Assalamu'alaikum wr.wb

Mamanda Armen dan Bapak, Ibu nan di Palanta..

Salam kenal sasamo urang mudiak Mak, ambo barasa dari Jorong Katinggian, 
Danguang-danguang.
Ambo pribadi sangat tertarik soal biogas ko Mak. Urang gaek di rumah lai ado 
bataranak bantiang (jawi), dan ado babarapo ikua di rumah. Kebetulan bisnis 
urang gaek di bidang perdagangan iko pulo Mak, kok kato urang awak, Toke 
Bantiang. 


Cuma informasi soal Biogas ko di daerah awak alun banyak lai Mak. Kok potensi 
nan dikatoan, banyak potensi gadang nan ado di awak. Di Kab. 50 Kota dan Kota 
Payakumbuah, toke bantiang ko banyak barasa dari mudiak. Dari sakian banyak 
toke 
bantiang nan ambo kenal, indak ciek alahnyo nan punyo pola pengelolaan limbah 
ternak nan bisa diolah jadi Biogas ko do mak. Di rumah ambo, sahari limbah ko 
minimal ado 5 gerobak nan hanyo di buang di parak atau diagiahan ka urang nan 
baladang. Baitu pulo di toke-toke nan lain. Setidaknyo, 7 urang Bapak ambo 
badunsanak, 5 urang manjadi toke taranak dan punyo bantiang di rumahnyo. Cuma 
itu baliak Mak, alun banyak informasi nan diketahui dek para peternak daerah. 
Sahinggo sampai kini, potensi nan banyak di nagari awak ko alun tagali bana lai 
Mak. Kok ado informasi, pembinaan juo sarana dan prasarana dari pemerintah, 
mungkin urang gaek ambo jo toke taranak nan lain sangaik tertarik soal biogas 
ko. Itu sakadar tambahan informasi dari ambo pribadi Mak.

Wassalam,
Noveri-23- Banduang




________________________________
Dari: Armen Zulkarnain <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sab, 31 Juli, 2010 05:34:08
Judul: [...@ntau-net] Menghidari Jerat Kapitalisme


Assalamualaikum wr wb

Sebagai "rang mudiak" dari kabupaten 50 Koto, tentunya saya sering pulang ke 
kampung halaman dengan berbagai keperluan. Dari mulai baralek, meilhat rumah 
nenek saya yang sudah kosong lebih 15 tahun, melihat sawah, menjenguk keluarga 
hingga menghadiri batagak gala. Kebetulan jarak 135 km itu tidak terasa jauh 
dengan mulusnya sarana transportasi jalan & banyaknya angkutan umum yang 
tersedia.

Dari cerita-cerita keluarga & orang kampung pula saya sering mendengarkan 
mahalnya pupuk (terkadang hilang dipasaran), harga pakan ayam ras yang makin 
melangit hingga kurang menguntungkannya usaha ternak sapi simental saat ini. 
Padahal kampung halaman saya ini, apalagi kabupaten 50 Koto memang berbasis 
pertanian & pertenakan sebagai tumpuan hidup  keluarga-keluarga di pelosok - 
pelosok nagari. Dengan hasil tani & ternak itu pula mereka membiayai 
anak-anaknya bersekolah hingga ke perguruan tinggi.

Syahdan, saya sering mendengar, bahwa hampir diseluruh perguruan tinggi ternama 
di Indonesia, terdapat guru besar, dosen terpelajar, ahli - ahli yang berasal 
dari Minangkabau yang mengajar di perguruan tinggi ternama. Mulai dari ITB, UI, 
IAIN Syarif Hidayatullah, UGM, IPB, Unpad hingga Universitas Brawijaya. 
Kalaulah 
Universitas Andalas bisa dikatakan seluruh dosennya "rang awak juo".

Terkadang saya sering mencari di belukar "mak google" bagaimana teknik 
membuatan 
pakan ayam ras, teknologi budidaya cacing tanah, bagaimana membuat hyase untuk 
pakan ternak sapi. Hingga pengolahan kompos yang bisa dilabel & dijual ke 
perkotaan di provinsi Riau. Alangkah indahnya masa depan masyarakat kita, 
diberkahi alam yang subur & tingginya animo merantau karena alasan "kurang 
cocok 
menjadi  petani" sehingga lapangan pekerjaan di bidang ini nyaris tidak pernah 
kosong.

Entah mendapat berkah atau musibah, ketika saya berkenalan via internet dengan 
pak Saafroedin Bahar yang sedang mengusung KKM 2010, memaparkan perlunya Badan 
Kerjasama antar lembaga/instistusi/organisasi di Minangkabau yang didesain 
ter-link keseluruh nagari-nagari di Sumatera Barat yang berjumlah 624 nagari 
itu. Badan kerjasama ini nantinya akan membantu Pemda memberikan kajian - 
kajian 
ilmiah yang mungkin saja bisa merangkul para pakar-pakar itu untuk 
menyumbangkan 
ilmu pengetahuannya untuk masyarakat di Sumatera Barat hingga melahirkan perda 
- 
perda baru yang bisa "mamilin" antara Adat Budaya Minangkabau dengan lingkup 
Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Semangat saya sebagai orang muda, yang dibesarkan dirantau & memiliki keinginan 
menetap di Sumbar (alhamdulillah sudah 10 tahun saya disini) melihat adanya 
secercah harapan untuk  memindahkan kajian teknologi & riset dari pakar-pakar 
yang ada di universitas kenamaan itu ke nagari-nagari di Minangkabau. Mulai 
dari 
kajian Budaya Minangkabau, Agama, teknologi Pertanian & Peternakan, Pariwisata 
hingga Industri skala Rumah Tangga. Terbayang dimata saya, 5 tahun ke depan 
makalah - makalah dari ITB, UI, IAIN Syarif Hidayatullah, IPB, ITS, Unpad dan 
lain-lain bisa disebar ke berbagai Nagari - Nagari di Minangkabau, sehingga 
menciptakan masyarakat Madani yang lepas dari jeratan Kapitalisme. Masyarakat 
yang bisa membuat kapal sendiri, membuat pakan ternak sendiri, membuat usaha 
tani terpadu, dari sekandang ternak sapi yang bisa menghasilkan biogas untuk 
memasak rendang & gulai cipuik di dapur, hingga penerangan di rumah-rumah 
penduduk, yang hasil akhirnya bisa menjadi kompos sehingga urea tidak perlu 
kita 
beli lagi.


Tentu saja hal ini sangat mudah dilakukan, apabila disetiap kantor kanagarian  
bisa memiliki 1 unit komputer bekas sekelas Pentium 4, dilengkapi modem yang 
bisa menghubungkan nagari ke dunia maya, sehingga perantau yang jarang pulang 
pun bisa mendengar kabar dari kampung halamannya.

Semoga Angku, Mamak, Bundo sarato bisa memahami harapan saya ini, dan semoga 
Allah SWT bisa mengabulkan mimpi saya ini kelak dikemudian hari, amin amin ya 
Rabbal alamin. 


wasalam 
AZ 32 thn 
padang


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke