Membaca berita di bawah ini,
timbul kenangan,
suka duka melaksanakan tugas
pada masa lalu.
Daerah Ulak Karang
dan daerah Padang Pariaman,
adalah tempat saya "bermain"
pada masa lalu.
Daerah Agam,
bukan yurisdiksi saya.
3 orang anak buah saya,
terluka pada waktu pos mereka
terkena raids dari GPK.
Nyali kelompok Sumbar,
nampaknya kalah
dengan nyali kelompok Medan.
Kelompok Medan melakukannya
pada siang hari,
terhadap sasaran
yang dijaga anggota Brimob.
Namun demikian,
kelompok Sumbar setelah terpojok,
mereka berani melakukan perlawanan.
Aroma terorisme cukup menyengat.
Hanya pelaku pada masa lalu,
mungkin beda aspirasi
dengan pelaku masa kini.
Pengamat boleh saja berkomentar,
se-enak udelnya.
Tapi tidak ada komandan,
yang lebih senang
mengantar anak buahnya ke TMP,
dari pada
menembak mati teroris/pelaku perampokan.
Salut untuk Polda Sumbar,
Polda Sumut dan Densus 88!
Selain menembak mati pelaku perampokan,
juga berhasil menangkap hidup-hidup
para pelaku perampokan.
Wassalam, Jacky Mardono.
===============================
Keterlibatan Teroris Dicurigai
Minggu, 26 September 2010 | 02:52 WIB
KOMPAS/INGKI RINALDI
Iring-iringan mobil dan ambulans polisi mengangkut jenazah dan tersangka
perampokan mesin ATM dari kaki Gunung Singgalang yang terletak di Jorong Ladang
Nangguak Batu, Nagari Pakan Sinayan, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam,
Sumatera Barat, Sabtu (25/9) sore.
Agam, Kompas -
Tiga dari 10 pelaku perampokan
mesin anjungan tunai mandiri di Padang,
Sumatera Barat, ditembak mati oleh aparat gabungan, Sabtu (25/9).
Perampokan itu diduga dilakukan kelompok teroris
karena mempunyai modus yang sama
dengan perampokan di Medan.
Kepala Bidang Penerangan Umum
Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia
Komisaris Besar Marwoto Soeto,
Sabtu,
mengatakan, kemungkinan besar
pelaku merupakan kelompok teroris
karena memiliki kesamaan modus
dengan pelaku Bank CIMB Niaga di Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu.
Ciri-ciri mencolok
adalah membawa senjata
dan merampok anjungan tunai mandiri (ATM).
Saat ini Kepolisian Daerah (Polda) Sumbar
telah berkoordinasi dengan Polda Sumut
untuk mencocokkan barang bukti yang ditemukan.
Hingga semalam,
Kepala Polda Sumbar Brigadir Jenderal (Pol) Andayono
dalam jumpa persnya menyebutkan,
empat pelaku ditangkap dalam penyergapan
yang dilakukan aparat gabungan.
Tiga pelaku tewas ditembak,
yaitu satu pelaku di Pariaman
dan dua pelaku yang lain di Agam.
Marwoto mengatakan,
dengan tertangkapnya sejumlah pelaku,
diharapkan pengembangan penyelidikan
dapat dilakukan lebih maksimal.
Terhadap pelaku yang buron,
yaitu dua orang
dan kemungkinan terkait dengan jaringan teroris,
aparat kepolisian akan menindak tegas.
Petugas gabungan yang memburu para perampok itu
terdiri dari satuan Resmob Polda Sumbar
dan polisi dari
Kabupaten Padang Pariaman,
Kota Pariaman,
Kabupaten Agam,
Kota Padang Panjang, dan Kota Bukittinggi.
Dalam penyergapan, terjadi dua kontak senjata.
Para pelaku yang tewas
dibawa dengan sejumlah ambulans ke RS Bhayangkara,
Kota Padang.
Demikian pula
dengan para pelaku
yang di antaranya
tampak mengalami luka tembak
di bagian paha,
kemudian diangkut di bagian belakang minibus polisi.
Rampok ATM.
Pada Sabtu menjelang pukul 04.00,
10 anggota komplotan perampok itu
diduga melakukan perampokan tiga mesin ATM
di kampus Universitas Bung Hatta,
Ulakkarang, Kota Padang.
Para perampok membawa kabur
uang Rp 172 juta di mesin ATM milik Bank Bukopin,
Rp 200 juta milik Bank Nagari,
dan merusak mesin ATM milik Bank BNI.
Para pelaku menggunakan mesin las
dan merusak brankas
dengan cara memotong besi penutupnya
untuk mengambil uang di dalam brankas,
sementara
mesin ATM Bank Nagari digondol secara utuh.
”Para pelaku memukul anggota satpam,
mengikat dengan tali rafia warna hijau
dan plakban hitam,
serta menyekap mereka
dalam ruang satpam kampus,”
kata Amrizal, petugas satpam Universitas Bung Hatta.
Wakil Kapolresta Padang
Ajun Komisaris Besar Wisnu Handoko
mengatakan,
selain ketiga anggota satpam,
para pelaku juga menyekap dua warga
yang saat itu berada di sekitar lokasi kejadian.
Kepala Bagian Operasi Polresta Padang
Komisaris Arief Budiman menambahkan,
polisi berhasil mengidentifikasi pelaku perampokan itu
berkat rekaman close circuit television (CCTV)
yang terdapat dalam bilik ATM Bank Nagari.
Kepala Bidang Humas Polda Sumbar
Ajun Komisaris Besar Agus B Kawedar mengatakan,
para tersangka
disergap di kaki Gunung Singgalang.
Mereka berusaha kabur
setelah tertangkap dalam razia
di wilayah Kabupaten Padang Pariaman.
Dalam penyergapan itu,
terjadi dua kontak tembak.
Kontak pertama
terjadi di jalan poros Kabupaten Padang Pariaman
menuju Kabupaten Agam
saat polisi melakukan razia.
Satu tersangka tewas ditembak
dan seorang lagi ditangkap.
Kontak senjata kedua
terjadi di kawasan perladangan
di kaki Gunung Singgalang
yang terletak
di Jorong Ladang Nangguak Batu,
Nagari Pakan Sinayan,
Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam.
Dua orang tewas ditembak.
Empat tersangka ditangkap
dalam aksi penyergapan
yang dipimpin Kapolda Sumbar Brigjen (Pol) Andayono itu.
Lebih dari dua orang masih buron.
Kemarin,
ratusan warga di sekitar lokasi penyergapan kedua
di kawasan dataran tinggi itu
memenuhi jalan di sekitar lokasi kejadian,
yang berjarak sekitar 7 kilometer dari Bukittinggi itu.
Sebagian warga mengatakan,
kontak senjata
mulai terjadi sekitar pukul 13.00.
Dalam penyergapan itu,
polisi menemukan dua pucuk senjata genggam merek Beretta
yang digunakan komplotan perampok
saat melakukan perlawanan.
Sejumlah polisi bersenjata laras panjang
tampak terus berjaga-jaga di pinggir jalan.
Hingga berita ini disusun
belum ada keterangan resmi
soal identitas para pelaku tersebut.
Dalam aksinya,
para pelaku menggunakan kendaraan roda empat.
Semalam dua barang bukti ditahan polisi
berupa kendaraan minibus Suzuki APV dan Toyota Avanza
yang merupakan kendaraan sewaan.
Nyaris bersamaan
dengan kontak senjata di Kabupaten Agam,
polisi juga melakukan penggerebekan
di Korong Pasar Mudik, Nagari Lubuk Alung,
Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.
Polisi mencari salah seorang tersangka
yang diidentifikasi warga setempat
sebagai Wempy atau Khairil.
Joni (35), salah seorang warga, mengatakan,
penggerebekan dilakukan sekitar pukul 13.30
dengan tembakan peringatan ke udara
yang diletuskan sebanyak dua kali oleh anggota polisi.
”Tapi polisi tidak berhasil
menangkap siapa-siapa di sini,
pintu rumah Wempy terkunci dan tidak ada orang,” kata Joni.
Wempy diketahui
mengontrak salah satu rumah petak
di daerah itu
dan telah tinggal bersama istri
dan seorang anaknya sekitar setahun terakhir.
Ia menambahkan,
sepanjang pengetahuannya,
Wempy yang dikenal warga sekitar
relatif jarang terlihat di rumahnya itu
mengaku bekerja di bidang jasa transportasi.
”Kadang juga suka cerita
sedang mengerjakan proyek,
tetapi tidak jelas proyeknya apa,” kata Budi, warga yang lain. (INK/FER)
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.