Yang iko nan dimaksud Mak Duta mungkin Kanda yoo…  

(kok masih ado sanak nan berminat, buku masih ado 4 buah lai)

 

Salam

Nofend

 

16 AGUSTUS 2010

 
<http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/08/16/SAS/mbm.20100816.SAS134323.id.html>
 Syair�Kesaksian Amuk Krakatau

 

Orang yang mati ketika itu, 
Terlalu banyak bukan suatu, 
Ada terselit di pohon kayu, 
Ada yang pipih dihimpit perahu.

 

Inilah sepenggal syair yang ditulis Muhammad Saleh, sekitar tiga bulan setelah 
Gunung Krakatau meletus pada Agustus 1883. Syair yang seluruhnya terdiri atas 
375 bait dalam aksara Arab-Melayu itu adalah laporan pandangan mata yang secara 
terperinci melukiskan kematian massal akibat letusan tersebut. Syair Lampung 
Karam�bercerita bagaimana daerah seperti Bumi, Kitambang, Talang, Kupang, 
Lampasing, Umbulbatu, Benawang, Badak, Limau, Rajabasa, Tanjung Karang, Pulau 
Sebesi, dan Merak hancur lebur diterjang tsunami, lumpur, disertai hujan abu 
dan batu.

Tertuang dalam bentuk cetak batu (litografi), dokumen klasik itu baru ditemukan 
lebih dari 120 tahun kemudian. Adalah Suryadi, dosen dan pene liti di Jurusan 
Asia Teng gara dan Osea nia Universitas Leiden, Belanda, yang berhasil 
mengumpulkan semua bait sya ir itu. Selama kurang-lebih tiga tahun peminat 
sastra Melayu klasik itu menghimpun syair yang ditemukan terpisah di enam 
negara, yaitu Inggris, Belanda, Jerman, Rusia, Malaysia, dan Indonesia. Syair 
yang tercerai-berai itu kemudian dialihaksarakan ke huruf Latin. Hasilnya bisa 
disimak dalam buku Syair Lampung Karam: Sebuah Dokumen Pribumi tentang 
Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883,�terbitan Komunitas Penggiat Sastra Padang.

Buku setebal 206 halaman ini sarat dengan data yang bisa menguatkan data lain 
tentang peristiwa Krakatau di masa lampau. Selama ini yang menjadi�sumber 
bacaan penting tentang letus an Gunung Krakatau adalah laporan peneli tian 
lengkap G.J. Symons, The Eruption of Krakatoa and Subsequent Phenomena: Report 
of the Krakatoa Committee of the Royal So ciety, diterbitkan pertama kali di 
London pada 1888. Laporan ini menyebutkan letusan Gunung Krakatau di perairan 
Selat Sunda, Lampung Selatan, pada 26 hingga 28 Agus tus 1883, terbilang amat 
dahsyat. Bu nyi letus annya bahkan terdengar sampai Manila, Kolombo, Papua Nu 
gini, dan peda laman Australia.

Suryadi pertama kali menemukan salah satu edisi Syair Lampung Karam, yaitu 
edisi 1888, di Perpustakaan Universitas Lei den (Universiteitsbibliotheek 
Leiden) pada�akhir 2007. "Sebelumnya Syair Lampung Karam pernah dibicarakan 
oleh Sri Wulan Ru djiati Mulyadi pada 1983, tapi belum mendalam," katanya. 
Edisi berjudul Inilah Syair Lampung Karam Adanya itu�disalin oleh Encik Ibrahim 
dan diterbitkan oleh Al Hajj Muhammad Tayib di Singapura. Rupanya ini adalah 
edisi keempat dari teks yang pernah diterbitkan.

Selain di Perpustakaan Uni versitas Leiden, Surya di menemukan bagian lain 
eksemplar edisi yang sama di beberapa tempat, yakni perpustakaan pribadi 
penginjil Methodist Emil L�ring di Frankfurt, Jerman, Perpustakaan Universitas 
Malaya, Malaysia, Perpustakaan SOAS University of London, Inggris, dan di 
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), Jakarta.

Dari hasil penelusuran selama lebih dari setahun diketahui bahwa teks ini 
pertama kali dicetak di Singapura pada 1883/1884 (tanggal yang pasti tidak 
diketahui, karena hanya disebut diterbitkan tahun 1301 H, yang jika 
dikonversikan ke tahun Masehi berarti November 1883-Oktober 1884). Edisi 
pertama itu berjudul Syair Negeri Lampung yang Dinaiki oleh Air dan Hujan Abu. 
"Eksemplar edisi pertama ini antara lain saya temukan di Perpustakaan Lenin di 
Moskow, Rusia. Juga satu eksemplar lagi pernah disimpan di PNRI, Jakarta," pria 
berdarah Minang itu menjelaskan.

Rupanya, setelah itu muncul edisi kedua teks ini, dengan judul Inilah Syair 
Lampung Dinaiki Air Laut. Edisi kedua ini terbit di Singapura pada November 
1884. Menurut catatan yang ada, eksemplar edisi ini�pernah disimpan di 
Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, tapi kemudian hilang. Edisi ketiga terbit 
pada Januari 1886, melalui Haji Said di Singapura. Judul yang tertera adalah 
Syair Lampung dan Anyer dan Tanjung Karang Naik Air Laut. "Contoh ek semplar 
edisi 1886 ini saya temukan di Perpustakaan Universitas Cambridge, Inggris," 
kata Suryadi.

Perlu waktu sekitar delapan�bulan untuk mengalih aksarakan naskah-nas kah itu, 
termasuk melakukan perbandingan dengan edisi lainnya. Maklum, selain ada 
beberapa bagian teks yang kabur, di situ tertulis kata-kata arkais yang tidak 
lagi dikenal dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia masa kini. "Saya harus 
membolak-balik berbagai kamus untuk mengetahui kata-kata itu. Kerja 
penyuntingan sebuah teks Melayu klasik yang ditulis dalam aksara Jawi 
memerlukan ketelitian dan kehati-hatian," katanya.

Suryadi yakin, naskah klasik Syair Lampung Karam yang ditulis dalam bahasa 
Melayu dialek Riau itu benar-benar laporan pandangan mata sang pe nulis, bukan 
sekadar rekaan. Menurut dia, ada bagian-bagian dalam teks Syair Lampung Karam 
yang menunjukkan bahwa Muhammad Saleh, si pengarang syair, mengalami sendiri 
bencana itu. "Ia mungkin berada di Lampung ketika peristiwa itu terjadi. Ia 
mungkin salah seorang yang selamat dari bencana itu dan kemudian mengungsi ke 
Singapura," ujar Suryadi.

Muhammad Saleh juga secara terperinci�menyebut daerah-daerah yang terkena 
bencana dan tabiat orang-orang yang sedang berada dalam keadaan chaos di da 
erah yang terkena bencana itu. Dia bagaikan�seorang reporter lapangan yang 
sedang melaporkan kejadian langsung dari tempat peristiwa. "Syair Lampung Karam 
adalah salah satu jenis syair kewartawanan," kata Suryadi.

 

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/08/16/SAS/mbm.20100816.SAS134323.id.html

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf 
Of Lies Suryadi
Sent: Monday, August 16, 2010 6:02 PM
To: [email protected]
Subject: Bls: [...@ntau-net] Lampung Karam di Tempo

 

Mamak Duta,

Oh...tarimo kasih ateh infonyo. Taragak lo mancaliaknyo, mungkin  baru minggu 
muko sampai di KITLV Leiden. Alhamdulillah diucapkan, lai diapresiasi urang juo 
tulisan ketek2 awak.

 

Wassalam,

Suryadi

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke