Assalaamu'alaikum dunsanak kasado alahe, Sanang bana hati kami menjadi tamu kehormatan bermalam di Sulik Aie dengan tuan dan nyonya rumah yang tak asing lagi: Datuk Rainal Rais dan Rangkayo Yulmatri.
Dari penuturan tuan dan nyonya rumah yang menjamu kami dirumah berdisain rumah gadang yang asri, serta peninjauan dilapangan yang diguide langsung oleh beliau, kami dapat berkesimpulan bahwa kemajuan Nagari Sulik Aie adalah berkat sinergi yang erat antara kepedulian rantau dengan anak nagari. Sehingga melahirkan Sulik Air yang makmur gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerto raharjo. Perjalanan menanjak terjal dan menurun lembah menyuruni perkampungan yang biasa biasa saja, akhirnya membawa kami kepada perkampungan bak kota antah berantah, serasa memasuki kota San Francisco miniatuR. Ada "golden bRidge" jembatan bagonjong yang disebut juga "jembatan cinta". Dimana dijaman dulu mamak mencari jodoh untuk kemenakannya, dengan mlihat para pemuda dan pemudi melintasi jembatan datang dan pergi ke masjid Raya. Avanza kami melintasi perbukitan yang sempit dengan berbagai ukuran rumah gedung bertingkat dan bergonjong, membawa kami ke bukit Gando dimana rumah peristirahatan Dt Rainal Rais berada. Setelah terlelap kekenyangan dengan melahap gulai hitam yang nyamnyam, pengajian menjelang subuh membangunkan. Pulang subuh dari masjid Raya, telah terhidang katan jo pisang goreng. Alun sempat sarapan awal tu maluncua, datang pulo sate Mak Din nan kami pikia labih lamak dari SMS. Setelah petualangan kuliner malam dan pagi hari, dilanjutkan dengan petualangan wisata, mendaki Jonjang Saribu yang hanya sanggup kami daki separuhnya sampaoi Batu Taonggok. Disitu saja sudah terhampar pemandangan yang aduhai indahnya, sawah menguning dan gunung perbukitan yang indah. "Sesungguhnya kami ciptakan langit dan bumi, kami pergantikan siang dengan malam, tentulah itu menjadi tanda kebesaran ilahi bagi orang yang berfikir" (Al-Ayah). Terimakasih Dt Rainal dan Rangkayo Yulmatri yang telah melayani kami bak rajo rajo. -- Wassalaamu'alaikum Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta), gelar Bagindo, suku Mandahiliang, lahir 17 Agustus 1947. Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau: Deli, Jakarta, sekarang Sterling, Virginia-USA ------------------------------------------------------------ "menjadi bagian dari sapu lidi, akan lebih bermanfaat dari pada menjadi sebatang lidi" -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
