Oh sanak Armen jo sanak palanta

Ambo baru takana jo apak ko. Mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu baliau pernah 
ambo undang untuak sebuah acara di hotel ibis Slipi. Sebagai rangkaian dari 
acara itu, kami pai ba audiensi ka komisi III DPRRI membicarakan posisi ulayat 
masyarakat adat di Hutan Negara bersama perwakilan masyarakat adat nan lain 
dari 6 propinsi lain di Indonesia. Tapi karena indak ado ukatu cukuik, yo 
kurang tagali curito dari apak ko. Ambo ingek, baliau sempat kurang sehat ukatu 
itu, sahinggo kami pai pulo ka rumah sakik Pelni untuak mamaresokan kesehatan 
beliau.

Salam

Andiko Sutan Mancayo

----- Original Message -----
From: "Armen Zulkarnain" <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: "Lies Suryadi" <[email protected]>, "Saafroedin Bahar" 
<[email protected]>, "Hasril Caniago" <[email protected]>
Sent: Monday, September 27, 2010 10:44:40 PM GMT +07:00 Bangkok, Hanoi, Jakarta
Subject: Bls: [...@ntau-net] Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM >> Asbir Latif Dt Rajo 
Mangkuto >> Undang Adat Alam Minangkabau



Assallamualaikum wr wb. 


Angku, mamak, bundo sarato dunsanak sapalanta rantaunet nan ambo hormati. 
Mengenai profil Angku Asbir latif Dt Rajo Mangkuto pernah saya lewakan beberapa 
waktu yang lalu (masih kisaran bulan Agustus - September 2010) berikut kontak 
person beliau & foto google map rumah beliau di Jl. Puyuh no 6 Air Tawar 
Padang. Mengapa hal ini saya lakukan? sebab menurut asumsi saya pribadi, tidak 
banyak kalangan ninik mamak penghulu kaum yang masih hidup saat ini yang pernah 
menjabat wali nagari diera sebelum pergolakan PRRI 1958 -1960. Mengapa ada 
keterkaitan antara tatanan adat budaya minangkabau dengan PRRI? Sebagaimana 
yang kita ketahui bahwa pasca PRRI banyak masyarakat minang yang pindah 
(merantau) secara besar-besaran keluar wilayah provinsi Sumatera Tengah. Selain 
itu pula, banyak hilangnya naskah-naskah lama minangkabau yang hilang 
diakibatkan banyaknya penjarahan yang dilakukan oleh pasukan Kodam Diponergoro 
terhadap harta benda masyarakat minang masa itu. 

Saat ini beliau berusia 76 th (sebaya dengan pak Saaf, pak Mochtar Naim & 
Inyiak Lako) dan alhamdulillah dalam kondisi yang sehat & masih bersemangat, 
sebab pada tanggal 10 September 2010 yang lalu saya sempat berdikusi dengan 
beliau dari jam 18.00 wib hingga 01.30 (7.5 jam) padahal beliau hari itu baru 
pulang dari Simarosok Baso berkenaan esok akan memulai puasa Ramadhan. 



Tadi sekitar jam 20.00 wib tadi kebetulan beliau menelpon saya & meminta saya 
untuk singgah ke rumah beliau esok hari. Saya kira ada baiknya besok saya 
usahakan email beliau bisa mendaftar sebagai member di milis ini. Bagi saya 
pribadi, orang tua adalah "pustaka hidup" tenpat bertanya, dan saya terkesan 
dari beberapa orang yang menolak KKM 2010, beliau salah satu yang sangat 
mungkin diajak berdiskusi "baminang-minang" dibanding orang tua yang lain 
kurang sepakat dengan KKM 2010. Salah satu ketertarikan saya adalah, sepanjang 
pengetahuan saya, tidak banyak ninik mamak penghulu kaum yang saat ini 
mengetahui keberadaan Undang Adat Minangkabau. Saat ini salinan undang adat 
minangkabau itu ada dibeberapa negara, untuk di Indonesia ada Museum Nasional & 
saya kira pak Suryadi lebih ahli untuk menjelaskan hal ini. Walaupun tidak 
seluruh hal yang bisa diambil sebagai hukum adat saat ini, paling tidak 
sebagian dari isi naskah Undang Adat Minangkabau masih layak untuk diterapkan 
kembali di nagari-nagari. 


Berikut informasi tambahan mengenai Angku Asbir Latif Dt Mangkuto Rajo 
- Salah satu penghulu di nagari Simarosok kec. Baso kab Agam 
- Wali Nagari Simarosok Baso 1956-1960 & 2002 - 2007 
- Ketua persatuan Wali Nagari Agam prov Sumatera Tengah 1956 -1960 
- pernah menjadi Camat di kecamatan Baso (tahun ??) 
- pernah sebagai pengurus Gapensi Sumbar (tahun ??) 
- pernah sebagai dosen IKIP Padang (tahun ??) 
- pernah bekerja di Museum Adityawarman (tahun ??) 
- pensiun sebagai PNS tahun 1974. 
- dll 

Asbir Latif Rajo Mangkuto 
http://www.facebook.com/profile.php?id=100001449670639 


Mengenai naskah buku beliau yang terdiri dari 3 jilid yang berjudul " 
Kesulthanan Minangkabau Darul Qourar" saya sudah mengusahakan mempertemukan 
beliau dengan ketua Ikapi Sumbar pak Arfizal Indramaraja yang juga memiliki 
sebuah penerbitan dengan nama Krista Media yang berdomisili di Bukittinggi. 
Alhamdulillah beliau-beliau sudah bertemu & sudah ada pembicaraan mengenai 
penerbitan naskah itu. Semoga buku tersebut bisa segera beredar dipasaran, amin 
ya Rabbal alamin. 


Wasalam 



AZ - 32 th 

Padang 






Dari: Marindo Palar <[email protected]> 
Kepada: [email protected] 
Terkirim: Sen, 27 September, 2010 21:17:24 
Judul: Re: [...@ntau-net] Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM 


Assalamu;alaikum Nyiak, Mamak, Tuanku, Datuak.... 

Ambo dikirimkan dek sorang kawan naskah buku 'Kesulthanan Minangkabau Darul 
Qourar' karya A.L. Dt. Rajo Mangkuto (74 tahun, mantan Walinagari Simarasok, 
Baso, Agam). Buku ini dalam Proses Penerbitan. Sayangnya naskah tersebut 
dikirim dalam bentuk pdf ke email ambo, sehingga alun bisa ambo buek kan link 
internetnyo...maklum gatek.... 

Berikut ambo cuplik sebagian kecil dari naskah tersebut. 


Tahun 709, Raja Muaro Sabak Lokitawarman telah memeluk agama Islam. Tahun 715, 
Raja Pusat Pariangan Minangkabau, Indrawarman telah masuk Islam. Sejak itu 
Islam merembes secara diam-diam dan damai memasuki Luak nan Tigo. Di abad ke-10 
M berdiri kerajaan Islam Pulau Penyengat. Berbarengan dengan itu berdiri 
kerajaan Islam Fansur yang wilayahya meliputi Tapak Tuan dan Barus. Di abad 
ke-11 M, jauh di pedalaman di pinggir sungai Barumun berdiri kerajaan Islam Aru 
Barumun. Di waktu bersamaan dengan kerajaan Barumun di pedalaman di tepi sungai 
Kampar berdiri kerajaan Islam Kuntu. Di abad ke-11 di pantai barat Sumatra 
berdiri kerajaan Islam Inropuro dan kerajaan Manjuto. Dari pantai Air Bangis 
sampai Tarusan berada di bawah pengaruh Aceh yang telah Islam. 



Dari kerajaan Islam itu para pedagang kampher, lada dan emas, memasuki 
pedalaman Minangkabau. Sambil berdagang mereka mengajarkan agamanya. Di abad 
itu raja-raja Pariangan dan Bunga Setangkai serta masyarakatnya telah menganut 
Agama Islam. Di abad ke - 12 M Islam telah merata dianut rakyat Minangkabau. 



Di Nagari Minangkabau, dekat Pagaruyung orang Arab Islam mendapat izin 
mendirikan satu komplek pergudangan. Dalam kompleks itu didirikan beberapa 
bangunan gudang untuk menyimpan barang dagangan dan beberapa buah rumah tempat 
tinggal dan mushala. Untuk pengamanan kompleks itu dipagar kokoh. Pagar 
kompleks itu dimaksudkan agar dapat mempertahankan diri dari orang orang jahat. 
Kompleka itu dibinasakan oleh Adityawarman sewaktu dia menduduki Minangkabau 
ini. 

Setelah Islam merata di Minangkabau, masyarakat Minangkabau merasakan banyak 
pertentangan hukum adat dengan sara’ agama Islam. Mereka ingin agar hukum Islam 
dapat ditegakkan sebagai pengatur hidup. Penguasa Minangkabau bertahan dengan 
cara lama atau yang ada sebelumnya. Mereka takut kekuasaannya akan berkurang 
dengan ditegakkannya hukum Islam. Terjadilah pertentangan antara pemuka adat 
dengan pemuka agama Islam. Pemuka agama Islam menyampaikan pendiriannya dengan 
mengemukakan beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits agar hukum Allah itu ditegakkan 
secara utuh 





Di waktu tuanya Ananggawarman anak Adityawarman, dia menjadi seorang muslim 
yang ta’at. Anak Ananggawarman telah dilahirkan sebagai seorang muslim. 
Semenjak itu keturunan Adityawarman dilahirkan sebagai seorang muslim dan 
selanjutnya anak keturunannya. 



Upacara moksa menjadi kebiasaan tentara. Selain dari dianggap peribadatan, 
kebiasaan moksa itu sesuai dengan selera. Selain tentara, penguasa-penguasa 
kecil menjadi biasa pula dengan moksa ini. Prihatin atas hal hal yang demikian, 
atas inisiatif Pamuncak adat, Dt Bandaro di Sungai Tarab bersama Daulat Yang 
Dipertuan Tuangku Maharajo Sakti Raja Alam di Pagaruyung yang baru kembali 
menamatkan pendidikan agamanya di Fansur Barus, pada bulan Sa’ban tahun 803 H 
(jatuhnya lebih-kurang bulan Maret tahun 1403 M) mengundang seluruh pemuka 
masyarakat seluruh Minangkabau ke atas Bukit Marapalam. Di atas bukit itu 
diadakan musyawarah. Hasil musyawarah itu disebut kesepakatan Marapalam. Karena 
musyawarah itu ditutup dengan sumpah (bai’ah), kesepakatan itu lebih populair 
disebut Bai’ah Marapalam atau sumpah Marapalam. Orang kemudian menamakannya 
piagam Marapalam atau ‘Marapalam Treaty’. Itulah Anggaran Dasar (UUD) Republik 
Federasi Minangkabau. 



Berdasarkan musyawarah SAAM tahun 1911, keputusan Dewan Perumus Anggaran Dasar 
MTKAAM tahun 1937 menyatakan Kesepakatan Marapalam itu terjadi tahu 1403 M. 
Dituangkan dalam anggaran Dasar MTKAAM tersebut. 


P a s a l 30 AD/ART MTKAAM yang dirumuskan oleh 25 orang penghulu terkemuka 
Minangkabau, tanggal 25 Agustus 1937 menjelaskan ; di Nagari ada kerapatan 
Niniak Mamak (yang statusnya sebagai asosiasi kepala kaum), bersama dengan 
Kerapatan Alim Ulama dan Kerapatan Cadiak Pandai merupakan Badan Musyawarah 
Nagari atau majelis Kerapatan Adat Nagari atau Kerapatan Nagari. 

Sebagaimana telah diberlakukan lama, Minangkabau itu dibagi atas Minangkabau 
inti (al Biththah) dan Minangkabau rantau (Minangkabau az Zawahir). Minangkabau 
al Biththah meliputi wilayah dataran tiga gunung (tri arga), gunung Singgalang, 
gunung Merapi dan gunung Sago yang disebut Luak Nan Tigo, Luak Tanah Data, Luak 
Agam, Luak 50 Koto. Daerah di luar itu disebut Minangkabau rantau (az zawahir). 
Di Minangkabau inti (Luak Nan Tigo) raja-raja Minangkabau tidak memerintah 
langsung (tidak memungut pajak), tapi hanya mengatur dan menjaga tidak ada 
peperangan. Raja Minangkabau memerintah di rantau dengan mengirimkan perwakilan 
perwakilan. 



Pemuka Agama Islam menawarkan pemerintahan daulat umat (demokrasi) sistem 
tigaisme (triumvirat). Minangkabau diperintah oleh tiga orang raja yang 
terhormat ( Rajo Nan Tigo Selo ), yaitu Rajo Alam di Pagaruyung, Rajo Ibadat di 
Sumpurkudus dan Rajo Adat di Buo. Masing masing raja mempunyai staf dan tenaga 
ahli. Tugas Rajo nan Tigo Selo ialah menjelaskan dan menyempurnakan keputusan 
Marapalam. Keputusan Marapalam dengan penyempurnaan dan penjelasannya disebut 
Undang Adat Minagkabau . Selain itu Rajo nan Tigo Selo menetapkan aturan yang 
diperlukan dan belum ada dalam Undang Adat Minangkabau. 



Sesuai dengan rumusan utama dalam Islam yang dilakukan oleh Nabi Besar 
Muhammad, semua keputusan, kesepakatan, keuangan dan peraturan haruslah ditulis 
. Usulan ini diterima dengan suara aklamasi. Maka Undang adat Minangkabau 
ditulis dalam rangkap delapan yang sama. Tiga dipegang oleh Rajo nan Tigo Selo 
dan 4 rangkap lagi dipegang oleh Basa Ampek Balai. Barang siapa yang 
menginginkannya menyalin dari salah satu yang tujuh itu, disebutkan disalin 
oleh siapa dan dari Undang Adat yang mana yang disalin. Begitulah buku Undang 
Adat itu sampai ke nagari-nagari.(*) 




a. Bai’ah Marapalam ini diwariskan kepada anak cucu. Barang siapa yang tidak 
memakainya akan terkutuk dimakan sumpah biso kawi, ka ateh indak bapucuak, ka 
bawah indak baurek di tangah digiriak kumbang, akan dapat bencana dari Allah . 


Perlu kita ketahui, bahwa; 

a) Di perpustakaan Leiden , Negeri Belanda ada diketemukan catat a n yang 
menyebut Kesepakatan Marapalam. 

b) Di tengah masyarakat berkembang bahwa ada sumpa h (bai’ah) Marapalam yang 
berbunyi ‘a dat basandi syara’ , syara’ basandi kitab Allah ’ 

c) Tali tigo sapilin yang berasal dari istilah tali yang teguh (urwatil wusqa), 
adalah pedoman hidup orang Minangkabau. 

d) Tungku tigo sajarang a n adalah badan yang membuat kesepakatan di 
Minangkabau. 

e) Sewaktu Belanda memasuki Minangkabau, sudah ada peradilan adat yang merujuk 
kepada agama Islam. 

f) Tulisan Arab de n gan aturan sendiri adalah tulisan untuk bahasa 
Melayu/Minangkabau; 

g) Stempel kerajaan Minangkabau dalam tulisan Arab sudah ada jauh sebelum 
Belanda sampai Minangkabau. 

h) Adanya catatan orang asing tentang Minangkabau yang menyatakan penduduknya 
ta’at beribadat dan hukumnya merujuk kepada hukum Islam, sebelum Belanda 
menaklukkan Bonjol: 



Ø Laporan Groenewegen tentang Minangkabau t a h un 1664 M. 

Ø Laporan perjalanan Thomas Diaz ke Buo tahun 1668 M ketika mengunjungi raja 
Adat. 

Ø Laporan Sir W Marsden dalam buku n ya ‘ The Story of Sumatra ’ t ahun 1783 M. 

Ø Laporan Rafles tentang Minangkabau tahun 1814 M. 

Ø Laporan Nahuis Van Burg tahun 1824 M. 

Ø Perjanjian antara pemuka Minangkabau dengan Belanda pada 10 - 10 - 1821 bahwa 
Belanda akan membantu pemerintah Minangkabau melaksan a kan aturan Minangkabau 
kepada rakyat. 

Ø Perjanjian Masang tahu 1824 M, bahwa Belada tidak akan mencampuri urusa n 
pemerintahan Minangkabau. 

Ø Perjanjian Padang, pada 15 - 11 - 1825 M, bahwa Belanda tidak akan memakaikan 
p eradila n- nya untuk pribumi kecuali apabila pribumi membu n uh atau mencuri 
milik Belanda. 

Ø Keputusan Gebernur Jenderal Belada N o mor 310 t an g ga l 11 - 10 - 1833 M. 

Ø Plakat Panjang tanggal 25 - 10 - 1833 M. 

Ø Catat a n Verklerek Vistorius tahun 1860 M tentang banyaknya jumlah sekolah 
di Mina n gkabau yang mempelajari agama Islam dengan pengantar tulisan Arab 
Melayu. 



Salam, 
Marindo Palar 

--- Pada Sen, 27/9/10, Dr Saafroedin Bahar <[email protected]> 
menulis: 



Dari: Dr Saafroedin Bahar <[email protected]> 
Judul: Re: [...@ntau-net] Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM 
Kepada: "Rantau Net" <[email protected]> 
Cc: "Herwandi WENDY" <[email protected]> 
Tanggal: Senin, 27 September, 2010, 7:28 PM 


Datuak, iko kurun sejarah nan paralu disigi dek pakar-pakar sejarah kito, dan 
hasilnyo dimasuakkan ka buku Sejarah Minangkabau versi terbaru. Jan sampai ragu 
bakapanjangan juo kito. 
Wassalam, 

Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita. 

From: Datuk Endang <[email protected]> 
Sender: [email protected] 
Date: Mon, 27 Sep 2010 04:54:43 -0700 (PDT) 
To: <[email protected]> 
ReplyTo: [email protected] 
Cc: <[email protected]>; <[email protected]> 
Subject: [...@ntau-net] Re: SUMPAH SATIE MARAPALAM 


Nan paralu dicermati adolah apokoh dinasti Adityawarman memang berlanjut ka 
dinasti Pagaruyuang kini ko. Syak hati ambo iyo, namun pola sarato bantuak 
kenegaraan alah jauah babeda. Sabagai pembanding, di Banda Aceh kini dulu tagak 
kerajaan Aceh Darussalam (1512), namun jauah sabalunno alah ado kerajaan Indra 
Purba. Hal nan samo untuak lokasi sekitar Muntilan Jateng kini. Jadi 
kamungkinan ado dinasti baru walau mungkin masih katurunan dari dinasti 
sabalunno. Era Adityawarman (Melayu) adolah sajauh masih digunokan aksara 
Sansekerta; dan dimaa putuih disitu pulo era itu hilang. Era Islam (aksara 
Arab) di Pagaruyuang dari banyak catatan adolah maso Sultan Alif (16..) 
Dengan ado penyerahan kedaulatan kapado Balando (1820) mako secaro de jure 
dinasti Pagaruyung alah berakhir, dan sucaro de facto kutiko terjadi pembakaran 
istano maso Paderi (1814?). 
Basa Ampek Balai dimaksud sebagai batas wilayah, dapek disigi catatan ambo 
terdahulu. 
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/85006 

Wassalam, 
-datuk endang 

--- On Mon, 9/27/10, Marindo Palar <[email protected]> wrote: 




        

        Mohon ma'af kampado Mamak-Mamak dan Uda-Uda, ambo ikuik pulo ciek dalam 
diskusi palanta ko, 

Ambo pernah mandapekkan Daftar Rajo2 Pagarruyung sbb : 


1. Adityawarman (1339-1376) 

2. Ananggawarman (1376) 

3. Yang Dipertuan Sultan Bakilap Alam 

4. Yang Dipertuan Sultan Pasambahan 

5. Yang Dipertuan Sultan Alif gelar Khalifafullah 

6. Yang Dipertuan Sultan Barandangan 

7. Yang Dipertuan Sultan Patah (Sultan Muning II) 

8. Yang Dipertuan Sultan Muning III 

9. Yang Dipertuan Sultan Sembahwang 

10. Yang Dipertuan Sultan Bagagar Syah 

11. Yang Dipertuan Gadih Reni Sumpur 1912 

12. Yang Dipertuan Gadih Mudo (1912-1915) 

13. Sultan Ibrahim 1915-1943 gelar Tuanku Ketek 

14. Drs. Sultan Usman 1943 (Kepala Kaum Keluarga Raja Pagaruyung) 
Dilihat dari Gelarnya yg sudah Sultan, dapat dikatakan bahwa Raja ke-3 
Pagarruyung sudah memeluk Islam. 
Bila Sultan Bakilap Alam memerintah tidak disebutkan oleh tambo tersebut, 
tetapi dapat diperkirakan sesudah tahun 1409, karena sampai 1409 pemerintahan 
Pagaruyung masih bersifat sentralisasi seperti sewaktu pemerintahan 
Adityawarman. Sesudah tahun tersebut pemerintahan Pagaruyung sudah 
desentralisasi dengan pengertian bahwa nagari-nagari sudah mempunyai otonom 
penuh dan pemerintahan di Pagaruyung sudah mulai melemah. 
Selanjutnya dikatakan bahwa di atas pemerintahan nagari-nagari terlihat adanya 
dua tingkat pemerintahan yaitu Rajo Tigo Selo dan Basa Ampek Balai. Rajo Tigo 
Selo dimaksudkan adalah tiga orang raja yang sekaligus berkuasa di bidang 
masing-masing. Raja Alam berkedudukan di Pagaruyung sebagai pucuk pimpinan, 
Raja Adat berkedudukan di Buo yang melaksanakan tugas-tugas kerajaan dibidang 
adat. Raja Ibadat berkedudukan di Sumpur Kudus dan melaksanakan urusan 
keagamaan kerajaan. Gambaran ini adalah lembaga pemerintahan di tingkat raja. 
Sedangkan ditingkat Menteri dan Dewan Menteri yang dimaksud dengan Basa Ampek 
Balai terdiri dari: 
1. Bandaro (Titah) di Sungai Tarab sebagai Perdana Menteri 
2. Tuan Kadi di Padang Ganting yang mengurus masalah Agama 
3. Indomo di Saruaso mengurus masalah keuangan 
4. Makhudum di Sumanik yang mengurus masalah pertahanan dan rantau 
Masyarakat nagari dalam mengusut persoalannya berjenjang naik sampai ketingkat 
kerajaan. Dibidang adat dari nagari terus ke Bandaro dan kalau tidak putus juga 
diteruskan lagi kepada Raja Buo dan kalau tidak putus juga masalahnya 
diteruskan lagi kepada Raja Alam di Pagaruyung yang akan memberikan kata putus. 
Begitu juga dalam bidang agama. Dari nagari naik kepada tuan Kadi di Padang 
Ganting, terus kepada raja Ibadat di Sumpur Kudus, dan bula tidak selesai juga 
akhirnya sampai kepada raja Alam yang akan memberikan kata putusnya. 
Cerita ini saya dapatkan di : 
http://www.pandaisikek.net/sejarah-minang-kabau/ 


Salam, 
Marindo Palar 









-- 
. 
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. 
=========================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: 
- DILARANG: 
1. E-mail besar dari 200KB; 
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner. 
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet 
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting 
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply 
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya. 
=========================================================== 
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe . 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke