VALIDASI. Tiba-tiba jadi kata yang membuat korban gempa Sumbar 30 September 2009 ketar-ketir. Penilaian subjektif dari fasilitator teknik yang telah direkrut BNPB --sebagai tenaga pendamping penyaluran bantuan--, ternyata berimplikasi pada perubahan klasifikasi kerusakan yang diderita warga.
Ada yang awalnya tercatat sebagai rusak berat, setelah divalidasi berubah jadi ringan. Begitu juga sebaliknya. Berubahnya klasifikasi kerusakan, berimplikasi dengan nominal bantuan yang akan diterima. Kelompok rusak berat bakal menerima Rp15 juta dan Rp10 juta (korban rusak ringan). Dana ini berasal dari APBN. Tak ayal, persoalan validasi ini bakal jadi batu sandungan dalam menuntaskan pendistribusian bantuan gempa 2009, yang ditargetkan gubernur Sumbar Irwan Prayitno akan tuntas dalam dua bulan kepemimpinannya di Sumbar, setelah dilantik 15 Agustus silam. Selain itu, juga berpotensi memicu konflik horizontal. Karena tak ingin jadi pemicu konflik, seorang teman yang tercatat sebagai fasilitator bantuan gempa, memilih untuk tidak melaksanakan validasi ini. Alasannya sederhana. Kenapa mesti memerlukan validasi ulang atas data resmi yang dikeluarkan pemerintah? Bila mencermati mekanisme penyusunan data korban gempa yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pengklasifikasian korban gempa ini dilakukan secara berjenjang. Strategi yang diterapkan juga bottom-up. Dimulai dengan pendataaan oleh pengurus rukun tetangga (RT), dikumpulkan petugas kelurahan, direkap pemerintah kota/kabupaten kemudian provinsi hingga sampai ke meja pejabat di Jakarta sana. Selain itu, juga melalui verifikasi ketat dengan melibatkan pihak ketiga (NGO's) sesuai dengan tingkatan pengumpulan data. Hasilnya, 135.448 unit rumah 'urang awak' masuk kategori rusak berat, 65.280 unit (rusak sedang) dan 78.604 unit (rusak ringan). Sementara, kerusakan pada fasilitas umum, sebanyak 2.163 ruang pendidikan tak bisa digunakan lagi, 51 unit fasilitas kesehatan hancur. Selanjutnya, 1.001 rumah ibadah tak bisa dimanfaatkan lagi, 21 unit jembatan tak bisa dilalui, 178 macam ruas jalan dan 130 irigasi rusak berat. Berdasarkan data inilah, bantuan pusat untuk korban gempa Sumbar nominalnya menjadi fixed, setelah sebelumnya melalui serangkaian pembahasan alot antara pemerintah dan wakil rakyat di DPR RI. Kenapa mesti divalidasi lagi? Apakah mereka tidak bisa memercayai data yang telah susah payah dikumpulkan dan kemudian diusulkan ke pusat untuk disetujui? Ini merupakan pertanyaan yang harus dijawab pemerintah terutama lembaga yang mengurus masa recovery dan rekonstruksi di Sumbar. Yang pasti, kalau validasi ini terus dilanjutkan, akan membuka ruang terjadinya praktek menyimpang. Sebab, praktek culas selalu mewarnai pencairan bantuan bagi korban gempa, yang telah hidup nelangsa setahun terakhir ini. Yang terbaru, pemotongan saat pencairan sebesar Rp150 ribu - Rp300 ribu untuk korban gempa 2009. Sebelumnya, saat masa tanggap darurat, praktek pemotongan bantuan juga terjadi. Begitu juga saat penyaluran bantuan untuk korban gempa 2007, yang baru pada musim pemilu kepala daerah 2010 ini dituntaskan para kepala daerahnya, juga diwarnai pemotongan. (*) imran 34+, tingga di padang -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
