani ibunya yang sama lugunya. Mereka tak datang ke kantor pemerintah yang mentereng, tapi ke redaksi suratkabar kami. Singgalang mereka percaya bisa menyampaikan harapan mereka kepada pembaca yang budiman. Kepercayaan itu, amatlah tinggi nilainya. Kami tatap anak-anak itu, tatkala kami - Singgalang dan Dompet Dhuafa Singgalang - serahkan uang berjuta-juta dari para dermawan untuk mereka. Langsung saja, anak beranak itu merah matanya. Mereka terharu. Yang dicari bersua sudah yang dijemput sudah terbawa. Jika kami menulis anak miskin atau seseorang yang sakit parah dan tak ada uang untuk berobat, ada-ada saja dermawan yang menelepon, mengirim uang via rekening atau datang mengantar langsung. Kami menaruh rasa hormat yang tinggi pada Hamba Allah yang semacam itu. Mereka membagi rezekinya dengan orang lain yang tak berpunya. Kami menaruh hormat pada Maigus Nasir pengelola Bazda Padang. Tiap saya telepon, "Ustad, ada anak kita butuh bantuan ia mau kuliah," kata saya pada Maigus lewat telepon berkali-kali. "Suruh cepat ke sini Pak, kita bantu anak itu," katanya. Saya menaruh hormat pada Rektor Unand, Musliar Kasim. "Tak ada anak miskin yang tak bisa kuliah di Unand, asal lulus, pasti kami terima. Besok antar atau suruh ia menghadap PR I," katanya. PR I Unand, Febrian sama eloknya dengan rektornya. Hal itu, saya buktikan berkali-kali. Saya hormat pada Rektor UNP Mawardi Effendi. "Anak miskin itu, anak-anak kita Pak Khairul, saya carikan bea siswa," kata beliau. Saya hormat pada beberapa bupati yang cepat tanggap. Misalnya Bupati Tanah Datar, Shadiq Pasadigoe. "Anak awak mah, nan miskin-miskin itu, Pemkab Tanah Datar pasti membantu anak-anak Tanah Datar yang miskin," katanya tatkala padanya saya sampaikan, ada anak Tanah Datar yang memerlukan bantuan. Saya respek pada Kepala Dinas Pendidikan Pesisir Selatan, Dian Wijaya yang bergegas mengangguk ketika padanya saya sampaikan anak ada Pesisir Selatan perlu bantuan dana pendidikan. Hari ini kami menyiarkan lagi beberapa anak miskin yang sangat memerlukan bantuan Anda semua. Ada yang sudah menggadaikan motor kakaknya, ada yang bekerja di rumah makan. Ada yang ibunya tukang cuci dan ada jual lontong. Banyak yang yatim, sedang ibunya sakit-sakitan. Tak tega saya melihat mereka menatap kosong, seolah masa depannya sedang hampa. Tak tega saya melihat anak-anak itu - apalagi yang perempuan - berusaha menahan tangis sedihnya. Hari ini saya menggugat Pemerintah Sumbar. Jika Yayasan Pendidikan Sumbar dengan bajibun pengurus yang pintar-pintar itu, tak bisa dikelola, bawa ke sini, ke Singgalang, biar kami kelola. Uangnya pegang sama Bapak, bantuannya Dompet Dhuafa Singgalang yang menyalurkan. Mudah-mudahan Tuhan menyelamatkan anak-anak miskin di Ranah Minang, membukakan jalan bagi mereka menuju jenjang pendidikan yang lebih baik. Tuhan tolonglah mereka. Amin. (*) http://www.hariansinggalang.co.id/media.php?module=detailberita&id=61 -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
