Assalamualaikum wr wb
pak Saaf & pak Jacky Mardono yang saya hormati, sejak Oktober 1999 saya "patah
hati" dengan politik Indonesia. Saya tidak habis pikir dolar yang sempat
melambung Rp 15.000 per dolar AS yang bisa ditahan hingga ke level Rp 6.500
per
dolar AS oleh Kabinet Reformasi Pembangunan. Pada masa pemerintahan Habibie
inilah diselenggarakan pemilu yang jauh lebih demokratis dibading 30 tahun
sebelumnya. Namun anggota DPR & MPR yang dihasilkan benar-benar parah. Lebih
mengutamakan emosi & sentimen dari pada akal sehatnya. Berbagai wacana & isu
ditiupkan selama 3 bulan untuk menjegal pemerintahan Habibie.
Pemilu 7 Juni 1999 adalah pemilu saya yang pertama (mungkin juga yang terakhir
-
sebab saat sejak itu saya tidak pernah ikut memilih lagi, atau disebut golput)
sewaktu mahasiswa ( waktu itu usia saya 21 th) dan terlibat langsung dalam
komite pengawas pemilu UNFREL untuk wilayah Tanjung Balai Karimun prov. Riau.
Pada Sidang Umum (SU) MPR Oktober 1999 saya menyaksikan sendiri dilayar kaca
bagaimana tingkah polah anggota DPR MPR yang terhormat (masa itu adalah euforia
politik Indonesia) mengolok-ngolok BJ Habibie. Sejak saat itu saya tidak pernah
tertarik dengan apa yang namanya politik & organisasi politik yang kita sebut
dengan partai politik.
Marah pada Orde Baru adalah wajar, marah pada Alm. Soeharto juga wajar, selama
3.5 bulan kami dengan kawan-kawan HMI berkonsolidasi menggelar demo di
jejaring
Sumatera yang puncaknya pecah pada bulan Mei 1998. Namun, dari serangkaian
peristiwa itu - dan hingga saat kini, partai politik kita yang jumlahnya
puluhan
itu tidak menghasilkan apa-apa yang baik untuk rakyat.
Saya kira, selama jalur pencalonan Presiden, Gubernur, Bupati & Walikota
cenderung pilihan dari partai politik, hasilnya tidak akan jauh berbeda. Sebab
sudah menjadi rahasia umum, apabila kita ingin dicalonkan, harus menyediakan
sekian "fulus" untuk partai-partai itu. Kalau caranya sudah seperti itu,
bagaimana mendapatkan Calon Presiden yang baik??? Harus ada revisi tata cara
melalui jalur indepent.
wasalam
AZ - 32 th
Padang
________________________________
Dari: Dr Saafroedin Bahar <[email protected]>
Kepada: Rantau Net <[email protected]>
Terkirim: Jum, 8 Oktober, 2010 03:17:25
Judul: Re: [...@ntau-net] Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia.
Pak Jacky, walau cerita ini fiktif, namun sukar kita bantah bahwa masalah kita
yg paling dasar dewasa ini adalah kualitas pemerintahan. Penjelasan UUD 1945
dahulu menyebut hal ini sebagai 'semangat para penyelenggara negara, semangat
para pemimpin pemerintahan'.
Oleh krn kita menganut sistem pemerintahan presidensial, maka 'in concreto'
semangat para penyelenggara negara yg terpenting adalah 'semangat presiden',
atau lebih tepat disebut 'karakter presiden'.
Sewaktu wacana sekarang sampai disini, maka semua diskusi akan berhenti, karena
karakter seseorang sudah 'given', tak mungkin berubah lagi. Rakyat Indonesia
secara menyeluruh harus memikul konsekuensi dari pilihannya pada tahun 2009
yang
lalu. Apa boleh buat.
Oleh karena itu lebih baik jika sejak saat ini kita mulai menimang-nimang
capres
baru tahun 2014, yg wataknya diperkirakan sesuai dgn jenis tantangan yg kita
hadapi. Yang jelas, pesona saja jauh dari cukup. Kepemimpinan, atau lebih tepat
kenegarawanan - termasuk di dalamnya kearifan, ketegasan, dan keberanian -
itulah yg lebih kita butuhkan dari para capres. Kualitas ini bisa kita bahas
bersama-sama.
Mari kita mulai menginventarisasi para capres, dan secara tenang mengeritisi
kekuatan dan kelemahan karakternya satu demi satu, serta perkiraan sesuai
tidaknya karakter tsb dengan tantangan yg kita hadapi dalam dasawarsa
2014-2024,
dalam dua kali masa jabatan. Untuk itu perlu dihimpun dan dikaji rekam jejak
para calon tersebut satu demi satu.
Syukurnya, dalam pilpres 2009 yang lalu harian Kompas sdh mulai melakukan
kajian
karakter capres ini dengan bantuan sebuah tim psikolog, dan menyiarkannya
kepada
publik. Yang masih menjadi soal adalah apakah para pemilih dapat memanfaatkan
kajian itu dalam mengambil keputusan untuk memilih?. Kelihatannya koq tidak,
atau belum.
Dengan demikian kita harus siap-siap pula untuk berulangnya kembali sejarah.
Wallahua'lam bissawab.
Wassalam,
Saafroedin Bahar. Taqdir di tangan Allah swt, nasib di tangan kita.
________________________________
From: Jacky Mardono Tjokrodiredjo <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 7 Oct 2010 18:43:23 +0800 (SGT)
To: Polri<[email protected]>; Polda Kaltim
Milis<[email protected]>; VCM<[email protected]>;
<[email protected]>; Rantau<[email protected]>
ReplyTo: [email protected]
Subject: [...@ntau-net] Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia.
Ketika Tuhan Menciptakan IndonesiaKapanLagi.com -
Suatu hari Tuhan tersenyum puas
melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan- Nya.
Malaikat pun bertanya,
"Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?"
"Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet baru
yang bernama Bumi,"
kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan
di atas daerah hutan hujan Amazon.
Tuhan melanjutkan,
"Ini akan menjadi planet yang luar biasa
dari yang pernah Aku ciptakan.
Di planet baru ini,
segalanya akan terjadi secara seimbang".
Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat
tentang Benua Eropa.
Di Eropa sebelah utara,
Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang
dan menyenangkan seperti Inggris,
Skotlandia dan Perancis.
Tetapi di daerah itu,
Tuhan juga menciptakan hawa dingin
yang menusuk tulang.
Di Eropa bagian selatan,
Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin,
seperti Spanyol dan Portugal,
tetapi banyak sinar matahari dan hangat
serta pemandangan eksotis di Selat Gibraltar.
Lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan
sambil berseru,
"Lalu daerah apakah itu Tuhan?"
"O, itu," kata Tuhan, "itu Indonesia.
Negara yang sangat kaya
dan sangat cantik di planet bumi.
Ada jutaan flora dan fauna
yang telah Aku ciptakan di sana.
Ada jutaan ikan segar di laut
yang siap panen.
Banyak sinar matahari dan hujan.
Penduduknya Ku ciptakan ramah tamah,
suka menolong dan berkebudayaan
yang beraneka warna.
Mereka pekerja keras,
siap hidup sederhana dan bersahaja
serta mencintai seni."
Dengan terheran-heran, malaikat pun protes,
"Lho, tadi Tuhan berkata
setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan.
Kok Indonesia baik-baik semua.
Lalu dimana letak keseimbangannya? "
Tuhan pun menjawab dalam bahasa Inggris,
"Wait, until you see the idiots
I put in the government." (kpl/wim)
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.