dikutip:

Saya ingin menggaris bawahi mengenai suku Minangkabau yang juga
dikategorikan sebagai pemberontak dan disebut pula oleh Ahmad Mansur
Suryanegara, yaitu Ahmad Husein, Pemimpin PRRI (Pemerintahan Revolusioner
Republik Indonesia). Hal ini saya bantah, karena sebelum meninggalnya, saya
dua kali bertemu Ahmad Husein. Dia mengatakan, bahwa PRRI adalah
pemberontak, itu tidak benar. "Kami bukan pemberontak,"ujarnya. "Kami hanya
melakukan koreksi total kesenjangan antara pemeintah pusat dan daerah,
selain mengingatkan Presiden Soekarno tidak terlalu dekat dengan Partai
Komunis Indonesia," tegas Ahmad Husein yang waktu itu sudah sakit-sakitan di
kursi rodanya.

------------------------------------

MENGGUGAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL

Oleh Dasman Djamaluddin (http://dasmandj.blogspot.com/)

SAYA diundang oleh rekan saya Kepala Museum Kebangkitan Nasional, Edy
Suwardi menghadiri seminar menyambut Hari Kebangitan Nasional, Kamis, 16
Juni 2010, di Jakarta. Seminar yang diselenggarakan sangat menarik karena
kehadiran Prof Ahmad Mansur Suryanegara, pakar Sejarah Islam dari
Universitas Padjadjaran, Bandung. Di samping itu ada pula Asvi Warman Adam,
Sejarawan dari LIPI.

Berpenampilan bersahaja, pakaian dan rambut rapi, warna rambut sudah
memutih, maklumlah sudah berusia 74 tahun, Ahmad Mansur Suryanegara
meragukan Hari Kebangkitan Nasional dikaitkan dengan Sejarah Budi Utomo 20
Mei 1908. Menurut Ahmad Mansur Suyanegara, Gerakan Budi Otomo adalah gerakan
lokal, hanya diperuntukkan untuk suku Jawa, apakah harus dikatakan sebagai
kebangkitan nasional? Bahkan suku lain tidak diizinkan masuk ke dalam
gerakan tersebut. "Saya ingin kita mengevaluasi Hari Kebangkitan Nasional
tersebut," tegas Ahmad Mansur

Sebagai pakar Sejarah Islam, Ahmad Mansur Suryanegara juga menyinggung
keberadaan suku Minangkabau yang dikatakannya sebagai penggerak aliran
komunis di Indonesia. Disebutkannya beberapa nama, seperti Tan Malaka.
"Namun demikian,"ujarnya lagi "banyak juga Suku Minangkabau menjadi pemuka
Agama Islam, seperti Hamka," tambahnya.

Saya pribadi menyambut baik gagasan Ahmad Mansur Suryanegara ini sebagaimana
pendapat Asvi Warman Adam yang juga mengatakan jika menulis G.30.S tanpa
PKI. Menurut saya ini merupakan sumber-sumber yang mengajak bangsa ini lebih
kritis melihat suatu permasalahan, sekaligus mengajak untuk menelusuri lebih
jauh sejarah bangsa, tidak sekedar meng "Iya" kan atau sebaliknya. Sudah
saatnya para sejarawan menggali hal-hal atau penemuan-penemuan baru yang
jika keliru bisa diperdebatkan lagi, sehingga kita tidak terpaku kepada
pendapat para ahli dari luar negeri semata-mata. Tidaklah mungkin kita
percaya seratus persen dengan pendapat para ahli luar negeri yang sedang
mengkaji masalah bangsa Indonesia, di bandingkan dengan para ahli dari dalam
negeri sendiri yang adalah bangsa Indonesia sendiri.

Ya, pada saatnya pula kita harus berbicara mengenai keterbatasan Saya ingin
menggaris bawahi mengenai suku Minangkabau yang juga dikategorikan sebagai
pemberontak dan disebut pula oleh Ahmad Mansur Suryanegara, yaitu Ahmad
Husein, Pemimpin PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Hal
ini saya bantah, karena sebelum meninggalnya, saya dua kali bertemu Ahmad
Husein. Dia mengatakan, bahwa PRRI adalah pemberontak, itu tidak benar.
"Kami bukan pemberontak,"ujarnya. "Kami hanya melakukan koreksi total
kesenjangan antara pemeintah pusat dan daerah, selain mengingatkan Presiden
Soekarno tidak terlalu dekat dengan Partai Komunis Indonesia," tegas Ahmad
Husein yang waktu itu sudah sakit-sakitan di kursi rodanya.

Kembali mengenai keterbatasan ini, saya ingin mengutip pernyataan Dr.Alfian
(alm), salah seorang sejarawan Indonesia yang terkenal pada masanya. Di
dalam sebuah pengantar buku:"Meluruskan Sejarah karya B.M.Diah," Alfian
mengatakan bahwa sesuai dengan tuntutan profesi keilmuannya, para ahli
sejarah tentu berusajha keras untuk bersikap obyektif dalam menulis
karyanya. Sungguh pun begitu, ujarnya, jauh di lubuk hati dan alam
pikirannya, mereka mengetahui betul bahwa mustahil bagi siapa saja, betapa
pun pintar dan ahlinya, untuk menghasilkan tulisan sejarah yang dapat
dikatakan betul-betul obyektif dan sempurna. Sebuah tulisan sejarah memang
dapat dikatakan, ditinjau dari segi mutu dan sebagainya, lebih obyektif dan
lebih sempurna dari karya-karya lainnya. Tetapi tulisan tersebut tidaklah
dapat dikatakan sebagai sesuatu yang final atau sebuah karya tanpa kelemahan
dan kekurangan sama sekali. Di samping banyak tulisan sejarah yang buruk dan
tidak bermutu, biasanya ada sejumlah karya yang dinilai baik dan berkualitas
tinggi.

Bagaimana pun juga, tegas Alfian, para ahli sejarah sendirilah yang
pertama-tama mengakui bahwa tidak ada tulisan sejarah yang betul-betul
sempurna, dan juga betul-betul lurus.

"Itulah antara lain sebabnya mengapa sejarah merupakan salah satu bidang
studi yang bagaikan sumur penelitian yang tak pernah kering atau lahan
pengkajian yang tak pernah habis. Dari waktu ke waktu, dari generasi ke
generasi, berbagai ahli datang menimba atau menggarapnya, dan dari situ
lahir karya-karya sejarah baru memperkaya khasanah yang sudah ada yang terus
membesar," jelas Alfian.

 

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke