Bung Riri, dan bung-bung yang lainnya, Orang Mentawai memang sudah lama mengimpikan hendak membentuk provinsi sendiri bersama dengan sanak mereka yang di utara, Nias, dan di selatan, Enggano, menjadi Provinsi Kepulauan Barat Sumatera, atau apapun nama yang mereka berikan nanti. Faktor pendorongnya, jelas. Pertama faktor geografis. Kedua faktor etnis. Ketiga faktor agama. Ke empat faktor sosial-budaya. Dan kelima faktor tingkat perkembangan, dll. Mereka, bagaimanapun, tidak bisa, dan tidak mungkin, memasukkan pulau Simeulue dll di utara di perairan Aceh, karena faktor agama di samping latar belakang etnis. Dari sekian faktor itu ada yang given, ada yang mendasar, yang karena itu mereka sukar untuk bergabung dengan tanah tepi, Sumbar, seperti selama ini. Yang mendasar itu adalah etnisitas dan agama, karenanya juga kultural. Mereka sejauh ini sudah berhasil menguasai kesatuan politis pemerintahan, dengan terpisahnya Mentawai dari Kabupaten Pd Pr. dan menguasai birokrasi pemerintahan kabupaten dengan Bupati sampai ke bawahnya berada di tangan mereka. Posisi-posisi yang tadinya berada di tangan non-kristiani, yakni Muslim, baik asli maupun pendatang tanah tepi, praktis di semua bidang apapun, sekarang sudah tergantikan oleh mereka, atau sederhananya mereka gantikan. Faktor etnisitas semata tidak menjadi soal, karena mereka juga sudah ada yang muslim, walau minoritas. Faktor utama dari semua-semua itu ialah faktor agama. Seperti juga dengan semua etnik-etnik terbelakang dan termarjinalkan di manapun di Indonesia selama ini, mereka menjadi sasaran utama upaya pengkristenan, sehingga seif sudah untuk mengatakan bahwa agama baru mereka sesudah animisme sebelumnya, adalah Kristen. Melalui pengkristenan inilah mereka relatif cepat melonjak menjadi kelompok yang tercerahkan, seperti yang kita lihat dengan suku-suku Batak, Menado, Toraja, Ambon, dsb. Jalur pencerahan yang mereka pakai tidak lain dari pensekolahan, yang berarti pencerdasan. Kecuali sekolah-sekolah yang ada di Mentawai sendiri, tidak sedikit dari anak-anak Mentawai yang sekarang bersekolah di Padang, di Jakarta dan bahkan yang disekolahkan ke Eropah dan Amerika, terutama melalui jalur gereja. Untuk dekade-dekade awal abad ke 21 ini kita akan menyaksikan perubahan-perubahan yang cukup berarti yang dialami oleh orang Mentawai seperti halnya orang Batak dan Nias di bidang pendidikan dan pencerahan ini. Sekarang kaitannya dengan Tanah Tepi. Yang praktis tidak ada selama ini bagi orang Mentawai terhadap suku Minang adalah empati. Yang ada bahkan antipati. Lagi-lagi karena faktor agama. Usaha gereja terutama adalah untuk memisahkan antara kedua etnik ini karena sebab yang segera bisa dipahami. Orang Mentawai menyebut "saraina" (seibu, sesama awak) dengan sesama kelompok etnisnya, tetapi menyebut "sasareu" kepada suku Minang, yang artinya "orang lain, orang asing" dengan konotasi yang kurang bersahabat. Orang Minang dalam pandangan mereka selama ini adalah yang datang menguasai, mengambil punya mereka. Pada hal yang menguras hutan mereka, dan laut mereka, adalah perusahaan-perusahaan multi nasional dari Inggeris, Eropah, dan Cina, baik yang langsung dari daratan Tiongkok maupun yang bermukim di negara-negara satelit Asia Tenggara. Sebelum perang yang membawa Kristen ke Mentawai adalah misi-misi gereja dari Eropah, terutama dari Jerman, Belanda, Perancis dan Itali. Sebelah utara, khususnya Siberut, yang dominan Katolik, ke selatan Protestan. Sekarang peranan misionaris dari Eropah telah banyak digantikan oleh Batak, sehingga kiblat mereka juga sudah banyak beralih ke Tapanuli. Kebanyakan pendeta dan pastor sekarang datang dari Tapanuli, kendati jalur pusar-pusar bantuan keuangan dan logistik lainnya tetap dari Eropah dan sekarang juga Amerika. Misi kelompok dakwah Islam sendiri juga bukan tidak ada. Ada. Bahkan pra masa Bupati yang pendeta sekarang ini kegiatan misi dakwah Islam cukup signifikan. Ada misi dakwah dari DDII di mana Buya Mas'ud pernah aktif menggerakkannya untuk masa yang cukup panjang. Lalu dari Hidayatullah yang berpusat di Kalimantan Timur, yang gebrakannya cukup berhasil, dengan mereka membangun sekolah-sekolah berasrama di Mentawai. Sebelumnya juga ada kegiatan Wanita Islam yang sekarang kelihatannya agak menurun. Mereka juga membuka sekolah-sekolah, terutama TK dan SD. Provinsi Kepulauan Barat Sumatera, bukan Provinsi Mentawai, kayaknya, bagi mereka, adalah sebuah keniscayaan, yang hanya tinggal menunggu waktu dan pesiapan. Kita yang secara bernegara menganut falsafah Pancasila dengan lambang Bhinneka Tunggal Ika, apalagi dengan prinsip dan aturan main demokrasi yang juga kita anut secara patuh, yang dasarnya adalah fox populi fox dei, coba saya balikkan kepada bung Riri dan bung-bung yang lainnya di RN ini, langkah-langkah apa yang bisa kita lakukan, atau harapkan, untuk menumbuhkan alternatif lain kecuali yang mereka inginkan itu. Modal utama mereka adalah karena faktor-faktor yang saya sebutkan itu. Mari kita berbagi pikiran dalam hal ini. Mochtar Naim 29/07/10
--- On Wed, 7/28/10, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: Re: PROVINSI MANTAWAI..?, KALAU IYO..., A PANGANA AWAK??? HE HE HEEE...=====>Re: Bls: [...@ntau-net] Hoyak-hoyak Gampo, 4.8SR, Mentawai, Rabu, Jul 28, 2010 pk 05:09:25 Sore WIB To: [email protected] Date: Wednesday, July 28, 2010, 7:50 PM Kalau diliek dari PP78/2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Daereh, rasonyo alun mungkin untuak menjadikan Mentawai jadi provinsi tersendiri. Perbedaan etnis tidak termasuk kriteria pemekaran. Kepri bisa jadi provinsi terpisah dari Riau karena skor nya tinggi untuk Persyaratan Teknis, terutama dari faktor kemampuan ekonomi dan faktor potensi daerah. Riri Bekasi, l, 48 Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: Anzori <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 28 Jul 2010 19:06:17 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: PROVINSI MANTAWAI..?, KALAU IYO..., A PANGANA AWAK??? HE HE HEEE...=====>Re: Bls: [...@ntau-net] Hoyak-hoyak Gampo, 4.8SR, Mentawai, Rabu, Jul 28, 2010 pk 05:09:25 Sore WIB ass..ww Memang sebaiknya Mentawai/jadi propinsi seperti Riau Kepulauan. Mereka mau disebut/urang minang indsk cocok. Kasihan kalau dipaksa jberbudaya minang terrus. Kalau jadi provinsi padti akan lebih maju dari sumbar mungkin sekale Nanti tahun 2100 -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
