Ada sebuah cerita menarik mengenai peternak ayam, yg punya banyak ayam, yang
karena tiap hari bertemu dg ternaknya, bisa pulalah mengenal kelakuan
ternaknya. Ia bisa tahu ada ayam yg baik, jinak yg jadi kesayangan nya, namun
ada pula ayam yg baginya tak menyenangkan kelakuan nya, semisal sering
mengotori atau kelakuan jelek lain nya, sehingga ia tak suka. Untuk ayam yg
jinak, bilamana memberi makanan ia akan memanggilnya, menaburkan makannya di
dekatnya, atau pakai tangannya sendiri, sambil mengelus2 kepalanya, saking
sayangnya. Namun untuk ayam yg lainnya, mungkin ia akan sekedar menaburkan saja
ke tanah dan ayam2 tersebut berlarian mengejar makanan tsb. Demikianlah pula
kira2 perumpamaan bagaimana Allah memberi rezeki pada makhluk Nya, ada yg
dimudahkan rizkinya, namun adapula yg begitu susah dalam mencari rezeki
penghidupan sehari2 nya. Saya ingin menemui org2 soleh yg dimudahkan rezekinya
tersebut.
Waktu mudik lebaran ke Bandung bulan lalu, saya menyempatkan diri
bersilaturahmi ke beberapa tempat, dan sempat bertemu dg tman lama, yg hidup
sederhana, bisa dikata tanpa pekerjaan tetap yg jelas, tapi rezeki untuk
penghidupan keluarganya, mencukupi, anak2nya bisa sekolah, jarang sakit, punya
rumah dll, pokoknya mah, cukuplah yg susah utk difahami dg logika ekonomi
biasa, yg menarik ialah jalan bagaimana ia mendapatkan rezeki tsb.
Dalam buku Minhajul Abidin ( jalan pengabdian) , karya Imam Al Gazali, ada
dijelaskan juga tentang, tahapan2 yg dilalui manusia dalam proses pengabdian
nya pada Allah, sepanjang jalan kehidupan ini, dalam buku tsb diistilah dg
Aqabah yg diterjemahkan dengan pendakian/tanjakan ( terjemah Abdullah bin Nuh
), semuanya ada 7 aqabah. Dijelaskan aqabah ketiga adalah aqabah awaiq (
pendakian penghalang ) dimana ada beberapa ujian pada pendakian tersebut, dan
salah satunya ialah masalah rizki, bagaimana usaha kita memenuhi penghidupan
diri dan keluarga selama hidup di dunia ini, adalah semacam ujian juga . Kalau
ia bisa melewati aqabah ini, maka itulah saatnya ia telah ikhlas berjuang di
jalan Allah, dan rizkinya akan dimudahkan dan dicukupkan. Pada tahap
selanjutnya akan ada lagi tantangan2 yg lebih tinggi lagi, sesuai dengan kadar
kemampuan nya. Menurut saya pribadi, apa yg disampaikan Imam Gazali pada buku
tersebut, adalah semacam perumpamaan tentang
tahapan2 perjuangan yg dilalui manusia dalam perjalanan hidup ini…., semoga
kita semua bisa menapaki nya dengan baik…
Baca selengkapnya ;
http://hdmessa.wordpress.com/2010/10/12/pendakian-rezeki/
Salam , semoga bermanfaat
HM
----------
Ada sebuah cerita menarik mengenai peternak ayam, yg punya banyak ayam, yang
karena tiap hari bertemu dg ternaknya, bisa pulalah mengenal kelakuan
ternaknya. Ia bisa tahu ada ayam yg baik, jinak yg jadi kesayangan nya, namun
ada pula ayam yg baginya tak menyenangkan kelakuan nya, semisal sering
mengotori atau kelakuan jelek lain nya, sehingga ia tak senang. Untuk ayam yg
jinak, bilamana memberi makanan ia akan memanggilnya, menaburkan makannya di
dekatnya, atau pakai tangannya sendiri, sambil mengelus2 kepalanya, saking
sayangnya. Namun untuk ayam yg lainnya, mungkin ia akan sekedar menaburkan saja
ke tanah dan ayam2 tersebut berlarian mengejar makanan tsb. Demikianlah pula
kira2 perumpamaan bagaimana Allah memberi rezeki pada makhluk Nya, ada yg
dimudahkan rizkinya, namun adapula yg begitu susah dalam mencari rezeki
penghidupan sehari2 nya. Saya ingin menemui org2 soleh yg dimudahkan rezekinya
tersebut.
Waktu mudik lebaran ke Bandung bulan lalu, saya menyempatkan diri
bersilaturahmi ke beberapa tempat, teringat guru ngaji dulu, kalau ingin
bertambah iman dan ilmu nya, maka bersilaturahmi lah dg org2 soleh, walau hanya
sekedar ngobrol bertatap muka, insya Allah akan membawa kebaikan.
Alhamdulillah sempat pula bertemu dg teman lama yg soleh, tutur bahasanya
halus, lembut, tak banyak ngomong, tapi sekali ngomong sangat dalam sekali isi
nya. Ia berasal dari keluarga yg hidup sederhana.
Ngobrol2 ttg keluarga dan kehidupan sehari2 nya, membuat saya tertegun, ia
tetap seperti dulu, berdakwah kemana, sekali2 ngajar ngaji dan untuk
penghidupan sehari2nya, biasa nya ia berjualan buku2 islam, parfum atau
peralatan ibadah, tapi kalau dihitung2, waktunya dalam sebulan, lebih banyak
bepergian berdakwah ke berbagai tempat. Jadi praktis secara ekonomi, hanya
sebagian kecil waktunya utk mencari rizki. Keluarganya tinggal di rumah kecil
disamping mesjid yg sengaja disediakan utk petugas mesjid, karena memang tugas
sehari2nya, adalah menjaga kemakmuran mesjid tsb, jadi imam/muazin, mengajar
ngaji atau sekalian membetulkan kerusakan mesjid. Anaknya banyak sebagian telah
bersekolah, sebagian lagi masih di rumah, karena masih kecil.
Dalam ukuran hitung2an, ekonomi sederhana, gemana caranya ia bisa menghidupi
keluarganya dg penghasilan yg pas2an spt itu, apalagi waktunya kebanyakan dalam
kegiatan keagamaan, dibanding berjualan dan usaha lain nya, Tapi kenyataan
membuktikan, ia bisa menghidupi keluarganya dengan layak, anak2 nya bisa
sekolah semua, yg paling besar malah dapat beasiswa, keluarga nya sehat, jarang
ke dokter, pokok nya mah, bagi saya cukup membingungkan gemana caranya ia
menghidupi keluarga nya, ajaib pisan lah . Saya coba tanya langsung hal tsb,
tapi ia hanya tersenyum, tak mau menjelaskan, hanya bilang, ini semua dari
Allah semata, Allah lah yg mengatur rizki hambanya.
Akhirnya saya ngobrol dg teman yg lain, ia pun bercerita, bahwa sahabat saya
tsb, sering mendapatkan rizki dalam bentuk yg terduga dan diluar perkiraan,
kasarnya rizkinya lah yg mendatangi dia, bukan ia yg mengejar rizki. Karena ia
melakukan tugas utama berdakwah, menyebarkan kebaikan. Ia bilang, ndra, kalau
org benar2 ikhlas menjalankan perintah Illahi dalam hidup ini, berdakwah,
berjuang di jalan Allah, maka Allah lah yg akan menjamin rizkinya, barangsiapa
yg membantu agama Allah, maka Allah pula yang akan membantunya (dalam
penghidupan sehari2) mungkin spt hal utopia saja, tapi saya melihat bukti
langsung.
Ia bercerita satu kisah yg rada aneh, bagaimana ia mendapatkan rizkinya. Suatu
waktu ia bertemu dengan sobat lamanya, ngobrol2 cerita lama antara lain
mengenai rumah besar keluarganya dimana mereka sering bermain saat kecil. Sang
teman bercerita, bahwa keluarganya bermaksud ingin menjual rumah besar
tersebut, sebuah rumah besar dengan halaman luas, khas rumah jaman dulu. Sudah
lama ditawarkan tapi tak laku2 juga, mungkin karena cukup mahal juga harganya,
sampai hitungan milyaran rupiah. Setelah tahu teman saya tersebut tak punya
pekerjaan yg tetap, ia bilang, daripada rumah tersebut kosong, gemana kalau dia
tinggal saja di rumah tersebut utk sementara waktu, mudah2an ada yg mau beli
rumah tersebut, dan nanti ia akan dapat semacam komisi ( fee ) dari penjualan
rumah tersebut,ia pun setuju,ia menganggapnya sekedar amal membantu teman dan
berbuat kebaikan pada masyarakat sekitar rumah tersebut. Akhirnya tinggallah ia
disana dengan teman nya, selama
beberapa waktu, kegiatan sehari2nya tetap seperti dulu, berdakwah dan
melakukan kebaikan sosial pada masyarakat sekitar. Tak dinyana, setelah sekitar
seminggu disana, tiba2 ada datang seorang kaya ke rumah tersebut yg berniat
ingin membeli rumah tersebut, setelah menemani, melihat2 sekilas rumah tsb,
nampaknya ia sangat cocok dan serius ingin membelinya. setelah proses
negosiasi, akhirnya rumah itupun terjual dg harga yg cukup tinggi juga ( order
milyaran rupiah ). Akhirnya ia pun dapat fee yg lumayan besarnya, orde puluhan
juta rupiah, yg cukup untuk menghidupi keluarganya sekian bulan lamanya. Ia pun
kembali ke tempat asalnya dan menjalankan aktivitas social sebagaimana biasanya
dan menabung uang hasil fee penjualan rumah tsb, utk penghidupan keluarganya yg
hidup sederhana utk beberapa bulan. Akhirnya beberapa orang tahu cerita tsb,
dan bila kesulitan saat menjual rumah, tanah atau kendaraan, ia diminta bantuan
untuk menjualkan nya dan terbukti, bisa
cepat laku, lumayan juga ia dapat komisi dari penjualan tsb. Tak hanya sekali
itu, banyak ia mengalami kejadian2 yg unik bagaimana ia bisa mendapatkan
rezeki secara tak terduga, dimana tak tahu gemana juntrungan nya, ia bisa
mendapat rizki yg besar, yg bisa mencukupi keperluan keluarganya.
Tak banyak org spt dia, sebagian besar masih juga yg tetap hidupnya pas pasan,
istilahnya senin kemis, walau sama2 kegiatannya. Tapi ada sebagian org istimewa
yg maqam nya ( tingkat keimanan/ keikhlasan nya ) tinggi, maka rizki lah yg
akan mendatangi dia, dimudahkan oleh Allah rizkinya. Ada semacam ambang batas (
threshold limit ) utk maqam seorang muslim, dimana kalau dibawah batas itu, ia
masih harus bersusah payah mengejar rizki, tapi kalau melewati maqam tsb, maka
rizki lah yg akan mendatangi dia, masya Allah, saya hanya termenung mendengar
penjelasan nya dan bisa masuk akal juga.
Jadi teringat lagi dg ajengan ( kiyai ) di pesantren tempat saya mengaji dulu,
juga mirip seperti itu, sehari2 kerjanya hanya di mesjid, ngajar ngaji, sekali2
saja dagang, anaknya banyak, tapi semua keperluan hidup keluarga nya, bisa
terpenuhi, ia bisa hidup layak, masya Allah. Ada cerita menarik saat di
pesantren dulu, sudah menjadi kebiasaan, sekali waktu istri pak Kiyai,
mengundang santri2 nya utk makan bersama di rumahnya. Sekali waktu beliau
mengundang anak2 santri untuk makan ke rumahnya, teman saya si Dede turut
membantu memasak di sana, sang istri kiyai bilang Alhamdulillah ada cukup beras
dan lauk pauk, tapi tak banyak, hanya cukup untuk sekitar 6-8 org santri, jadi
undang teman2 secukupnya saja, jangan banyak2 nanti tak cukup makanan nya.
Disampaikanlah pula pemberitahuan kepada sebagian santri sesuai amanah, namun
karena mereka tinggal bersama di asrama (kobong) yg sama, akhirnya informasi
tersebut tersebar luas ke banyak santri. Sehingga
akhirnya banyak santri yg datang ke rumah kiyai utk makan bersama, lebih
banyak dari perkiraan sebelumnya, ada sekitar 40 org, si Dede pun bingung wah
gimana nih, nggak akan cukup makanan utk semua org yg datang, tapi sang Kiyai
hanya tersenyum saja, dan bilang, tak apa, siapkan saja makanan utk secukupnya.
Nasi dan lauk pauk pun dibagikan ke semua santri yg hadir, sungguh mengherankan
ternyata, makanan itu bisa cukup untuk semuanya, padahal
Dede tahu sendiri, ia hanya masak utk keperluan sekitar 8 org saja. Namun
ternyata bisa mencukupi untuk 40 org ?.., itu hanya contoh kecil, dan banyak
kejadian2 lain nya yg seperti tak masuk akal, khususya berkaitan dg rizki,
makanan dan keperluan sehari2 lain nya, selalu cukup tersedia, walau secara
akal sehat ilmu ekonomi tak akan cukup. Akhirnya saya baru mengerti, bahwa
mungkin sang kiyai tsb, telah sampai pula pada maqam/ derajat yg tinggi
tersebut, dimana rizki lah yg mendatangi dia, Allah lah yg mencukupi keperluan
nya.
Jujur bagi saya, maqam saya masih rendah, jauh dari org2 saya ceritakan tsb,
jadi masih perlu mengejar rizki bahkan sampai jauh ke gurun pasir ini, namun
ada pelajaran berharga yg bisa dipetik, bahwa urusan rizki, bukan sekedar usaha
manusia, tapi adalah karunia dari Allah, Allah yg menyebarkan rizki bagi semua
makhluknya, namun memang berbeda2 pula kadarnya. Bukan sekedar berhubungan dg
berapa banyak rizkinya ( kaya atau miskin) , tapi berkaitan dengan amal
kebaikan dan kebersihan hati orang bersangkutan, ada sebagian orang yg susah
rizkinya, namun adapula sebagian yg dimudahkan. Sesuai dengan ayat kitab suci,
barangsiapa yg membantu agama Allah, maka Allah lah yg akan membantunya pula
(dalam penghidupan dunia ) .
Namun tetap ada rahasia Illahi, karena adapula yg karena kasih sayang Nya pula,
seseorang kehidupan nya miskin, tapi ia tetap sabar dengan kondisi itu, insya
Allah ia mendapatkan tempat yg mulia di akhirat kelak seperti pula kehidupan
Rasulullah. Pada sisi lain, adapula orang yg hartanya berlimpah, tapi malah
tambah jauh dari moralitas agama. Harta yg berlimpah di dunia ini malah
menjauhkannya dari agama dan menjerumuskan nya ke neraka kelak.
Bagi rekan2 sekalian, rentang usia 30- 40-an, adalah saatnya kita menghadapi
realita kehidupan sehari2, perjuangan untuk mencari rizki menghidupi keluarga,
ada yg berhasil, namun ada juga yg masih susah kehidupan ekonominya. Menurut
saya, kita harus bisa melihat dari sudut pandang lain , bahwa masalah rezeki,
pencarian penghidupan sehari2, bukan hanya sekedar didasarkan pada sekedar
usaha duniawi belaka, mencari materi, namun juga usaha ukhrowi ( kebersihan
hati, ikhlas dan amal dakwah) dari seseorang, sampai sejauh mana tingkat
perjuangan dan usahanya, sampai sejauh mana tingkatan maqam nya ( tingkatan
amal soleh ) ?
Dalam buku Minhajul Abidin ( jalan pengabdian) , karya Imam Al Gazali, ada
dijelaskan juga tentang, tahapan2 yg dilalui manusia dalam proses pengabdian
nya pada Allah, sepanjang jalan kehidupan ini, dalam buku tsb diistilah dg
Aqabah yg diterjemahkan dengan pendakian/tanjakan ( terjemah Abdullah bin Nuh
), semuanya ada 7 aqabah. Dijelaskan aqabah ketiga adalah aqabah awaiq (
pendakian penghalang ) dimana ada beberapa ujian pada pendakian tersebut, dan
salah satunya ialah masalah rizki, bagaimana usaha kita memenuhi penghidupan
diri dan keluarga selama hidup di dunia ini, adalah semacam ujian juga . Kalau
ia bisa melewati aqabah ini, maka itulah saatnya ia telah ikhlas berjuang di
jalan Allah, dan rizkinya akan dimudahkan dan dicukupkan. Pada tahap
selanjutnya akan ada lagi tantangan2 yg lebih tinggi lagi, sesuai dengan kadar
kemampuan nya. Menurut saya pribadi, apa yg disampaikan Imam Gazali pada buku
tersebut, adalah semacam perumpamaan tentang
tahapan2 perjuangan yg dilalui manusia dalam perjalanan hidup ini…., semoga
kita semua bisa menapaki nya dengan baik…
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.