Assalamualaikum ww Kisanak Dewi Mutiara sarato Mamak 'n Dunsanak nan dirahmati Allah
Menarik sekali apa yang disampaikan DM tentang jual menjual anak ini, setahu saya yang suka jual anak itu adalah sanak kito dari kanagarian Magek Agam, tentu saja yang mereka jual adalah anak ikan Kalau sudah masalah jual menjual ini tentu adapula pembelinya jadi kayak permasalahan dalam dunia ekonomi saja ada sisi penjual yang disebut supply side (yang menawarkan) dan adapula sisi permintaan atau demand side (yang meminta) Keseimbangan terjadi ketika demand curve (kurva tingkat permintaan) berpotongan dititik keseimbangan (equilibrium point) dengan supply curve (kurva tingkat penawaran) Nah, bagaimana ketika tingkat permintaan lebih tinggi dari tingkat penawaran? Ini artinya jumlah yang meminta lebih banyak dari jumlah yang tersedia? Tentu saja harga bakalan naik bukan? Begitulah yang terjadi di Pariaman jumlah orang yang membutuhkan cowok lebih banyak dari jumlah cowok yang tersedia, akibatnya cowok yang tadinya bisa didapatkan GRATIS sekarang jadi rebutan akhirnya orang bersedia menyediakan dana berapa saja asal dapat cowok tersebut diperoleh untuk anak gadisnya, jadi sang ibu yang punya cowok tidak pernah kok mau menjual anak cowoknnya, justru sebaliknya mereka2 yang membutuhkan cowok itu yang sikut2an bersaing sesama mereka bahkan ada yang gila2an masang tarif segala, berapa saja bahkan ada yang nantang berapa yang akan diminta oleh ibu atau keluarga sang cowok akan disediakan, asal keinginannya untuk mrndapatkan cowok untuk anak gadisnya berhasil dan terlaksana, dan tantu baralek tidak lama lagi Nah kalau sudah begini, apa ibu sang cowok yang disalahkan, padahal dipandang secara norma agama manapapun sebagaimana yang disebut oleh sanak Dewi Mutiara bahwa tidak ada seorang Ibupun yang mau menjual anaknya, lha yang salah kan fihak yang meminta, sehingga terlihat sudah tidak rational lagi, tapi begitulah fenomena yang terjadi di Pariaman maupun orang Pariaman yang di rantau Lha kenapa orang Pariaman sampai tidak rational begitu? Nah ceritanya gini.....Dalam adat Minangkabau ada 3 hal yang mesti dipantangkan, yang pertama RUMAH GADANG KATIRISAN, yang kedua MAIK TABUJUA TANGAH RUMAH, dan yang ketiga GADIH GADANG INDAK BALAKI alias perawan tua, nah kalau ini terjadi dalam sebuah keluarga atau kaum maka jalan keluarnya adalah INDAK (ado) KAYU, JANJANG (buliah) DIKAPIANG, INDAK (ado) AMEH, BUNGKAH DIASAH Rupanya orang Pariaman sangat aware (peduli) dengan hal yang ketiga ini, Gadih Gadang Indak balaki alias ada perawan tua dalam keluarga sehingga mereka jadi bersaing dalam rebutan mencarikan jodoh anak kemenakan gadisnya bahkan zaman ibu dan nenek kita dulu, umur 13 atau 15 sudah bersuami Sementara lelaki muda Minang sejak dulu dulu lagi sudah banyak yang merantau terlebih setelah kekalahan PRRI banyak lelaki Minang tabang hambua ka rantau jauah bahkan setelah G30SPKI tidak sedikit lelaki pemuda Minang meninggalkan kampung tidak terkecuali di Pariaman Akibatnya tentu cowok jadi langka, maka sesuai hukum Demand and Supply tadi cowok di Pariaman semakin langka dan mereka yang punya anak gadis gelisah kalimpasiangan, mereka rebutan mendapatnya dan tentu saja yang menang adalah mereka2 yang sanggup bayar berapa saja diminta asal sang cowok bisa mereka boyong jadi menatunya, pokoknya asal dapat aja, apa saja akan dilakukan bahkan tidak jarang DUKUN BERTINDAK untuk memulusklan niat mereka, kalau perlu untuk melunakkan hati ibu sang cowok yang dari kemarin mengatakan "belum siap kearah itu" Lalu apapun alasan ibu sang cowok akhirnya TERPAKSA menyetujui, mau bilang belum siap baralekkah, kami belum punya danakah, semua akan dijawab jangan kawatir sual dana, kami siap membantu, mau bilang anak cowok kami baru dapat kerja, kan baru habis masa percobaan, jadi kami belum siap karena harus nabung dulu, apalagi nih, adik perempuan si cowok banyak yang masih gadis, jadi tanggung jawab sang cowok terhadap keluarga dan adik2 gadisnya yang harus dicarikan calon suaminya, semua akan dijawab ataui sekedar basa basi oleh calon besan yang punya anak gadis ini "soal itu nanti kami akan bantu lho, jangan kawatir soal itu, gitulah gombal sang calon besan yang punya anak gadis tersebut, yang penting misi mereka yang sekarang ini berhasil Apalagi sang cowok adea predikat Sidi atau Sutan atau Bagindo atau Dokter, Insinyur Caltex, Letnan tamat AKABRI atau punya toko di Emas atau toke grosiran Pasar Tanah Abang atau Pasar Aur Kuniang atau Ramayana Pekanbaru Lha kalau sudah dipaksa dan di intervensi kayak gini, apa ibu sang cowok yang kita salahkan yang mau jual anak cowoknya? Kira2 doooong Lama kelamaan kasus2 seperti ini menjadi sesuatu yang umum dan kemudian disebut menjadi tradisi sebagaimana kita kenal sekarang "Kawin Bajapuik" bahkan ada yang bilang "kawin babali" atau istilah negatif yang ditujukan ke ibu sang cowok "manjua anak" yang semua konotasinya buruknya terarah ke keluarga sang cowok Sebaliknya, jujur aja ibu mana yang tidak ingin punya menantu sebaik itu, sudahlah bergelar Sidi, Dokter pula lagi, sudahlah bergelar Bagindo Insinyur Caltex pula lagi, jangankan bergelar Sutan dan punya toko emas, sedangkan tidak punya gelar adat apa2 namun sudah punya penghasilan lumayan sudah jadi rebutan ibu2 camer (calun mertua) Fenomena ini tidak saya lihat di Luhak, ayah saya yang orang Bukitinggi membuat saya bisa melihat leluasa kenyataan ini, banyak di Agam terutama di beberapa nagari yang saya kunjungi seperti kampung adik tiri saya di Kapau, Mato Aia Gaduik, Giriang2 bahkan dikampung bako saya Luak Tunggang ketika lebaran baru2 ini, masih banyak terdapat GADIH GADANG INDAK BALAKI tersebut Memangnya para mamak disana mereka ngapain aja, apa sekarang masalah gadih gadang ini sudah termasuk aib lagi disana atau mungkin ada kesulitan lain, tapi yang jelas cap jempol pantas di acungkan bagi mamak2 orang Pariaman yang selalu aware soal yang satu ini dan tentu saja orang Pariaman sangat menhargai semua menantu yang dengan susah payah didapatkan, sebagaimana kita dengar terutama mereka yang bergelar Sidi selalu saja mendapat bumbu cerita yang istimewa walau sebenarnya tidak begitu betul, cerita yang sebenarnya sih tidak begitu betul, biasa2 saja kok, kan Sidi itu manusia biasa juga yang tidak lepas dari kelebihan dan kekuranganya sebagaimana kita2 ini juga Mohon maaf kalau kurang berekenan wasalam abp58 ________________________________ Dari: rinapermadi <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Sen, 4 Oktober, 2010 11:02:25 Judul: RE: [...@ntau-net] Gelar Sutan Uni Dewi, Senang membaca uraian Uni ini, Semoga sehat selalu, salam untuk keluarga Wassalam Rina From:[email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Dewi Mutiara Sent: Monday, October 04, 2010 9:52 AM To: [email protected] Subject: Re: [...@ntau-net] Gelar Sutan Bung Andi dan Sanak di Palanta yang baik Seorang Ibu tidak pernah akan menjual anaknya, bagaimanapun dalam ajaran Islam bakti seorang anak laki2 pada Ibunya harus luar biasa , kalau dia sadar ingin hidupnya jauh lebih baik dan sukses hanya doa seorang Ibu yang mengiringi kesuksessan langkahnya , kemudian istri dan anak2nya, seorang Ibu akan selalu memberi yang terbaik buat anak2nya , silaturrahim yang baik yang harus dijaga ,pandai2 membimbing istri untuk menghormati dan menyayangi orangtua kita , Sebagai keluarga perempuan jangan pernah merasa bangga bahwa keluarga mereka bisa menjemput sekian....... yang akan menjalani kehidupan berumahtangga kelak yang akan memberi rezki dengan baik hanya ALLAH Swt. Adat istiadat kita di Minangkabau sudah sangat baik sekali menurut saya , jadi kalau ada yang kurang baik , kemungkinan dilakukan oleh pelaku2 itu sendiri. Wassalam Dewi Mutiara. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
