Di tengah galaunya kaum miskin mendapatkan pembiayaan kelanjutan pendidikan,
tiba-tiba tersiar berita bahwa ada Rp. 104,22 miliar beasiswa telah
didistribusikan ke seluruh kabupaten/kota se-Sumatra Barat. Berita
sebagaimana disiarkan surat kabar ini, kemarin benar-benar membuat banyak
orang ternganga.

Masyarakat merasa heran karena sampai hari ini tidak ada kabupaten/kota yang
secara inisiatif menanggulangi persoalan yang tengah dihadapi anak-anak
miskin, tapi berotak cemerlang. Pemerintah kabupaten/kota seakan-akan tidak
punya nyali, tidak punya hati untuk menyelamatkan anak-anak bangsa tersebut.
Padahal, mereka adalah pelanjut dan pewaris negeri ini ke depan.

Tanpa 'mengapit daun kunyit', dalam bulan-bulan terakhir hanya Surat Kabar
Singgalang-lah yang getol memperjuangkan kelanjutan pendidikan dan masa
depan anak-anak tersebut. Puluhan dan bahkan sudah lebih ratusan juta rupiah
dana tergalang oleh sebuah nurani yang menyalip di kesibukan awak redaksi
surat kabar ini guna membantu anak-anak kurang mampu berotak cemerlang itu.
Rasanya tiada hari tanpa pemberitaan tentang anak miskin berprestasi, dan
itupula kemudian yang mengetuk hati kalangan dermawan untuk menyumbang.

Untung saja di ranah ini masih banyak kalangan kaya atau orang-orang berduit
yang punya nurani dan berhati dermawan. Atas kemuliaan mereka itulah puluhan
anak-anak miskin bisa menyeruak ke bangku kuliah. Dengan bantuan dan
pertolongan kaum dermawan itulah mereka bisa menyibakkan kabut pekat yang
selama ini menutupi mata dan hayalan mereka.

Sekarang Gubernur Sumbar, Marlis Rahman mengakui ada Rp. 104 miliar lebih
yang didistribusikan kepada pemerintah kabupaten dan kota di Sumbar. Jika
diambil rata-rata, setiap kabupaten/kota mempunyai dana beasiswa untuk
anak-anak miskin sekitar Rp. 5,47 miliar lebih. Kemana dana sebanyak itu
disalurkan? Kalaupun telah dimanfaatkan, siapa saja yang menikmatinya?
Adakah sisanya agak sedikit untuk anak-anak yang benar-benar membutuhkan
sebagaimana pemberitaan Singgalang dalam sebulan terakhir? Malah, Gubernur
Marlis tidak menampik sinyalemen yang mengatakan bahwa selama ini
seolah-olah pemerintah diam saja terhadap derita simiskin yang tak punya
uang, namun berotak cemerlang. Karena itu, ia minta seluruh bupati dan
walikota agar mengelola dana beasiswa itu dengan baik. Dengan demikian,
anak-anak miskin berotak hebat, bisa tertolong.
Dari apa yang dikatakan gubernur tersebut, tersirat sebuah makna, bisa jadi
ada di antara kepala daerah baik bupati maupun walikota tidak mengelola dana
itu secara baik. Jika itu benar adanya, jangan-jangan dana beasiswa untuk
anak miskin dimaksud nyasar untuk keperluan lain. Bahkan, tidak tertutup
kemungkinan beasiswa untuk anak miskin hanyalah akal-akalan saja untuk
kepentingan lain. 

Sebagai sebuah kenyataan, diharapkan pihak-pihak terkait secara spontan
melakukan pemeriksaan terhadap penggunaan dana beasiswa yang Rp. 5 miliar
lebih itu di tiap kabupaten/kota. BPK ataupun BPKP jangan diam saja. Ingat,
ini menyangkut hak orang miskin. Menyalahgunakan apalagi memakan hak orang
miskin adalah pantangan agama mana pun. Justru itu, masalah ini harus diusut
dan dibuat terang-benderang. Kemana dana itu perginya.

Bagi kepala daerah yang memang telah bertindak sesuai prosedur, berikanlah
penjelasan kepada masyarakat. Lebih dari itu, diharapkan ke depan penggunaan
dana itu dilakukan secara transparan dan anak-anak yang sangat membutuhkan
dijadikan prioritas utama menerimanya. (*)

http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=336
Selasa, 03 Agustus 2010

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke