Ketika berdiri di dekat dan bercengkrama dengan gadis-gadis penerima tamu yang 
sebagian besar saya kenal baik pada Konperensi Nasional menjelang berakhirnya 
masa bakti program PERFORM November 2004 di Hotel Radison, Sanur, Bali, 
tiba-tiba saya melihat pak Gusril datang mendekat hendak mendaftar. Kami memang 
mengundang Pemkab/Pemkot dan BUMD/RSUD   yang dinilai berhasil melaksanakan 
perencanaan partisipatif yang kami fasilitasi. Pak Gusril mendaftar bersama 
seseorang yang sederhana tapi berwibawa. Figur yang sebelumnya hanya saya lihat 
fotonya saja [2], segera saya kenali sebagai Bupati Tanahdatar Pak Masriadi 
Martunus.

Tetapi yang mengesankan bagi saya ketika itu, bukan hanya  kesederhanaan dan 
prestasinya yang ketika itu sering jadi perbincangan di  koran-koran nasional , 
tetapi ketika  Pak Masriadi mengatakan bahwa beliau tidak perlu disediakan 
kamar sendiri, cukup sharing saja dengan Pak Gusril.

Suatu hal yang untuk pejabat tingkat bupati/walikota bagi saya sangat 
mencengangkan .

Ya, prestasi Bupati yang sederhana ini---di samping Bupati Solok ketika itu 
Gamawan Fauzi---memang cukup mengkilap. Di bawah kepemimpinan Pak Masriadi , 
Kabupaten Tanah Datar  dinyatakan oleh lembaga `International Partnership' dan 
Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia sebagai satu dari tujuh kabupaten 
terbaik dari 400 lebih kabupaten dan kota di Indonesia. Bahkan LIPI menobatkan 
kabupaten terkecil di Sumbar itu  sebagai satu dari empat daerah paling 
berprestasi dan berhasil melaksanakan otonomi daerah.. Tanggal 16 Agustus 2004 
Pak Masriadi meraih piagam penghargaan sebagai pengelola pendidikan terbaik di 
Sumbar dari Gubernur Sumbar

Seperti diketahui pada tahun 2005 Pak Masriadi tidak terpilih lagi dalam 
Pemilukada langsung yang mulai diberlakukan di Indonesia. Dengan tidak 
mengurangi rasa hormat saya kepada hak masyarakat Tanahdatar untuk memilih 
Bupati yang paling sesuai dengan aspirasi mereka, sebagai orang yang berkampung 
halaman di Sumbar dan perduli terhadap terselenggaranya tata pemerintahan 
daerah yang baik (good local  governance)  di Tanah Air tercinta ini saya 
merasa risau, sosok-sosok seperti Pak Masriadi pagi-pagi sudah harus tersingkir 
dari gelanggang.

Apalagi dari pemberitaan media masa nasional  yang saya ikuti, sepanjang  
2005-2010, hampir tidak ada prestasi kabupaten/kota  di Sumatera Barat yang 
yang terlalu menonjol, kalau tidak hendak dikatakan "hilang dari peredaran".

10 bupati dan wali kota pilihan MBM TEMPO menjelang tahun 2008 dengan 
menggunakan kriteria seleksi  pelayanan publik, transparansi, dan keramahan 
pada dunia usaha, hanya memilih Wali Kota Solo Joko Widodo, Wali Kota 
Yogyakarta Herry Zudianto, Bupati Sragen Untung Sarono Wiyono Sukarno, Wali 
Kota Blitar Djarot Syaiful Hidajat, Bupati Jombang Suyanto, Bupati Badung Anak 
Agung Gde Agung, Wali Kota Tarakan Jusuf Serang Kasim, Wali Kota Makassar Ilham 
Arif Sirajuddin, Bupati Luwu Timur Andi Hatta Marakarma, dan Bupati Gorontalo 
David Bobihoe [3].

Sementara MBM TEMPO Edisi Khusus Kemerdekaan tahun 2009 yang mengetengahkan 
sembilan daerah yang mereka pilih sebagai bintang otonomi daerah,  melewatkan 
seluruh kabupaten/kota di Sumbar. Mereka memilih Kota Solo menjadi rumah paling 
nyaman bagi pedagang kecil, Kabupaten Purbalingga yang menyediakan akses pangan 
bagi warga miskin, Kota Yogyakarta yang memberikan pelayanan kesehatan yang 
cepat dan murah, Kabupaten Musi Banyuasin yang menyelenggarakan pendidikan 
gratis dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Lalu ada lagi Kota Bau-Bau 
di Pulau Buton Sulawesi Tenggara, Kabupaten Kebumen, Kota Blitar, Kabupaten 
Lebak, dan Kabupaten Jember. [4]

Prestasi lain? Hasil Survei Indeks Persepsi Korupsi Indonesia yang dilakukan 
pada September sampai dengan Desember 2008 oleh Transparency International (TI) 
Indonesia yang bertujuan untuk mengukur tingkat korupsi pemerintah daerah 
berdasarkan persepsi pelaku bisnis setempat, Padang  tidak  termasuk kota yang 
berada di peringkat atas kelompok kota-kota terbersih dari korupsi. Survei 
tersebut  menempatkan  lima ibukota provinsi terbersih di indonesia 
masing-masing Yogyakarta, Palangkaraya. Banda Aceh, Jambi, dan Mataram.  

Yang pasti tentunya ada, tetapi saya ketahui dari beberapa postingan di RN. 
antara lain Bupati Agam Aristomunandar. Saya tidak terlalu heran. Beliau  mitra 
kami dulu di PERFORM dan memperoleh PERFORM Award karena perhatian dan dukungan 
beliau terhadap pemberdayaan pengrajin sulaman di Ampekangkek.

Adapun Pak Gamawan setelah menjadi gubernur---dari berita-berita yang saya 
ketahui  dari  media masa---masih meneruskan yang dikerjakannya ketika menjadi 
Bupati Solok, membangun pemerintah daerah yang bersih dan efisien, yang 
hasilnya tentu orang di ranah yang lebih tahu. Tetapi ada prestasi beliau yang 
tampaknya tidak terlalu terekspos ke media, yaitu menjadikan  Sumbar dipilih 
dan berhasil menyelenggarakan LPSE atawa  layanan pengadaan barang dan jasa 
pemerintah secara elektronik berbasis internet  (e-government procurement),  
yang dikenal sebagai manajemen pelayanan publik yang sangat mempersempit 
peluang terjadinya KKN dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah. Hal ini 
mempunyai arti penting karena selama ini, sebagian besar kasus korupsi di 
kalangan aparat pemerintah di Indonesia, berasal dari kolusi / penyalahgunaan 
wewenang dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Ceritanya, ada akhir Agustus 2007,  Provinsi Sumatera Barat dan  empat provinsi 
lainnya, masing-masing Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimatan Tengah dan  Gorontalo 
dipilih oleh Bappenas menjadi Pusat Regional  LPSE.  Sampai dengan akhir 2008, 
baru tiga provinsi yang berhasil menyelenggarakan LPSE, yaitu Sumbar, Jabar dan 
Gorontalo [5].   

Namun prestasi pak Gamawan dalam memajukan pariwisata, dan program pengentasan 
kemiskinan---yang terakhir ini---disampaikan beliau sendiri pada acara halal 
bihalal dengan warga IKM se kota Depok sehabis Idulfitri di tahun 2005, menurut 
apa yang saya ketahui dari media masa, tidak terlalu mengesankan (CIIMW). 

(menurut catatan yang ada pada saya tingkat penduduk miskin di Sumbar 
berdasarkan data 2006 mencapai 30%) .

Pertanyaannya, apakah ranah saat ini sedang bermasalah?

Kalau ditanyakan kepada beliau-beliau yang selalu pergi tidur dengan perut 
kenyang---maaf--- budayawan atau bukan, pemangku adat atau bukan, alim ulama 
atau bukan, sebagian akan menjawab, "Tidak ada masalah". So, let's doing 
business as usual! 
   
Atau lagi-lagi, apakah  saya kah yang sangat `lebay'?

(bersambung) 


Wassalam, HDB-SBK (L, 67) 

[2]Induk program PERFORM adalah Program Dasar Pembangunan Partisipatif (PDPP), 
yang mitranya pemkot/pemkab/pemprov.  Ketika itu kami bermitra dengan ± 70 
kabupaten/kota yang tersebar di 7 provinsi di Indonesia, termasuk   10 
kabupaten/kota.di Sumbar . Berbeda dengan rekan-rekan  yang bekerja di program 
induk, saya hanya sesekali bertemu secara personal dengan para walikota dan 
bupati mitra kami.

[3] 10 Bupati dan Wali Kota Pilihan Tempo 2008, Koran TEMPO, 22 Desember 2008 
(http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/12/22/headline/krn.20081222.151716.id.html)

[4] Bintang-Bintang Otonomi Daerah, MBM TEMPO 26/XXXVIII 17 Agustus 2009
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/17/LU/mbm.20090817.LU131146.id.html

[5] Hal ini saya ketahui  ketika  saya menjadi editor penulisan best practice  
pelembagaan LPSE di Jawa Barat atas permintaan USAID Local Governance Support 
Program (LGSP),  yang memfasilitasi pelembagaan LPSE di Jabar dan Sumbar.  


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke