Kamis, 29 Juli 2010 RILI KE UNDAP, JOKO KE MULAWARMAN - derita Anak Yatim Mau Kuliah
GUSLIYANTI dan PUTRI VADISSA PADANG - Dua remaja, anak-anak kita, mengantarkan ceritanya yang gontai untuk pembaca sekalian. Pertama Afrili Suyari, alumni SMA Negeri Cendekia, Kabupaten Agam 2010 datang bersama ibunya. Ia mau kuliah dan diterima di Universitas Padjadjaran Bandung (Unpad). Kedua Ferjoko, 20, pada jurusan Hubungan Internasional, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur. Kami para awak redaksi, berharap bisa lekas membantu tunas bangsa ini. Namun apa daya, kecepatan itu, tergantung pada kemurahan hati para dermawan. Semoga Allah menyayangi dan memurahkan rezeki kita semua. Rili Rosmanida, 55, menemani anaknya ke Singgalang, Rabu (28/7). Anak gadisnya Afrili Suyari akrab disapa Rili ini menceritakan kecemasannya, tak bisa mendaftar ulang pada jurusan Psikologi, Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, karena tak ada biaya sejumlah Rp6 juta. Rili, alumni SMPN 34 Padang ini lulus pada jurusan Psikologi, ilmu yang selama ini ia idam-idamkan untuk dipelajarinya. Ia lulus melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri Nasional (SNMPTN). Jurusan yang sama ada di Universitas Sumatra Utara (USU) Medan, Universitas Andalas (Unand) dan Unpad. Namun ia lebih memilih Unpad karena biaya masuknya lebih murah dibandingkan dua perguruan tinggi lainya itu, seperti di Unand untuk jurusan psikologi, uang pangkal pendidikan jurusan ini berjumlah Rp12,5 juta. Meski Unpad hanya menetapkan biaya Rp6 juta untuk uang pangkal, namun ia dan keluarga tetap kesulitan mencari uang sebanyak itu. Ibunya, Rosmanida hanyalah seorang janda yang sehari-hari pedagang kaki lima. Rosmanida setiap hari harus menjual aneka mainan di depan SDN 11 Lubuk Buayo. Dengan kaki yang sudah menderita penyakit rematik, ia tetap harus menjajakan daganganya itu. “Kaki saya sudah susah untuk dibawa berjalan. Kalau sudah duduk, untuk jalan kembali, mesti dipapah dulu,” ujar wanita janda ini. “Sementara ayahnya, sudah meninggal dunia sejak Rili usia lima tahun. Ayahnya Rili,” ujar Rosmanida, jujur saja, memang seorang PNS golongan 1 B. Setiap bulan untuk biaya hidupnya beserta dua saudaranya yang lain sudah ditanggung dengan uang pensiun ayah mereka sejumlah Rp933.000. “Tapi untuk biaya sekolah ini, kemana harus saya cari,” katanya. Di sekolahnya, SMAN Cendekia, Rili tergolong siswa yang pintar. Ia bercita-cita ingin menjadi orang yang lebih baik dengan cara menjadi seorang psikolog dan membantu sesama, disamping tetap mensyukuri apa yang ada. “saya tidak minta yang muluk-muluk, saya hanya berharap dapat melanjutkan pendidikan meskipun ada halangan ekonomi,” katanya. Rili berkesempatan menempuh pendidikan di SMAN Cendekia Agam karena ia murid berprestasi di SMPN 34 Padang. Atas prestasinya itu, Rili yang tinggal dengan orang tuanya ini di Pratama I Blok C nomor 23 Lubuk Buaya tersebut, berhasil menyisihkan peserta tes lainya masuk sekolah di SMAN Cendekia. Rili berhasil menyelesaikan pendidikan di SMAN Cendekia dengan nem terbilang bagus, sejumlah 47,25. Kini yang ia pikirkan dan cemaskan, apakah pada 3 Agustus mendatang, batas waktu registrasi ulang bagi calon mahasiswa yang lulus di Unpad, dapat ia penuhi. Pada 3 Agustus 2010 itu, ia sudah harus membawa selembar kertas kwitansi dari Bank sebagai bukti sudah membayar uang masuk jurusan psikologi sejumlah Rp6 juta. Joko Sebenarnya dia sangat bangga, tapi hatinya galau di tengah kelelahan fisiknya. Ferjoko, 20, lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2010 pada jurusan Hubungan Internasional, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur. Namun ia tidak punya biaya. Karena itulah ia datang ke Redaksi Harian Singgalang, Rabu (28/7) menyampaikan kegalauan dan berkeluh kesah atashal ia hadapi. Terlahir dari keluarga dan serba kekurangan, Ferjoko —akrab disapa Joko — selama ini ia tidak pernah menyesali apa yang dihadapinya. Anak keempat dari enam bersaudara ini mengatakan selalu berusaha untuk membantu ibunya yang sudah menjadi single parent sejak ayahnya meninggal pada 2007 akibat penyakit parur-paru. Tidak berhenti di sana, saudara-saudaranya pun membutuhkan kerja keras Joko untuk biaya sekolah dan mempertahankan hidup sehari-hari. “Semua pekerjaan sudah saya lakoni untuk membantu ibu dan kakak-adik saya. Mulai dari ngamen, jual kue, cuci pakaian, kerja di bengkel, hingga jadi garin dan guru ngaji di masjid,” ungkap Joko. Walau hidup susah, Joko mengaku selalu bersyukur, sekalipun waktunya banyak dihabiskan untuk bekerja. Joko masih diizinkan untuk bersekolah di SMA PGRI 6, Jati, Padang, tamat 2009 lalu. Namun setelah tamat, Joko mengaku harus pasrah memendam hasratnya untuk kuliah. Sebab keuangan keluarga sangat memprihatinkan, dan kedua adik Joko butuhkan biaya pendidikan pula. Tidak hanya itu, kedua saudara perempuannya membutuhkan biaya untuk menikah. “Keinginan kuliah sangat besar, tapi tidak bisa karena harus cari uang untuk biaya sekolah adik dan biaya nikah kakak”, kenang Joko pilu. Setelah bekerja satu tahun, Joko kembali membuka lembaran impian yang sempat tertunda. Pada 2010, dengan bermodalkan uang pemberiaan tetangga, Joko membeli formulir SNMPTN seharga Rp150 ribu. Joko juga merental (sewa) buku-buku soal ujian kepada temannya untuk mempersiapkan diri. “Rentalnya Rp1.000 per jam,” kenangnya. Upayanya berhasil untuk menggapai cita-cita jadi seorang duta besar, namun kini terbentur biaya. Si yatim yang tinggal di Perumahan Villa Mega B7 No 20, Mata Air, Padang Selatan ini kini semakin galau. Tidak tau lagi cara untuk mendapatkan uang biaya pendaftaran kuliah yang semakin mendekati deadline. “Pendaftaran mahasiswa baru di Universitas Mulawarman berakhir 16 Agustus mendatang. Kalau tidak mendaftar, keinginan untuk kuliah hangus sudah,” kata Joko dengan raut muka sedih. Joko menjelaskan biaya yang diperlukan saat ini sekitar Rp5 juta, terdiri uang masuk Rp3 juta, uang SPP Rp610 ribu dan biaya transportasi ke Samarinda. Adakah yang peduli? (*) http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=243 -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
