Oh sanak Armen jo sanak palanta Ambo baru takana jo apak ko. Mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu baliau pernah ambo undang untuak sebuah acara di hotel ibis Slipi. Sebagai rangkaian dari acara itu, kami pai ba audiensi ka komisi III DPRRI membicarakan posisi ulayat masyarakat adat di Hutan Negara bersama perwakilan masyarakat adat nan lain dari 6 propinsi lain di Indonesia. Tapi karena indak ado ukatu cukuik, yo kurang tagali curito dari apak ko. Ambo ingek, baliau sempat kurang sehat ukatu itu, sahinggo kami pai pulo ka rumah sakik Pelni untuak mamaresokan kesehatan beliau.
Salam Andiko Sutan Mancayo ----- Original Message ----- From: "Armen Zulkarnain" <[email protected]> To: [email protected] Cc: "Lies Suryadi" <[email protected]>, "Saafroedin Bahar" <[email protected]>, "Hasril Caniago" <[email protected]> Sent: Monday, September 27, 2010 10:44:40 PM GMT +07:00 Bangkok, Hanoi, Jakarta Subject: Bls: [...@ntau-net] Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM >> Asbir Latif Dt Rajo Mangkuto >> Undang Adat Alam Minangkabau Assallamualaikum wr wb. Angku, mamak, bundo sarato dunsanak sapalanta rantaunet nan ambo hormati. Mengenai profil Angku Asbir latif Dt Rajo Mangkuto pernah saya lewakan beberapa waktu yang lalu (masih kisaran bulan Agustus - September 2010) berikut kontak person beliau & foto google map rumah beliau di Jl. Puyuh no 6 Air Tawar Padang. Mengapa hal ini saya lakukan? sebab menurut asumsi saya pribadi, tidak banyak kalangan ninik mamak penghulu kaum yang masih hidup saat ini yang pernah menjabat wali nagari diera sebelum pergolakan PRRI 1958 -1960. Mengapa ada keterkaitan antara tatanan adat budaya minangkabau dengan PRRI? Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pasca PRRI banyak masyarakat minang yang pindah (merantau) secara besar-besaran keluar wilayah provinsi Sumatera Tengah. Selain itu pula, banyak hilangnya naskah-naskah lama minangkabau yang hilang diakibatkan banyaknya penjarahan yang dilakukan oleh pasukan Kodam Diponergoro terhadap harta benda masyarakat minang masa itu. Saat ini beliau berusia 76 th (sebaya dengan pak Saaf, pak Mochtar Naim & Inyiak Lako) dan alhamdulillah dalam kondisi yang sehat & masih bersemangat, sebab pada tanggal 10 September 2010 yang lalu saya sempat berdikusi dengan beliau dari jam 18.00 wib hingga 01.30 (7.5 jam) padahal beliau hari itu baru pulang dari Simarosok Baso berkenaan esok akan memulai puasa Ramadhan. Tadi sekitar jam 20.00 wib tadi kebetulan beliau menelpon saya & meminta saya untuk singgah ke rumah beliau esok hari. Saya kira ada baiknya besok saya usahakan email beliau bisa mendaftar sebagai member di milis ini. Bagi saya pribadi, orang tua adalah "pustaka hidup" tenpat bertanya, dan saya terkesan dari beberapa orang yang menolak KKM 2010, beliau salah satu yang sangat mungkin diajak berdiskusi "baminang-minang" dibanding orang tua yang lain kurang sepakat dengan KKM 2010. Salah satu ketertarikan saya adalah, sepanjang pengetahuan saya, tidak banyak ninik mamak penghulu kaum yang saat ini mengetahui keberadaan Undang Adat Minangkabau. Saat ini salinan undang adat minangkabau itu ada dibeberapa negara, untuk di Indonesia ada Museum Nasional & saya kira pak Suryadi lebih ahli untuk menjelaskan hal ini. Walaupun tidak seluruh hal yang bisa diambil sebagai hukum adat saat ini, paling tidak sebagian dari isi naskah Undang Adat Minangkabau masih layak untuk diterapkan kembali di nagari-nagari. Berikut informasi tambahan mengenai Angku Asbir Latif Dt Mangkuto Rajo - Salah satu penghulu di nagari Simarosok kec. Baso kab Agam - Wali Nagari Simarosok Baso 1956-1960 & 2002 - 2007 - Ketua persatuan Wali Nagari Agam prov Sumatera Tengah 1956 -1960 - pernah menjadi Camat di kecamatan Baso (tahun ??) - pernah sebagai pengurus Gapensi Sumbar (tahun ??) - pernah sebagai dosen IKIP Padang (tahun ??) - pernah bekerja di Museum Adityawarman (tahun ??) - pensiun sebagai PNS tahun 1974. - dll Asbir Latif Rajo Mangkuto http://www.facebook.com/profile.php?id=100001449670639 Mengenai naskah buku beliau yang terdiri dari 3 jilid yang berjudul " Kesulthanan Minangkabau Darul Qourar" saya sudah mengusahakan mempertemukan beliau dengan ketua Ikapi Sumbar pak Arfizal Indramaraja yang juga memiliki sebuah penerbitan dengan nama Krista Media yang berdomisili di Bukittinggi. Alhamdulillah beliau-beliau sudah bertemu & sudah ada pembicaraan mengenai penerbitan naskah itu. Semoga buku tersebut bisa segera beredar dipasaran, amin ya Rabbal alamin. Wasalam AZ - 32 th Padang Dari: Marindo Palar <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Sen, 27 September, 2010 21:17:24 Judul: Re: [...@ntau-net] Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM Assalamu;alaikum Nyiak, Mamak, Tuanku, Datuak.... Ambo dikirimkan dek sorang kawan naskah buku 'Kesulthanan Minangkabau Darul Qourar' karya A.L. Dt. Rajo Mangkuto (74 tahun, mantan Walinagari Simarasok, Baso, Agam). Buku ini dalam Proses Penerbitan. Sayangnya naskah tersebut dikirim dalam bentuk pdf ke email ambo, sehingga alun bisa ambo buek kan link internetnyo...maklum gatek.... Berikut ambo cuplik sebagian kecil dari naskah tersebut. Tahun 709, Raja Muaro Sabak Lokitawarman telah memeluk agama Islam. Tahun 715, Raja Pusat Pariangan Minangkabau, Indrawarman telah masuk Islam. Sejak itu Islam merembes secara diam-diam dan damai memasuki Luak nan Tigo. Di abad ke-10 M berdiri kerajaan Islam Pulau Penyengat. Berbarengan dengan itu berdiri kerajaan Islam Fansur yang wilayahya meliputi Tapak Tuan dan Barus. Di abad ke-11 M, jauh di pedalaman di pinggir sungai Barumun berdiri kerajaan Islam Aru Barumun. Di waktu bersamaan dengan kerajaan Barumun di pedalaman di tepi sungai Kampar berdiri kerajaan Islam Kuntu. Di abad ke-11 di pantai barat Sumatra berdiri kerajaan Islam Inropuro dan kerajaan Manjuto. Dari pantai Air Bangis sampai Tarusan berada di bawah pengaruh Aceh yang telah Islam. Dari kerajaan Islam itu para pedagang kampher, lada dan emas, memasuki pedalaman Minangkabau. Sambil berdagang mereka mengajarkan agamanya. Di abad itu raja-raja Pariangan dan Bunga Setangkai serta masyarakatnya telah menganut Agama Islam. Di abad ke - 12 M Islam telah merata dianut rakyat Minangkabau. Di Nagari Minangkabau, dekat Pagaruyung orang Arab Islam mendapat izin mendirikan satu komplek pergudangan. Dalam kompleks itu didirikan beberapa bangunan gudang untuk menyimpan barang dagangan dan beberapa buah rumah tempat tinggal dan mushala. Untuk pengamanan kompleks itu dipagar kokoh. Pagar kompleks itu dimaksudkan agar dapat mempertahankan diri dari orang orang jahat. Kompleka itu dibinasakan oleh Adityawarman sewaktu dia menduduki Minangkabau ini. Setelah Islam merata di Minangkabau, masyarakat Minangkabau merasakan banyak pertentangan hukum adat dengan sara’ agama Islam. Mereka ingin agar hukum Islam dapat ditegakkan sebagai pengatur hidup. Penguasa Minangkabau bertahan dengan cara lama atau yang ada sebelumnya. Mereka takut kekuasaannya akan berkurang dengan ditegakkannya hukum Islam. Terjadilah pertentangan antara pemuka adat dengan pemuka agama Islam. Pemuka agama Islam menyampaikan pendiriannya dengan mengemukakan beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits agar hukum Allah itu ditegakkan secara utuh Di waktu tuanya Ananggawarman anak Adityawarman, dia menjadi seorang muslim yang ta’at. Anak Ananggawarman telah dilahirkan sebagai seorang muslim. Semenjak itu keturunan Adityawarman dilahirkan sebagai seorang muslim dan selanjutnya anak keturunannya. Upacara moksa menjadi kebiasaan tentara. Selain dari dianggap peribadatan, kebiasaan moksa itu sesuai dengan selera. Selain tentara, penguasa-penguasa kecil menjadi biasa pula dengan moksa ini. Prihatin atas hal hal yang demikian, atas inisiatif Pamuncak adat, Dt Bandaro di Sungai Tarab bersama Daulat Yang Dipertuan Tuangku Maharajo Sakti Raja Alam di Pagaruyung yang baru kembali menamatkan pendidikan agamanya di Fansur Barus, pada bulan Sa’ban tahun 803 H (jatuhnya lebih-kurang bulan Maret tahun 1403 M) mengundang seluruh pemuka masyarakat seluruh Minangkabau ke atas Bukit Marapalam. Di atas bukit itu diadakan musyawarah. Hasil musyawarah itu disebut kesepakatan Marapalam. Karena musyawarah itu ditutup dengan sumpah (bai’ah), kesepakatan itu lebih populair disebut Bai’ah Marapalam atau sumpah Marapalam. Orang kemudian menamakannya piagam Marapalam atau ‘Marapalam Treaty’. Itulah Anggaran Dasar (UUD) Republik Federasi Minangkabau. Berdasarkan musyawarah SAAM tahun 1911, keputusan Dewan Perumus Anggaran Dasar MTKAAM tahun 1937 menyatakan Kesepakatan Marapalam itu terjadi tahu 1403 M. Dituangkan dalam anggaran Dasar MTKAAM tersebut. P a s a l 30 AD/ART MTKAAM yang dirumuskan oleh 25 orang penghulu terkemuka Minangkabau, tanggal 25 Agustus 1937 menjelaskan ; di Nagari ada kerapatan Niniak Mamak (yang statusnya sebagai asosiasi kepala kaum), bersama dengan Kerapatan Alim Ulama dan Kerapatan Cadiak Pandai merupakan Badan Musyawarah Nagari atau majelis Kerapatan Adat Nagari atau Kerapatan Nagari. Sebagaimana telah diberlakukan lama, Minangkabau itu dibagi atas Minangkabau inti (al Biththah) dan Minangkabau rantau (Minangkabau az Zawahir). Minangkabau al Biththah meliputi wilayah dataran tiga gunung (tri arga), gunung Singgalang, gunung Merapi dan gunung Sago yang disebut Luak Nan Tigo, Luak Tanah Data, Luak Agam, Luak 50 Koto. Daerah di luar itu disebut Minangkabau rantau (az zawahir). Di Minangkabau inti (Luak Nan Tigo) raja-raja Minangkabau tidak memerintah langsung (tidak memungut pajak), tapi hanya mengatur dan menjaga tidak ada peperangan. Raja Minangkabau memerintah di rantau dengan mengirimkan perwakilan perwakilan. Pemuka Agama Islam menawarkan pemerintahan daulat umat (demokrasi) sistem tigaisme (triumvirat). Minangkabau diperintah oleh tiga orang raja yang terhormat ( Rajo Nan Tigo Selo ), yaitu Rajo Alam di Pagaruyung, Rajo Ibadat di Sumpurkudus dan Rajo Adat di Buo. Masing masing raja mempunyai staf dan tenaga ahli. Tugas Rajo nan Tigo Selo ialah menjelaskan dan menyempurnakan keputusan Marapalam. Keputusan Marapalam dengan penyempurnaan dan penjelasannya disebut Undang Adat Minagkabau . Selain itu Rajo nan Tigo Selo menetapkan aturan yang diperlukan dan belum ada dalam Undang Adat Minangkabau. Sesuai dengan rumusan utama dalam Islam yang dilakukan oleh Nabi Besar Muhammad, semua keputusan, kesepakatan, keuangan dan peraturan haruslah ditulis . Usulan ini diterima dengan suara aklamasi. Maka Undang adat Minangkabau ditulis dalam rangkap delapan yang sama. Tiga dipegang oleh Rajo nan Tigo Selo dan 4 rangkap lagi dipegang oleh Basa Ampek Balai. Barang siapa yang menginginkannya menyalin dari salah satu yang tujuh itu, disebutkan disalin oleh siapa dan dari Undang Adat yang mana yang disalin. Begitulah buku Undang Adat itu sampai ke nagari-nagari.(*) a. Bai’ah Marapalam ini diwariskan kepada anak cucu. Barang siapa yang tidak memakainya akan terkutuk dimakan sumpah biso kawi, ka ateh indak bapucuak, ka bawah indak baurek di tangah digiriak kumbang, akan dapat bencana dari Allah . Perlu kita ketahui, bahwa; a) Di perpustakaan Leiden , Negeri Belanda ada diketemukan catat a n yang menyebut Kesepakatan Marapalam. b) Di tengah masyarakat berkembang bahwa ada sumpa h (bai’ah) Marapalam yang berbunyi ‘a dat basandi syara’ , syara’ basandi kitab Allah ’ c) Tali tigo sapilin yang berasal dari istilah tali yang teguh (urwatil wusqa), adalah pedoman hidup orang Minangkabau. d) Tungku tigo sajarang a n adalah badan yang membuat kesepakatan di Minangkabau. e) Sewaktu Belanda memasuki Minangkabau, sudah ada peradilan adat yang merujuk kepada agama Islam. f) Tulisan Arab de n gan aturan sendiri adalah tulisan untuk bahasa Melayu/Minangkabau; g) Stempel kerajaan Minangkabau dalam tulisan Arab sudah ada jauh sebelum Belanda sampai Minangkabau. h) Adanya catatan orang asing tentang Minangkabau yang menyatakan penduduknya ta’at beribadat dan hukumnya merujuk kepada hukum Islam, sebelum Belanda menaklukkan Bonjol: Ø Laporan Groenewegen tentang Minangkabau t a h un 1664 M. Ø Laporan perjalanan Thomas Diaz ke Buo tahun 1668 M ketika mengunjungi raja Adat. Ø Laporan Sir W Marsden dalam buku n ya ‘ The Story of Sumatra ’ t ahun 1783 M. Ø Laporan Rafles tentang Minangkabau tahun 1814 M. Ø Laporan Nahuis Van Burg tahun 1824 M. Ø Perjanjian antara pemuka Minangkabau dengan Belanda pada 10 - 10 - 1821 bahwa Belanda akan membantu pemerintah Minangkabau melaksan a kan aturan Minangkabau kepada rakyat. Ø Perjanjian Masang tahu 1824 M, bahwa Belada tidak akan mencampuri urusa n pemerintahan Minangkabau. Ø Perjanjian Padang, pada 15 - 11 - 1825 M, bahwa Belanda tidak akan memakaikan p eradila n- nya untuk pribumi kecuali apabila pribumi membu n uh atau mencuri milik Belanda. Ø Keputusan Gebernur Jenderal Belada N o mor 310 t an g ga l 11 - 10 - 1833 M. Ø Plakat Panjang tanggal 25 - 10 - 1833 M. Ø Catat a n Verklerek Vistorius tahun 1860 M tentang banyaknya jumlah sekolah di Mina n gkabau yang mempelajari agama Islam dengan pengantar tulisan Arab Melayu. Salam, Marindo Palar --- Pada Sen, 27/9/10, Dr Saafroedin Bahar <[email protected]> menulis: Dari: Dr Saafroedin Bahar <[email protected]> Judul: Re: [...@ntau-net] Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM Kepada: "Rantau Net" <[email protected]> Cc: "Herwandi WENDY" <[email protected]> Tanggal: Senin, 27 September, 2010, 7:28 PM Datuak, iko kurun sejarah nan paralu disigi dek pakar-pakar sejarah kito, dan hasilnyo dimasuakkan ka buku Sejarah Minangkabau versi terbaru. Jan sampai ragu bakapanjangan juo kito. Wassalam, Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita. From: Datuk Endang <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Mon, 27 Sep 2010 04:54:43 -0700 (PDT) To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Cc: <[email protected]>; <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM Nan paralu dicermati adolah apokoh dinasti Adityawarman memang berlanjut ka dinasti Pagaruyuang kini ko. Syak hati ambo iyo, namun pola sarato bantuak kenegaraan alah jauah babeda. Sabagai pembanding, di Banda Aceh kini dulu tagak kerajaan Aceh Darussalam (1512), namun jauah sabalunno alah ado kerajaan Indra Purba. Hal nan samo untuak lokasi sekitar Muntilan Jateng kini. Jadi kamungkinan ado dinasti baru walau mungkin masih katurunan dari dinasti sabalunno. Era Adityawarman (Melayu) adolah sajauh masih digunokan aksara Sansekerta; dan dimaa putuih disitu pulo era itu hilang. Era Islam (aksara Arab) di Pagaruyuang dari banyak catatan adolah maso Sultan Alif (16..) Dengan ado penyerahan kedaulatan kapado Balando (1820) mako secaro de jure dinasti Pagaruyung alah berakhir, dan sucaro de facto kutiko terjadi pembakaran istano maso Paderi (1814?). Basa Ampek Balai dimaksud sebagai batas wilayah, dapek disigi catatan ambo terdahulu. http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/85006 Wassalam, -datuk endang --- On Mon, 9/27/10, Marindo Palar <[email protected]> wrote: Mohon ma'af kampado Mamak-Mamak dan Uda-Uda, ambo ikuik pulo ciek dalam diskusi palanta ko, Ambo pernah mandapekkan Daftar Rajo2 Pagarruyung sbb : 1. Adityawarman (1339-1376) 2. Ananggawarman (1376) 3. Yang Dipertuan Sultan Bakilap Alam 4. Yang Dipertuan Sultan Pasambahan 5. Yang Dipertuan Sultan Alif gelar Khalifafullah 6. Yang Dipertuan Sultan Barandangan 7. Yang Dipertuan Sultan Patah (Sultan Muning II) 8. Yang Dipertuan Sultan Muning III 9. Yang Dipertuan Sultan Sembahwang 10. Yang Dipertuan Sultan Bagagar Syah 11. Yang Dipertuan Gadih Reni Sumpur 1912 12. Yang Dipertuan Gadih Mudo (1912-1915) 13. Sultan Ibrahim 1915-1943 gelar Tuanku Ketek 14. Drs. Sultan Usman 1943 (Kepala Kaum Keluarga Raja Pagaruyung) Dilihat dari Gelarnya yg sudah Sultan, dapat dikatakan bahwa Raja ke-3 Pagarruyung sudah memeluk Islam. Bila Sultan Bakilap Alam memerintah tidak disebutkan oleh tambo tersebut, tetapi dapat diperkirakan sesudah tahun 1409, karena sampai 1409 pemerintahan Pagaruyung masih bersifat sentralisasi seperti sewaktu pemerintahan Adityawarman. Sesudah tahun tersebut pemerintahan Pagaruyung sudah desentralisasi dengan pengertian bahwa nagari-nagari sudah mempunyai otonom penuh dan pemerintahan di Pagaruyung sudah mulai melemah. Selanjutnya dikatakan bahwa di atas pemerintahan nagari-nagari terlihat adanya dua tingkat pemerintahan yaitu Rajo Tigo Selo dan Basa Ampek Balai. Rajo Tigo Selo dimaksudkan adalah tiga orang raja yang sekaligus berkuasa di bidang masing-masing. Raja Alam berkedudukan di Pagaruyung sebagai pucuk pimpinan, Raja Adat berkedudukan di Buo yang melaksanakan tugas-tugas kerajaan dibidang adat. Raja Ibadat berkedudukan di Sumpur Kudus dan melaksanakan urusan keagamaan kerajaan. Gambaran ini adalah lembaga pemerintahan di tingkat raja. Sedangkan ditingkat Menteri dan Dewan Menteri yang dimaksud dengan Basa Ampek Balai terdiri dari: 1. Bandaro (Titah) di Sungai Tarab sebagai Perdana Menteri 2. Tuan Kadi di Padang Ganting yang mengurus masalah Agama 3. Indomo di Saruaso mengurus masalah keuangan 4. Makhudum di Sumanik yang mengurus masalah pertahanan dan rantau Masyarakat nagari dalam mengusut persoalannya berjenjang naik sampai ketingkat kerajaan. Dibidang adat dari nagari terus ke Bandaro dan kalau tidak putus juga diteruskan lagi kepada Raja Buo dan kalau tidak putus juga masalahnya diteruskan lagi kepada Raja Alam di Pagaruyung yang akan memberikan kata putus. Begitu juga dalam bidang agama. Dari nagari naik kepada tuan Kadi di Padang Ganting, terus kepada raja Ibadat di Sumpur Kudus, dan bula tidak selesai juga akhirnya sampai kepada raja Alam yang akan memberikan kata putusnya. Cerita ini saya dapatkan di : http://www.pandaisikek.net/sejarah-minang-kabau/ Salam, Marindo Palar -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe . -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
