Baa mako sampai di Banduang je, Sanak Hendra pulang? Indak lansuang taruih ka 
ranah Minang? "Dijua" urang kampuang sanak tu beko lai. 
 
Salam,
Suryadi

--- Pada Sel, 24/8/10, Hendra Messa <[email protected]> menulis:


Dari: Hendra Messa <[email protected]>
Judul: [...@ntau-net] renungan mudik, musafir kelana [refresh]
Kepada: "IA ITB" <[email protected]>
Tanggal: Selasa, 24 Agustus, 2010, 1:47 PM








Rekan2 sekalian, 
  
Sungguh terasa panjang dan melelahkan, perjalanan pulang musafir kelana gurun 
pasir, mudik ke Bandung. Perjalanan pesawat saja, 8 jam lamanya dari Abu dhabi 
sampai Jakarta, disambung lagi perjalanan darat. 
  
Dalam perjalanan melintas langit, kita bagai didekap mesra awan lembut, nun 
jauh tampak luas biru membentang di bawah sana, samudra hindia. syahdan 
gumpalan awan di balik jendela pesawat, bagai tersenyum halus dan bertanya 
tentang makna “pulang”, berikut sekedar renungan dari perjalanan tersebut, 
semoga bermanfaat 
  
Salam 
HM 
--------------------------- 
PULANG 
Saat bel tanda pulang sekolah berbunyi, anak2 kecil pun berlarian keluar ruang 
kelas dengan riangnya, begitulah riangnya anak2 sekolah dasar saat pulang 
sekolah, masa yg dinanti2 sampai jua,  sepercik pengalaman masa kecil yg kita 
mengalaminya dulu. Namun tak hanya di masa kecil, saat sudah dewasa bekerja 
pun, saat pulang kerja adalah saat yg dinanti2 dan disambut dengan senang hati. 
Bagi para perantau,  saat pulang mudik ke kampung halaman bertemu orang tua, 
menjelang lebaran, adalah moment yg mengesankan pula.
 
Secara umum, kata pulang bermakna positif dan menyenangkan. Namun ada pula 
kalimat pulang yg tak disukai orang, seperti kata dipulangkan dalam arti 
seseorang dipaksa pulang karena kalah dalam suatu pertandingan atau mendapatkan 
kegagalan, being the looser. Kata pulang lain nya yg tidak disukai ialah kata 
berpulang, semisal pada kalimat, berpulang ke rahmatullah yg bermakna, 
meninggal dunia.
Orang senang dengan kata pulang, karena bermakna kembali pada asal kita, 
kembali ke rumah, kembali tempat yg kita sukai, tempat yg dirindukan.
 
Rumah & ibunda
Rumah bukan sekedar bangunan tempat tinggal, tapi juga suasana lingkungan dan 
orang2 di sekitarnya  yg begitu dirindukan dan membuat kita merasa nyaman 
karenanya, kemana pun kita pergi, akan selalu teringat dan ingin kembali ke 
rumah, there’s no place like home, not just a house. Dalam bahasa inggris, ada 
2 istilah yg hampir sama, tapi berbeda artinya, house berarti bangunan dan home 
yg lebih luas daripada sekedar bangunan rumah, sebuah lingkungan, bisa berarti 
juga kampung halaman, daerah kita dibesarkan di masa kecil.
 
Disanalah kita dilahirkan ibunda tercinta, tempat dimana ayah & bunda 
membesarkan kita dengan penuh kasih sayang nya, tempat dimana pengalaman2 indah 
masa kecil berlalu, tempat dimana kita bertemu teman2 yg akrab dan menyenangkan.
 
Lingkungan atau kota tempat kita dibesarkan, akan memberi kenangan juga pada 
tempat2 tertentu dimana kita memiliki pengalaman berkesan disana; tempat 
bermain, sekolah, tempat berkumpul dengan teman2 juga tempat dimana kita 
pertama kali jatuh hati pada seseorang, akan selalu dikenang. Rumah atau 
kampung halaman, ialah tempat dimana kedekatan jiwa itu tumbuh, ada kecintaan, 
ada kerinduan  saat jauh darinya. Dalam kisah klasik Laila Majnun, ada 
diceritakan betapa cintanya sang Majnun pada Laila, sampai ia pun mencintai 
kota dimana Laila tinggal, bila sampai kesana, ia pegang  dengan halus, tembok2 
kota dimana Laila tinggal.
 
Tempat dimana kerinduan tumbuh dan kita selalu ingin kesana, tak selalu berupa 
rumah, bisa jadi sebuah kolam ikan, bagi orang yg hoby memancing, atau tempat 
ngumpul hobby lain nya, bisa jadi adalah pos ronda atau warung, tempat anak2 
muda suka nongkrong, bisa juga berupa mesjid, dimana kita merasakan kenyamanan 
hati saat berada disana. Saat kita pergi akan selalu timbul kerinduan untuk 
kembali ke sana.
  
Baca selengkapnya, ; http://hdmessa.wordpress.com/2010/08/20/pulang/ 
Salam 
HM 
  
----------- 
 
PULANG
 
Saat bel tanda pulang sekolah berbunyi, anak2 kecil pun berlarian keluar ruang 
kelas dengan riangnya, begitulah riangnya anak2 sekolah dasar saat pulang 
sekolah, masa yg dinanti2 sampai jua,  sepercik pengalaman masa kecil yg kita 
mengalaminya dulu. Namun tak hanya di masa kecil, saat sudah dewasa bekerja 
pun, saat pulang kerja adalah saat yg dinanti2 dan disambut dengan senang hati. 
Bagi para perantau,  saat pulang mudik ke kampung halaman bertemu orang tua, 
menjelang lebaran, adalah moment yg mengesankan pula.
 
Secara umum, kata pulang bermakna positif dan menyenangkan. Namun ada pula 
kalimat pulang yg tak disukai orang, seperti kata dipulangkan dalam arti 
seseorang dipaksa pulang karena kalah dalam suatu pertandingan atau mendapatkan 
kegagalan, being the looser. Kata pulang lain nya yg tidak disukai ialah kata 
berpulang, semisal pada kalimat, berpulang ke rahmatullah yg bermakna, 
meninggal dunia.
Orang senang dengan kata pulang, karena bermakna kembali pada asal kita, 
kembali ke rumah, kembali tempat yg kita sukai, tempat yg dirindukan.
 
Rumah & ibunda
Rumah bukan sekedar bangunan tempat tinggal, tapi juga suasana lingkungan dan 
orang2 di sekitarnya  yg begitu dirindukan dan membuat kita merasa nyaman 
karenanya, kemana pun kita pergi, akan selalu teringat dan ingin kembali ke 
rumah, there’s no place like home, not just a house. Dalam bahasa inggris, ada 
2 istilah yg hampir sama, tapi berbeda artinya, house berarti bangunan dan home 
yg lebih luas daripada sekedar bangunan rumah, sebuah lingkungan, bisa berarti 
juga kampung halaman, daerah kita dibesarkan di masa kecil.
 
Disanalah kita dilahirkan ibunda tercinta, tempat dimana ayah & bunda 
membesarkan kita dengan penuh kasih sayang nya, tempat dimana pengalaman2 indah 
masa kecil berlalu, tempat dimana kita bertemu teman2 yg akrab dan menyenangkan.
 
Lingkungan atau kota tempat kita dibesarkan, akan memberi kenangan juga pada 
tempat2 tertentu dimana kita memiliki pengalaman berkesan disana; tempat 
bermain, sekolah, tempat berkumpul dengan teman2 juga tempat dimana kita 
pertama kali jatuh hati pada seseorang, akan selalu dikenang. Rumah atau 
kampung halaman, ialah tempat dimana kedekatan jiwa itu tumbuh, ada kecintaan, 
ada kerinduan  saat jauh darinya. Dalam kisah klasik Laila Majnun, ada 
diceritakan betapa cintanya sang Majnun pada Laila, sampai ia pun mencintai 
kota dimana Laila tinggal, bila sampai kesana, ia pegang  dengan halus, tembok2 
kota dimana Laila tinggal.
 
Tempat dimana kerinduan tumbuh dan kita selalu ingin kesana, tak selalu berupa 
rumah, bisa jadi sebuah kolam ikan, bagi orang yg hoby memancing, atau tempat 
ngumpul hobby lain nya, bisa jadi adalah pos ronda atau warung, tempat anak2 
muda suka nongkrong, bisa juga berupa mesjid, dimana kita merasakan kenyamanan 
hati saat berada disana. Saat kita pergi akan selalu timbul kerinduan untuk 
kembali ke sana.
 
Saat pergi haji / umroh, berada di tanah suci, mekah- madinah, banyak orang yg 
merasakan kedamaian jiwa saat berada disana, sebuah pengalaman batin yg 
mengesankan. Ketika ia telah pulang kembali ke negaranya, ingatan tsb selalu 
membekas dan org2 menjadi rindu ingin kembali ke tempat suci tsb, dimana ada 
keterkaitan hati yg terjadi. Tempat suci spt kabah bisa menjadi semacam “rumah 
batin”  pula dimana timbul kerinduan untuk ingin kembali ke sana.
Ketika anak kecil bermain dan karena sesuatu hal ia menangis, hal reflex yg 
dilakukan nya, ialah berlari pulang ke rumah, sambil memanggil2 ibunya. Kembali 
ke rumah, dalam pangkuan ibunda tercinta adalah suasana yg paling nyaman bagi 
anak kecil saat ada sesuatu masalah yg dihadapinya di luar rumah.
 
Saat masa remaja dulu, saya sering pergi mengembara ke pegunungan di seputaran 
kota Bandung. Suatu saat saya dan seorang teman, terpisah dari rombongan dan 
tersesat di dalam hutan, berteduh di bawah pohon, saat hujan di sore hari yg 
gelap, kita pun basah kuyup dan kedinginan. Dalam kondisi nestapa seperti itu, 
yg terbayang  ialah bagaimana caranya bisa menemukan jalan pulang secepatnya, 
kembali ke rumah, terbayang  ingin sekali rasanya berada di dalam rumah yang 
hangat, makan sop hangat buatan bunda tercinta. Begitula secara instink rumah 
dan ibunda selalu jadi bayangan pelarian yg nyaman saat kita berada jauh di 
luar rumah dan dalam kenestapaan.
 
Manusia dewasa pun seperti itu, saat ada suatu masalah besar, ia cenderung 
untuk mencari seseorang atau tempat yg nyaman baginya, ia seperti mencari 
tempat pelarian untuk menyelesaikan masalahnya, kembali ke rumah, menemui 
orangtua adalah salah satu solusinya. Namun tak semua, bisa menemukan tempat 
pelarian yg tepat, karena banyak juga yg akhirnya salah jalan.
 
Lupa pulang
Ada kalanya pula, anak2 yg begitu senangnya bermain dg teman2 nya, saat 
dipanggil pulang ke rumah oleh ibu nya, ia malah menolak,malah menangis saat 
disuruh pulang, ia merasa lebih nyaman dan senang disana. Anak2 muda yg lebih 
senang bermain, kongkow2 dg teman2 nya, bahkan malas untuk pulang ke rumah, 
Mereka seperti telah menemukan rumah yg baru, menemukan suasana yg lebih nyaman 
dibanding rumahnya sendiri.
 
Orang2 yang suka mengelana, adventure ke alam terbuka, hobby travelling,  
begitu cintanya dg bepergian ke berbagai tempat yg jauh dan eksotik. Malah saat 
berada di rumah, ia selalu dibakar kerinduan untuk pergi berkelana, mereka 
menemukan kebahagiaan dalam pengembaraan nya.
Para pekerja migrant yg pergi merantau ke negeri jauh, setelah sekian lama 
berada disana, akan merasa nyaman juga dan malas untuk kembali ke kampung 
halaman nya.
 
Pada kondisi tertentu, orang bisa menemukan pula sebuah tempat yg lebih nyaman 
bagi batin nya di luar rumah, di luar kampung halaman nya sendiri. Perjalanan 
hidup telah memberikan warna baru pada hidupnya, telah terbentuk sebuah 
kecintaan baru yang membuat kerinduan pada rumahnya dulu, kampung halamannya 
jadi luntur, bisa jadi karena ia telah menemukan sesuatu yg lebih baik disana.
 
Demikianlah dalam perjalanan hidup, banyak pengalaman yg mewarnai nya, begitu 
pula beragam pula pengalaman batin yg mewarnai jiwa ini. Warna cinta dan 
kerinduan pun bisa luntur karenanya. Satu kerinduan yg tak bisa dilupakan 
manusia ialah kasih sayang ibunda tercinta, 
walau bagaimana pun keadaannya, walau telah pergi jauh kemana pun, kita akan 
selalu akan rindu dan cinta pada ibunda tercinta, karena beliau lah yg 
melahirkan kita, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Dan pancaran kasih 
sayang ibunda akan bersinar sepanjang masa, walau sang anak sering melupakan 
nya, namun pancaran sinar kasih tersebut akan menyegarkannya kembali.
 
Dalam kisah dongeng si Malin kundang yang bercerita mengenai anak durhaka yg 
tak mau mengakui ibunya setelah menjadi orang yg berhasil, walau sang ibu 
marah, namun dalam hati kecilnya ia tetap sayang pada anaknya tsb.
 
Dalam perjalanan hidup manusia di dunia ini, dengan berbagai suasana senang dan 
sedihnya. Seringkali kita pun lupa darimana kita berasal,  tak sadar bahwa 
suatu saat kelak kita pun akan pulang. Bahkan sebagian besar manusia tak mau 
pulang, takut untuk pulang,  mereka begitu mencintai dunia dan takut menghadapi 
kematian.
 
Kasih sayang & kerinduan Illahiah
Secara hakiki, setiap manusia akan kuat ikatan batin dg  ibu dan ayah yg 
melahirkan dan membesarkan nya, begitu pula pada makhluk hidup lain nya. Selalu 
ada panggilan batin untuk kembali pulang menemui beliau.
 
Namun ada hal juga yg perlu kita sadari, sebelum ibunda melahirkan kita, 
dimanakah kita berada ?
Hakikatnya,  Allah lah yg telah menitipkan ruh kita pada orang tua kita, 
sehingga kemudian kita dilahirkan ke dunia ini, di tempat tertentu yg menjadi 
kampung halaman kita. Menjalani kehidupan dan suatu saat kelak kita akan pulang 
pula ke sana, ke hadirat Illahi rabbi.
 
Telah diceritakan betapa ada kerinduan untuk pulang ke rumah, bertemu orang 
tua, kembali ke kampung halaman, bertemu teman2 lama, menyibak kembali kenangan 
lama, namun siapakah yg rindu untuk kembali pada Sang Maha Pencipta ? , yg 
menciptakan kita semua, yg menitipkan jiwa kita pada orang tua kita dan 
dibesarkan di rumah dan kampung halaman kita.
 
Dalam bahasa Indonesia, orang yg meninggal dunia, dikatakan pula, telah 
berpulang ke hadirat Illahi rabbi. Berbeda dg kata pulang lainnya, yang 
cenderung orang senang mendengarnya, kata “berpulang” dalam kalimat tersebut, 
orang cenderung tak menyukainya.  Kalau bisa orang ingin hidup di dunia 
selamanya, tak ingin berpulang ke hadirat illahi rabbi. Saat hidup di dunia, 
orang cenderung senang mengalaminya dan takut menghadapi kematian, padahal 
hakikatnya kita semua akan kembali pulang ke sana.
 
Kembali ke hakikat pulang dan rumah yg dibahas diatas, orang ingin pulang dan 
rindu ke suatu tempat karena timbul kecintaan padanya. Namun tak semua orang 
bisa menyadari kerinduan dan kecintaan pada Sang Maha Pencipta, yg sebenarnya 
sangat penuh kasih sayang pada makhluk ciptaan nya. Dalam ayat pertama kita 
suci Al Quran, dinyatakan, dg nama Allah yg Maha Pengasih dan Maha Penyayang ( 
Bismillahirahmanirrahim ) , kalimat yg paling banyak diucapkan kaum muslimin. 
Kasih sayangnya jauh melampaui kasih sayang ayah bunda kita, jauh melampaui 
kasih sayang siapapun yg kita temui sepanjang jalan hidup ini. Namun memang tak 
semua manusia bisa menyadarinya. Semoga kita semua dijauhkan dari karakter anak 
durhaka seperti dalam dongeng malin kundang tsb.
 
Kecintaan dan kerinduan pada Sang Maha Pencipta, Allah swt,  adalah sebuah 
rahasia batin yg tak mudah untuk difahami orang banyak. Allah telah memancarkan 
sinar kasih sayang pada semua makhluknya, namun tak semua makhluk bisa 
menerimanya, karena pancaran batin tersebut hanya bisa ditampung oleh jiwa yg 
bersih pula. Imam Gazali dalam kitab Ihya Ulumudin, menganalogikan sampainya 
sinar kasih sayang Illahi tersebut pada manusia, bagaikan sinar mentari yg 
sampai ke sebuah kaca cermin. Bila cermin tersebut kotor, gelap atau malah 
pecah, maka tak akan ada pantulan baliknya, namun bila kaca tersebut, bersih , 
jernih , maka sinar mentari akan terpantul balik dg sempurnanya.
 
Jadi hanya pada orang2 yg hatinya bersih dan jernih saja, kasih sayang Illahi 
akan terpantul lagi. Orang2 seperti itulah yg bisa merasakan dg mendalam begitu 
besarnya kasih sayang Illahi rabbi dan memantulkanya dalam bentuk kasih sayang 
pula pada semua makhluknya, pada manusia2 yg ditemuinya, bahkan pada binatang 
dan tumbuhan sekalipun.
 
Kita bisa menemuinya pada orang2 yg begitu halus perilaku dan akhlaknya, kita 
akan senang bertemu dg nya, wajahnya seperti bercahaya, ucapan nya begitu 
menyejukkan jiwa, berbicara dg mereka akan membuat kita menjadi dekat dg Yang 
Maha Kuasa, keimanan akan bertambah bila kita dekat dg org2 seperti itu, orang2 
soleh yg penuh ketakwaan.
 
Bagi orang2 soleh spt itulah, yang dekat dg Allah, timbul kecintaan yg besar 
pada Illahi rabbi, ada kerinduan yg terpendar. Ibadah mereka begitu khusyu, 
mereka begitu penuh hati saat melakukan amal kebaikan pada sesama manusia. 
Hubungan vertikal dg Allah, maupun hubungan horizontal dg sesama manusia, 
begitu sepenuh jiwa, penuh dg cinta dan kasih sayang…
 
Orang2 soleh seperti itu, yg begitu mendalam kecintaan dan kerinduan pada 
Illahi rabbi, maka kepulangan pada sang Maha Pencipta, bertemu dengan yang 
dicintai dan dirindukan nya, adalah sebuah kebahagiaan.
 
Orang2 yg hatinya keras atau kotor, maka ia tak bisa memantulkan kembali cahaya 
cinta kasih Illahi tersebut. Mereka susah untuk bisa merasakan kedekatan dg 
Allah, bahkan melupakan nya. Orang2 yang tenggelam dalam kehidupan dunia akan 
cinta dunia dan takut mati. Hatinya tak bisa memahami darimana ia berasal dan 
tak tahu atau tak mau untuk pulang ke hadirat Illahi rabbi. 
 
Padahal mau atau tak mau, semua manusia akan berpulang, saat sampai pula ke 
penghujung usianya. Analoginya hampir sama dengan cerita yang disampaikan 
diatas mengenai anak2 kecil yang karena saking senangnya bermain di luar rumah, 
sampai lupa bahwa saat waktunya tiba ia pun harus pulang ke rumah, mungkin 
begitu pula dengan kita semua yg dilahirkan ke dunia ini, saat waktunya tiba 
akan pulang juga pada, Sang Maha Pencipta, Allah swt.
 
Semoga kita semua menjadi orang2 yg bersih jiwanya dekat dg Allah swt, beramal 
soleh pada sesama manusia dan selalu disadarkan dengan hakikat kehidupan ini, 
mendapatkan kebaikan sampai di akhir hayat,  akhir yg baik, “husnul khotimah”, 
amien.
-----------
Chairil Anwar penyair pujangga lama, yang terkenal dengan puisinya, “Aku mau 
hidup seribu tahun lagi”, namun pada kenyataannya, beliau meninggal pada usia 
27 tahun.
 
Dalam kitab hadits nabi ada diceritakan mengenai seorang sahabat pernah 
bertanya kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, siapakah orang yang pintar dan 
mulia?” Jawab beliau, “Orang yang selalu mengingat  maut dan orang yang mulia 
adalah orang yang selalu mempersiapkan bekal untuk menghadapi maut, merekalah 
orang-orang cerdas yang meninggalkan godaan dunia menuju kemuliaan akhirat ( 
Hadits riwayat  Muslim  )
 
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak suka bertemu dengan Allah, 
sesungguhnya Allah pun tidak suka bertemu dengannya.” (Hadis riwayat al-Bukhari 
dan Muslim)
 
“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti), apa yang akan 
dijalaninya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui, di bumi mana ia 
akan mati.“ (Qs. Luqman : 34).
 
„Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat 
akan disempurnakan pahalamu. Siapa saja yang dijauhkan dari neraka dan 
dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia ini 
tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan“. (QS. Al-Imran : 185)
————-
Renungan diatas langit dalam dekapan awan , di atas samudera hindia yg luas 
membiru , dalam penerbangan melintas angkasa, mengharu jiwa, perjalanan panjang 
Abu Dhabi – Jakarta, mudik ke Bandung, menemui keluarga & ayahbunda tercinta 
serta teman2 lama , di penghujung bulan suci ramadhan.
 

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke