Heboh tulisan Kolonel Adji Suraji yang dimuat harian kompas 6 September 2010
lalu menimbulkan banyak opini. Komentar-komentar yang saya baca di media *
online* dan berbagai milis menunjukkan Kol. Adjie mendapat dukungan yang
sangat luas seperti dialami orang-orang yang diperiksa lainnya.

Memang dukungan terhadap Kolonel Adjie belum seluas dukungan terhadap
penulis *email* Prita Mulyasari, kriminalisasi pimpinan KPK Bibit-Chandra
atau penahanan Susno Duaji. Tetapi sentimen masyarakat memang sulit ditebak.
Namun apapun yang terjadi, ada pelajaran yang bisa diambil di lembah patahan
(*cracking zone*) yang tengah terjadi di Indonesia. Apa itu?



*Pribadi Menjadi Publik*

Anda yang berusia 40 tahunan ke atas mungkin masih ingat, masa remaja Anda
diisi dengan buku harian (*diary*) yang halamannya berwarna, dan beberapa *
diary* dilengkapi dengan kunci sehinggga buku pribadi itu bisa digembok.
Buku harian adalah tempat Anda mencurahkan segala perasaan Anda terhadap
siapa saja yang menjadi rahasia hidup Anda.

Pikiran dan opini disimpan, dan tidak bisa dipaparkan secara terbuka.

Lain generasi, lain pula perilakunya. Apa yang dilakukan masyarakat di
era *social
media* saat ini berkebalikan sama sekali. *Diary*dituangkan dalam bentuk
tulisan di *blog* yang bisa dibaca dan diakses oleh siapa saja. Di berbagai
*blog*, bahkan di “*wall*” masing-masing Facebook saya sering menyaksikan
keluh kesah suami pada istrinya atau sebaliknya, anak kepada orang tua, atau
yang tersering rakyat kepada pemimpinnya. Tak ketinggalan juga caci maki
pembaca kepada penulis-penulis opini terkenal disamping pujian-pujian dan
kekaguman-kekaguman tentunya.

Segala sesuatu yang semula bersifat pribadi kini terbuka. Kolonel Adji tentu
bukan remaja baru kemarin yang dibentuk dari sejarah keterbukaan. Ia bukan
generasi *digital* pribumi (*native digital*), melainkan imigran
*digital* (pendatang
di dunia *digital*) yang sama statusnya dengan saya dan sebagian pembaca.
Kalau Anda rajin mengamati fenomena pesta *blogger* di berbagai kota di
negeri ini, Anda akan menyaksikan, rata-rata *blogger *itu berusia 20-30
tahunan. Tetapi bukan tak ada yang berusia 40-50an. Generasi pendatang ini
adalah generasi transisi yang – maaf – serba kasihan dan kagok. Kalau tidak
ikut terbuka dianggap kuno dan ketinggalan, tetapi begitu ikut, bisa jadi
setengah ngawur, dan *lebay* (berlebihan). Tetapi menjadi orang yang
tertutup, *jaim*, sok tahu, mendiamkan persoalan, tak mau ambil pusing, Cuma
asyik memikirkan karir saja – jelas bukan pilihan yang menarik bagi generasi
ini.

Celakanya, satu generasi sedikit di atas kita masih bertengger orang-orang
yang terbiasa memimpin *Top-Bottom*, dengan nilai-nilai kesetiaan
(loyalitas), taat-diam, jalankan saja, tutup mata, dan seterusnya. Di bawah,
generasi-generasi baru adalah generasi yang seolah-olah  *Asri* (Asyik Sibuk
Sendiri), tetapi mereka sangat partisipatif, berisik (banyak opini),
terbuka, dan suka-suka. Kata setia menjadi ujian dalam banyak  hal, namun
nasionalisme mereka belum tentu kalah dengan generasi “45”.

Inilah yang membuat generasi transisi serba terjepit. Kalau saya baca
tulisan Kolonel Adjie, sepintas saya melihat tak ada yang perlu
dikhawatirkan. Tulisan itu masih dalam batas-batas kewajaran dan sopan
santun. Ia hanya minta perhatian sebagaimana yang dituntut mayoritas bangsa
ini, yaitu pemberantasan korupsi. Ia menuntut janji presiden yang diucapkan
saat kampanye. Untuk itulah ia menuntut adanya keberanian, sebab tanpa
keberanian tak ada perubahan. Ia pun menaruh harapan yang tampak pada
kalimat penutup tulisannya. Ini berarti Kolonel Adjie tetap respek pada
panglima tertingginya.



*Dilema Penulis Muda*

Meski berpangkat Kolonel, di kalangan kolomnus, nama Adjie Suradjie bukanlah
sosok penulis yang banyak dikenal. Dapat dikatakan ia adalah pemula yang
masih harus membangun “*personal brand*” agar tulisannya dibaca atau dilirik
orang. Penulis-penulis muda biasanya tergoda untuk menulis secara lepas dan
menunjukkan keberaniannya dengan sedikit galak, bahkan tak sedikit yang
berwacana *ngawur*. Yang penting kelihatan berani. Dalam tulisan Adjie di
Kompas, saya tidak melihat ia *ngawur*, namun terlihat ia berani.

Berani bukan tampak dari tulisannya, melainkan saat ia menjelaskan siapa
jati dirinya. Di tulisan itu tertera keterangan bahwa ia adalah anggota TNI
AU. Di sinilah letak masalahnya. Saya kira hal ini bukanlah masalah Adjie
semata-mata, melainkan masalah kaum intelektual bangsa yang bekerja terikat
pada institusinya. Sebagian besar kolomnis Indonesia adalah karyawan yang
bekerja sebagai dosen dan terikat dengan universitasnya, guru yang bekerja
untuk sekolahnya, atau PNS pada berbagai departemen. Barangkali, hanya
budayawan dan seniman, atau pengusaha dan profesional (ahli) tertentu saja
yang tak bekerja pada orang lain.

Akan lain halnya misalnya bila di kolom itu, Adjie menulis dirinya sebagai
pengamat perubahan atau pakar perubahan. Yang jelas pembaca pasti
memerlukan *title*, karena *title *menentukan derajat kepercayaan terhadap
isi tulisan.

Tetapi *title* apakah yang bisa ditulis penulis-penulis atau
intelektuil-intelektuil  yang baru muncul di media massa? Pengamat? Apakah
ia bisa benar-benar mengamati bidang ini terus menerus? Pakar? Pembaca pasti
bertanya, apa dasarnya kita memberi *title*kepakaran seseorang kecuali
karya-karyanya sudah tampak kasat mata terbaca luas?

Maka biasanya media kembali pada di mana seseorang bekerja. Namun begitu
atasan ikut membaca dan tulisan itu bisa ditafsirkan lain, urusannya bisa
menjadi panjang. Di TNI-AU sendiri harus diakui budaya menulis dan
intelektualitasnya dapat dikatakan tinggi. Kita tahu, mantan KSAU Marsekal
Chappy Hakim adalah penulis dan pengamat yang sangat produktif dan
dihormati. Semasa aktif di TNI ia pun aktif mendorong kolega-koleganya
menulis buku. Jadi Kolonel Adjie bukanlah pembangkang yang perlu
dikhawatirkan.

Namun yang perlu diwaspadai adalah manakala budaya menulis di TNI-AU itu
mati atau meredup. Budaya ini biasanya mati manakala orang-perorangan sudah
tidak peduli lagi dengan nasib bangsa dan hanya asyik dengan karirnya
sendiri. Yang penting jadi pejabat, jadi Jendral, Marsekal, Laksamana,
Deputy, Panglima, atau Kepala Staff. Untuk duduk di posisi-posisi itu yang
dibutuhkan seakan-akan cuma loyalitas dan kepatuhan.

Nah begitu konsentrasi orang hanya ke sana, celakalah para intelektual dan
penulis. Mereka akan dianggap sebagai ancaman dan sosoknya menjadi terlihat
aneh. Penulis dan intelektual dikenal luas di luar, tetapi di dalam
pangkatnya susah naik, dan tak jarang mereka hidup terteror, difitnah,
dianggap bodoh, sok tahu, dan seterusnya. Tetapi semua itu hanyalah cermin
ketakutan dan ketidakberdayaan hirarki terhadap tajamnya pena seorang
penulis atau kolumnis.

Kalau Adjie Suradji sukses dan terus mengarah penanya, ia justru akan
menjadi penulis hebat dan kelak orang-orang yang menistakannya dapat
mengatakan, “Dia itu teman saya.” Tetapi sebaliknya, dalam politik
subordinasi, seorang penulis yang menjadi karyawan yang belum jadi, ya
teman-temannya bisa saja berujar, “Siapa dia?”

Pengalaman saya sebagai kolomnis dan juga pengalaman-pengalaman
kolomnis-kolomnis lainnya menunjukkan perlunya kegigihan dalam
memperjuangkan kebenaran. Sebagai bawahan kita semua mengalami masa-masa
yang sulit. Tulisan kita bisa dianggap biasa-biasa saja, meski di luar
banyak pihak mengkliping dan memberi apresiasi, bahkan media massa terus
memberi tempat dan semangat. Saya juga sering melihat pegawai *bank* yang
tulisannya diapresiasi publik dan media massa memberi dia gelar pakar atau
pengamat perbankan, namun saat mengunjungi kantornya saya sering merasa
kasihan. Ia cuma dianggap pegawai biasa dan dalam sejumlah hal dianggap
ancaman bagi atasan-atasannya atau dianggap sok tahu oleh teman-temannya.
Semua itu terjadi karena adanya rivalitas.

Namun terlepas dari itu semua, intelektualitas dan kepakaran seorang penulis
tentu perlu dibuktikan dengan kesungguhannya berkarya dan menjaga
integritasnya. Banyak pantangan yang harus dilakukan agar apa yang ditulis
bahkan sekedar baik bila dilakuakan orang lain (pemimpin), melainkan juga
melekat pada diri yang bersangkutan. Saat menuntut pemberantasan korupsi
misalnya kita pun harus teguh menolak suap dan bekerja keras memberantasnya
dalam hidup pribadi kita. Saat menuntut presiden agar teguh dan berani
melakukan perubahan, kita pun perlu melakukannya dalam hidup dan perjuangan
kita. Ketika menyuarakan kedamaian, tak ajal kita pun harus berperilaku
damai.
Semua itu ada ujiannya, dan ada fitnah-fitnahnya. Hadapi saja, sebab hanya
dibawah api yang membara, dan godam yang ditempa terus-menerus lah sebatang
besi berubah menjadi baja yang kuat dan mengkilat.

Diforwardkan dari milis khusus enterpreneur RKSE
Darwin Chalidi 61, Bintaro Jaya

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke