Dalam pertemuan atau reuni pejuang divisi Banteng di Sungai Dareh itu juga 
hadir 
Buya M. Natsir, buya ini kan bukan tentara bahkan beliau kan ketua partai 
terbesar waktu itu, kenapa hadir juga disana?

Apakah urgensinya beliau dan beberapa tokoh2 lain-nya turut hadir pula disitu?
abp58




________________________________
Dari: zul amri <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rab, 8 September, 2010 15:09:41
Judul: Bls: [...@ntau-net] Fakta Sejarah PRRI


Sanak Rony dan sanak palanta yang ambo hormati 
Dalam buku yang ditulis  R.Z Leirissa ada ditulis bahwa pertemuan  tersebut 
diadakan di sebuah pesanggrahan ditepian sungai Batanghari Nagari Sungai Dareh  
, jadi bukan di Salido seperti yang disebutkan . Dipilihnya Sungai Dareh 
sebagai 
tempat berunding didasarkan pada pertimbangan taktis , Mana yang benar ???
Kalau bisa janganlah kita memutar balik sejarah . Pada saat pertemuan tersebut 
saya tinggal di Sungai Dareh dan masih berumur 10 Tahun.

Salam : Zul Amry Piliang , 62 th , asal Saok Laweh Solok kini tingga di 
Denpasar 
Bali.




________________________________
Dari: rony <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rab, 8 September, 2010 13:53:33
Judul: [...@ntau-net] Fakta Sejarah PRRI

 
Fakta Sejarah PRRI
Oleh : Yoseph   Tugio Taher | 02-Des-2007, 20:14:58 WIB  
Kabar   Indonesia -   Lima puluh tahun yang lalu, tepatnya 20 Desember 1957,  
di 
sebuah kota   kecil di pesisir barat pantai Sumatera yang bernama Salido, 
berlangsung suatu   sidang reuni para militer pejuang yang tergabung dalam 
Resimen IV Divisi   Banteng Sumatera Tengah. Reuni tersebut menghasilkan dan 
membentuk suatu badan   organisasi yang dinamai "Dewan Banteng" dengan 
tokoh-tokoh militer   seperti Kolonel Achmad Husein, Kolonel Dahlan Jambek, 
Kolonel M. Simbolon dan   lain-lain sebagai para atasan dan penggeraknya.

Tidak diketahui oleh umum, apa maksud dan tujuan para pejuang militer   
tersebut 
mengadakan reuni dan membentuk suatu badan yang bernama "Dewan   Banteng" itu. 
Namun, seseorang yang mengetahui, menceritakan bahwa   sidang reuni tersebut 
"dihadiri" oleh "tokoh pusat" dan   dianggap sebagai sesepuh atau "ninik mamak" 
yang berasal dari ranah   Minang, yang dalam sidang itu memberikan sambutan dan 
petuah: "Pandai-pandai membao   diri, bapijak di tanah nan sabingkah, manari di 
lapiak nan sahalai! " (Pandai-pandai membawa diri, berpijak di tanah yang 
sebungkal, menari di   tikar yang sehelai!). 

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke