Bagi warga milis Keluarga Besar Polri,
yang berminat menanggapi 
tulisan Mas Budiarto Shambazy,
silahkan kirim e-mail ke
<[email protected]>; 
 
Terutama, situasi dewasa ini
ada nggak dampaknya terhadap Kamtibmas.
 
Itung-itung, menjajal kemampuan 
adu argumentasi di luar kandang.
 
Ini cuplikan-cuplikan  tulisan Mas Budiarto Shambazy:

Pengamanan perbatasan darat belum memadai. 
Kita bisa kehilangan jutaan hektar hutan di Kalimantan 
karena pengawasan perbatasan tak efektif. 
 
Misalnya, di sepanjang perbatasan 
tak ada akses jalan 
yang memudahkan pembuatan tapal 
meski dana proyeknya berkali-kali digelontorkan.
 
Kita kurang mampu menjaga halaman rumah sendiri. 
Sejak kehilangan Sipadan-Ligitan, 
terungkap fakta tak enak: 
kita ibarat ”rumah tanpa sertifikat” 
karena peta Inggris (eks penjajah Malaysia) lengkap, 
sementara Belanda tak meninggalkan bukti sahih.
 
------------------
 
Bung Karno melancarkan konfrontasi 
karena punya ratusan pesawat tempur, 
puluhan kapal perang, 
dan serdadu penyusup ke Malaysia. 
 
Pak Harto menarik duta besar dari Filipina dan Australia 
atau menyetop forum menlu ASEAN-Uni Eropa 
karena isu Timor Timur.
 
Mereka  (catatan: Bung Karno dan Pak Harto)
menempatkan diri 
sebagai pemimpin middle power yang disegani. 
 
Mereka menangkap aspirasi rakyat 
dan institusi-institusi lain–termasuk TNI dan Kemlu–
sehingga menghasilkan keputusan utuh, 
bulat, dan kompromistis bagai kotak hitam pesawat.
 
Dan, mereka  (Bung Karno dan Pak Harto)
mengambil keputusan 
dalam situasi krisis 
yang butuh kepemimpinan tegas serta jadi panutan. 
 
Proses pengambilan keputusan politik luar negeri 
mestinya mencerminkan 
konsensus spektrum kekuatan politik seluas mungkin—
bukan hanya kepentingan presiden.
 
---------------------
 
Dalam situasi harmonis pun, 
TKI tetap jadi masalah besar 
yang siap meledak 
karena Malaysia mengalami stagnasi ekonomi. 
 
Wassalam, Jacky Mardono.
 
========================
TULISAN SELENGKAPNYA.

Sabtu, 4 September 2010 | 04:44 WIB
(Dikutip dari Kompas Cetak)

oleh budiarto shambazy

Mei 2010 merupakan batas akhir bagi negara non-UNCLOS 1982 mengklaim penambahan 
batas landas kontinen (continental shelf) lebih dari 200 mil (320 kilometer) 
dari pantai. Syaratnya, penambahan tak melebihi 100 mil (160 km) dari titik 
kedalaman 2,5 km dan tak melewati 350 km dari pantai.

Tiap negara diberikan waktu 10 tahun untuk mengajukan bukti dasar laut yang 
diklaim memang landas kontinen. Jika klaim sahih, negara itu diizinkan 
mengeksplorasi dasar laut dan membagi hasilnya dengan negara tetangga tak 
berpantai.

Ya, kekayaan alam seabed atau dasar laut—bukan yang berada di atasnya 
saja—mulai jadi rebutan. Telah terbukti, makhluk hidup, termasuk tanaman dasar 
laut, kekayaan alam tak ternilai harganya.

Contohnya mentimun laut yang mulai diincar perusahaan farmasi raksasa karena 
ampuh mengobati kanker. Belum lagi sumber energi baru seperti Methane hydrates 
di patahan dasar laut.

Dan, dasar laut memiliki kekayaan migas yang mudah diekstraksi. Sekurangnya ada 
50 negara mengklaim potensi migas di dasar Samudra Pasifik dan Antartika. Di 
Eropa, Inggris, Perancis, Spanyol, dan Irlandia menjalin kerja sama eksplorasi 
daripada bertikai di perairan utara.

Berbeda di Samudra Hindia: Tanzania dan Seychelles mulai saling klaim wilayah 
bernama Aldabra. Amerika Serikat (AS), Kanada, Rusia, Denmark, dan Norwegia 
tegang memperebutkan beberapa wilayah kaya migas di Kutub Utara.

Tumpang tindih klaim di Asia Tenggara/Timur sudah terjadi sejak berakhirnya 
Perang Dingin. Sengketa terjadi hampir di semua negara: Rusia, Jepang, China, 
Taiwan, Korea Selatan, dan beberapa negara ASEAN di Laut China Selatan.

Indonesia bersengketa dengan Vietnam, Singapura, Malaysia, Papua Niugini, 
Filipina, dan Australia (sebelum Timor Timur merdeka). Kita negara kepulauan 
sesuai dengan UNCLOS 1982, yang wajib membuka Alur Laut Kepulauan Indonesia 
(ALKI) untuk lalu lintas militer/perdagangan kapal asing.

Muncul masalah: seberapa mampu kita menjaganya? Penangkapan tiga pejabat KKP 
menguak fakta tak enak bahwa pengamanan kita lemah karena jadi sumber 
kongkalikong aparat keamanan dan peradilan dengan pelanggar 
mancanegara–termasuk pencuri ikan.

Pengamanan perbatasan darat belum memadai. Kita bisa kehilangan jutaan hektar 
hutan di Kalimantan karena pengawasan perbatasan tak efektif. Misalnya, di 
sepanjang perbatasan tak ada akses jalan yang memudahkan pembuatan tapal meski 
dana proyeknya berkali-kali digelontorkan.

Kita kurang mampu menjaga halaman rumah sendiri. Sejak kehilangan 
Sipadan-Ligitan, terungkap fakta tak enak: kita ibarat ”rumah tanpa sertifikat” 
karena peta Inggris (eks penjajah Malaysia) lengkap, sementara Belanda tak 
meninggalkan bukti sahih.
 
Ketegangan dengan Malaysia terjadi sejak insiden di Ambalat tahun 2005. Sejak 
itu, muncul insiden lain seperti pencurian batik dan lagu ”Rasa Sayange”. 
Selama lima tahun terakhir kita terbiasa punya tetangga yang provokatif.

Mengapa mereka begitu? Jawabannya bukan teka-teki: kita lemah selama era 
Reformasi ini akibat korupsi sistemik yang terjadi di birokrasi yang 
bertanggung jawab atas pengamanan perbatasan.

Lebih dari itu, kita tak punya alutsista memadai untuk menjaga halaman sendiri. 
Tak ada daya penggentar (deterrent power) yang kredibel untuk menangkal 
provokasi Malaysia, Singapura, dan Australia.

Pak Habibie melecehkan Singapura sebagai ”a little red dot”, Gus Dur mengancam 
stop ekspor air ke negeri pulau itu. Terhadap Malaysia, kita tak melakukan apa 
pun karena mitos ”kakak beradik” atau ”bangsa serumpun”.

Berhubung alutsista lemah, kita hanya bisa terlibat dalam ”balance of terror” 
lawan Malaysia. 
Tegang hanya sebentar, sehabis itu ”main remis” lagi, seperti dua pecatur 
amatir memelototi papan catur semata.

Bung Karno melancarkan konfrontasi karena punya ratusan pesawat tempur, puluhan 
kapal perang, dan serdadu penyusup ke Malaysia. Pak Harto menarik duta besar 
dari Filipina dan Australia atau menyetop forum menlu ASEAN-Uni Eropa karena 
isu Timor Timur.

Mereka menempatkan diri sebagai pemimpin middle power yang disegani. Mereka 
menangkap aspirasi rakyat dan institusi-institusi lain–termasuk TNI dan 
Kemlu–sehingga menghasilkan keputusan utuh, bulat, dan kompromistis bagai kotak 
hitam pesawat.

Dan, mereka mengambil keputusan dalam situasi krisis yang butuh kepemimpinan 
tegas serta jadi panutan. Proses pengambilan keputusan politik luar negeri 
mestinya mencerminkan konsensus spektrum kekuatan politik seluas mungkin—bukan 
hanya kepentingan presiden.

Dari awal saya sarankan tarik duta besar kita di Kuala Lumpur dan minta duta 
besar Malaysia meninggalkan Jakarta. Ini keputusan diplomatik rasional yang 
berdampak ganda.

Pertama, menimbulkan efek jera karena jika tak diberikan pelajaran, Malaysia 
tak akan jera. 
Kedua, penarikan/pengusiran duta besar merupakan terapi kejut bagi jajaran 
birokrasi agar tak lagi kongkalikong menjaga kedaulatan wilayah.

Dalam situasi harmonis pun, TKI tetap jadi masalah besar yang siap meledak 
karena Malaysia mengalami stagnasi ekonomi. Sesuai janji program 100 hari 
SBY-Boediono, sebaiknya rencana pembentukan citizen centers di Malaysia untuk 
memantau TKI segera diwujudkan.




-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke