Saya ingat kata kata ibu saya, zaman dahulu susah menjaga hati urang "sumando", bia karajonyo mamacah macahi priang, bia lah. Memang ada masanya pakem poligami pernah menjadi hal yang biasa di Minangkabau. Dizaman belanda wilayah minangkabau mempunyai angka perceraian yang paling tinggi, diseluruh wilayah hindia belanda.
Matrilineal bila diterapkan 100% cendrung untuk meningkatkan kemungkinan perceraian. Perempuan minangkabau zaman dahulu sudah terbiasa dengan perceraian, nenek dari pihak ibu ditinggal mati suami umur 30 tahun dan tidak pernah kawin lagi, dan nenek dari pihak bapak punya anak dari 2 orang suami. Sedangkan mertua saya yang laki laki lahir tahun 1928 berasal dari Koto Tuo , selama hidupnya punya istri 6 orang. Menurut pemikiran saya disinilah pentingnya harta pusaka tinggi dijaga secara turun temurun untuk menjaga kemungkinan "economic disabilities" karena perceraian. +++++++++++++++++++++++++++++++++++ Beda dengan kondisi sekarang, karena bebiasaan poligami sudah mulai ditinggalkan dan diganti dengan kebiasaan monogami, maka memposisikan orang sumando-pun sudah mulai bergeser, kata ibu saya orang sumando sekarang "ditulak jo supermi"-pun paruik jadih juo, atau bisa disebut urang sumando sudah jinak karena monogami. Dengan makin berfungsinya keluarga inti, maka fungsi harta "pusako rendah" (harato pancarian), makin penting ketimbang harta "pusaka tinggi". Karena membiayai anak dengan harta pancarian akan lebih tidak bermasalah, ketimbang membiayai anak dengan harta pusaka tinggi. ++++++++++++++++++++++++++++++++++ Karena keluarga minangkabau sekarang ini cendrung monogami, maka aktifitas laki laki minangkabau juga bergeser, kalau dahulu dengan poligami dan matrilineal laki laki bisa banyak melakukan kegiatan sosial dan politik (ikut parpol misalnya). Maka dengan bergesernya arah perkawinan menjadi monogami dan cendrung patrilineal maka kegiatan laki laki manjadi hanya kegiatan ekonomi, kalaupun berkegiatan sosial dan politik tetap harus bernilai ekonomi. ++++++++++++++++++++++++++++++++++ Saya kira inilah sebabnya berkurangnya peran laki laki minang di pentas politik nasional, karena kegiatan mereka sedari dari rumah sudah diarahkan kepada kegiatan ekonomi, kalaupun berkegiatan politik tetap harus bernilai ekonomi. ++++++++++++++++++++++++++++++++++ Atau bisa disebut idealisme sosial laki laki minang sudah bergeser menjadi idealisme ekonomi Mungkin perlu dibuat penelitian khusus untuk membuktikan hipotesa ini benar atau salah. Regards, Sutan Firson 42 tahun - Bukittinggi. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
