Awak lah banyak mandanga jatuhnya korban dek Miras Walau iko indak di Ranah Minang, bisa sajo produksinya masuak kanagari awak .................................. Melongok Lahan Eks Pabrik Biodiesel Pemprov Riau (1), Diduga Disewakan Oknum PNS untuk 'Pabrik' Tuak
Riauterkini-PEKANBARU- Kesan sebagai sebuah proyek mencusuar di gedung pabrik biodiesel pertama di Indonesia masih terlihat. Bangunannya masih kokoh, termasuk keberadaan seperangkat mesin mekanik pengelola CPO menjadi bahan bakar ramah lingkungan, namun sayangnya, proyek yang diresmikan Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kardiman dan Gubernur Riau M Rusli Zainal pada 19 Januari 2005 tersebut sudah lama terbengkalai. Tak berfungsi setara dengan biaya Rp 5 milyar yang dianggarkan pada APBD Riau 2003. Kini komplek pabrik biodiesel yang berlokasi di Desa Pangkalan Baru, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, tepatnya di depan Pesantren Teknologi Provinsi Riau tersebut tak terurus. Justru yang terurus adalah hamparan tanaman kelapa yang berada di kawasan tersebut. Kebun kelapa tersebut merupakan bagian dari lahan milim Pemprov Riau seluas 60 hektar yang pengelolaannya dipercayakan kepada Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Riau. bukti kepemilikan Pemprov atas lahan tersebut berupa 6 lembar sertifikat asli yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Beri tanggapan | Baca tanggapan Pabrik Biodiesel milik Pemprov Riau sudah lama terbengkalai. Kini lahannya yang berupa kebun kelapa berubah menjadi 'pabrik' tuak. Seorang oknum PNS diduga menyewakan secara sepihak. Melihat komplek proyek yang semula digadang-gadang menjadi solusi tepat bagi krisis energi BBM tersebut, sekilas tidak ada yang bermasalah. Semua nampak terlihat baik-baik saja, kecuali pabrik yang tak berfungsi. Kebun kelapanya terawat dengan baik. Tumbuh sumbur karena terus dibersihkan. Namun, setelah dicermati dengan seksama, baru terasa ironisnya. Kawasan pabrik biodiesel tersebut kini berubah fungsi. Tak lagi menghasilkan biodiesel sebagaimana diharap, melainkan menproduksi tuak, minuman keras tradisional yang dihasilkan dari proses prementasi nira atau air sadapan dari pangkal tangkai tandan kelapa yang belum jadi. Berhektar tanaman kelapa di lahan tersebut telah bertahun dikelola dengan sangat baik oleh seorang bos yang disebut bernama Simatupang. "Saya di sini hanya bekerja sama bos Tupang (Simatupang.red," ujar Panjul, seorang pekerja asal Lampung yang tengah sibuk mengasah pisau sadap kelapa saat ditemui riauterkini di kebun kelapa milik Pemprov Riau, Rabu (15/9/10). Ketika ditanya mengenai jati diri bosnya tersebut, Panjul hanya menyebutkan kalau bosnya tersebut tinggal di Pasir Putih, Siak Hulu. "Sekarang bos lagi tak di sini," tukasnya. Kepada riauterkini, Panjul menjelaskan, kalau hasil nira yang dikumpulkan dari sadapan dari kelapa di lahan tersebut diolah menjadi tuak. "Di sini kami hanya membuat tuak, pelanggan kami kedai-kedai tuak di kota (Pekanbaru.red)," tuturnya. Bagaimana Simatupang bisa mengelola lahan Pemprov Riau bertahun-tahun dan menjadikannya 'pabrik' tuak? "Kalau itu saya tak tahu. Saya di sini hanya bekerja," kilah Panjul.  Berdasarkan informasi yang dihimpun riauterkini dari sejumlah sumber, Simatupang bisa dengan leluasan mengelola lahan Pemprov Riau setelah menyewa dari seorang PNS di Balitbang Riau. Besarnya sewanya berkisar Rp 10 juta setahun. Mengenai sewa-menyewa lahan milik Pemprov di kawasan eks pabrik biodisel tersebut ternyata di luar pengetahuan Biro Perlengkapan Setdaprov Riau. "Kami sudah dengar itu ada PNS Balitbang yang secara sepihak menyewakan lahan tersebut, itu yang sedang kami selidiki untuk ditertibkan," ujar Kasubag Pengawasan Aset Biro Perlengkapan Setdaprov Riau Edi Saputra kepada riauterkini di Pekanbaru, Rabu (15/9/10). Dikatakan Edi, lahan Pemprov Riau di kawasan tersebut terdiri dari beberapa hamparan, termasuk lokasi Pesantren Teknologi dengan luas 105 hektar dan lahan eks pabrik biodiesel seluas 60 hektar. Saat ini Biro Perlengkapan sedang berupaya menertibkan pendataan dan pengelolaannya.***(mad) --TR .......... Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
