Benar, dalam sejarah, pedduduk mengerti hal ini. Hidup dalam budaya yang dinamakan slah and burn. Mereka tidak membakar hutan besar-besaran. Begitulah kehidupan penduduk setempat.
Pembakaran hutan besar-basaran dan hot spots yang penuh bintik-bintik dalam teropongan satelit ini baru muncul kira-kira 10 tahun blakangan ini. Barangkali Angku Armen ingat bahkan orang-orang di Padang dan Bukittinggi harus pakai masks. Orang Singapur dan Malaysia apa lagi, bahkan kabarnya asap samopai ke Filipina. Mak Sati waktu itu di Bukaittinggi pakai mask, tanya sama beliau. Pembakaran ini dilakukan setelah tanah-tanah hutan yang kayu-kayu besarnya sudah dibabat dan "dilatehi" kemudian "atas preintaha tuan-tuan kayu, kemudian dikubak" dengan pembakaran-pembakaran besar-besaran yang tidak terkendalikan. Memang orang kampung yang mereka salahkan, namun orang kampng hanya melakukan itu atas "perintah" tuan-tuan pemilik modal kelapa sawit plantation sedangkan para penganggung jawab masyarkat picing-picingkan mata "haning-haning" saja. Saya melihat masalah ini ketika membaca cerita bersambung di Riau Pos pad dekade yang lalu, ""Sang Sapurpa" kisah sedih orang kampuang yang diperalat dan dikambing-hitamkan dalam hal ini di Rohan Hulu sekitar Dalu-dalu. Sudah itu kita sama sama melihat hotspots yang menyeramkan terjadi diseluruh Riau bahkan Jambi dan Palembang. Saya sering monitor satelit MSN Singapore waktu itu dan sering forwaredkan ke Rantaunet. Karena ingin bagaimana pandangan dari satelit itu dari dekat, awal tahun 2004 saya sengaja dari Singapore, Batam ke Tambilahan, ambil jalan lintas timur dari Rengat ke Pekanbaru. Di sana lah saya mengucap-ngucap sepanjang jalan bagaimana merananya tanah-tanah dengan "bancah-bancah" dan batang-batang kayu yang tinggal masih "mati tagak" denan panggul dan badannya hitam membara. Sementara di Pangkalan kerinci dari dalam Batang Kapoar saya lihat ratusan, mungkin jumlahnya ribuan kalau dihitung, log kayu besar-besaran dihanyutkan dan diistirahatkan di bank of the river. Palalawan adalah pintu keluar log itu ke mana-mana di dunia ini. Lepas dari Pangkalan Kerinci menjelang Pekanbaru baru saya terkejut lagi setelah saya pikir saya tidak di Sumatera lagi, tetapi seperti saya di Negeri Pahang dalam perjalanan dari Sri Menanti Negeri Sembilan keliling Malaysia sebelum itu. Penuh kelapa sawit. Perjalanan keingin-tahuan ini tidak berhenti hingga Pekanbaru saja tetapi saya menjelajah lagi membikin loop dari Pekanbaru ke Bangkinang, belok ke Ujung Batu (menjelang Pasir Pangiraian) belok lagi ke Patapahan ke Minas balik ke Pekanbaru. Kelapa sawit lagi di mana-mana. Dari Pekanbaru perjalanan diteruskan lagi ke Lipat Kain, Logas, Muara Lembu, Lubuk Jambi terus masuk lagi ke Sumatera Barat. Namun yang saya saksikan, dalam sehari perjalanan (Pekanbaru - Lubuk Jambi) itu, barngkali tidak kurang dari 100 trucks yang saya selisihi, penuh berisi log-log besar yang masih fresh. Mereka berkonvoi dua atau tiga.... Maaf cerita agak berbelok panjang,; point saya adalah, pembakaran itu tidak terjadi "setiap tahun begitu saja" selama ini oleh masyarakat penghuni. Baru maulai waktu budaya-budaya pembabatan penghabisan hutan besar-bearan yang dimulai dalam beberapa dekade yang "jaya" ini. Salam, -- MakNgah Sjamsir Sjarif --- In [email protected], Armen Zulkarnain <emeneschoo...@...> wrote: > > Assalammualaikum wr wb. > > > Inyiak Sunguik, sarato angku, mamak, bundo jo dunsanak sapalanta RN nan ambo > hormati, > > Setiap tahun (ketika musim kemarau) provinsi Riau selalu mengalami kebakaran > lahan. Hal ini disebabkan sebaran lahan gambut yang sangat dominan pada kontur > tanah hampir di seluruh wilayah provinsi Riau. Kebakaran lahan ini bukan > berarti tanaman/tumbuhan saja yang terbakar, namun lebih kepada "lapisan > tanahnya" sendiri yang terbakar. Memang tanah bisa terbakar? Tentu saja pada > tanah yang umum kita jumpai tidak akan bisa terbakar. Lahan gambut memiliki > karakteristik berbeda seperti tanah-tanah yang umum kita jumpai. Tanah gambut > berasal dari sisa pelapukan tanaman (daun-ranting-kayu) yang tidak selesai > proses pembusukannya. Sebenarnya lahan gambut lebih mirip dengan sekam atau > serbuk gergaji yang padat berada pada lapisan tanah. Sehingga kebakaran di lahan > gambut sama seperti "api/bara di dalam sekam". Yang sangat menyulitkan, lokasi > kebakaran utama, berada di dalam tanah. > > Ketebalan lahan gambut di provinsi Riau mulai 0.5 m - 5 m yang bervariasi pada > setiap kabupaten. Lahan gambut di provinsi Riau tersebar di seluruh wilayah, di > 10 kabupaten 2 kota (Siak, Rokan Hilir, Bengkalis, Rokan Hulu, Pelalawan, > Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kampar, Kuantang Singingi, Pekanbaru & Dumai). > Lahan gambut di provinsi Riau adalah lahan gambut terbesar di Indonesia. > Keberadaan lahan gambut ini selalu dipertimbangkan pada setiap mata kuliah > Fakultas Pertanian Universitas Riau, sebab mempengaruhi teknik budidaya, > pemupukan, varietas & hasil usaha tani serta karakteristiknya yang memiliki > tingkat keasaman tinggi (pH < 7). > > Pada musim penghujan umumnya kondisi tanah lembab & basah, sehingga amat kecil > terjadi kemungkinan kebakaran lahan. Namun di musim kemarau, keberadaan lahan > gambut sangat rentan dengan kebakaran. Lapisan tanah gambut ibarat hamparan luas > tumpukan sekam yang mudah terbakar. Hal ini diperparah ketidakmengertian > masyarakat akan potensi bahaya, seperti membakar sampah, membuang puntung rokok, > dll. Kondisi ini semakin dipermudah dengan tingginya suhu di provinsi Riau yang > bisa mencapai 350C hingga 35,50C. > > Pada lokasi yang tidak terlalu besar, kebakaran ini bisa dilakukan dengan teknik > pemadaman "memotong" aliran api (bara) di areal kebakaran. Caranya dengan > menggali lapisan tanah dengan membuat lubang-lubang parit yang disebut beje > disekitar areal kebakaran dan mengisinya dengan air. Penggalian dilakukan dengan > alat berat seperti excavator. Namun apabila lokasinya terlalu luas, saya kira > sulit untuk dilakukan pemadaman. Permasalahan klasik lainnya, tidak semua lokasi > terdapat alat berat seperti excavator. Semoga bermanfaat, amin ya Rabbal alamin > > wasalam > > AZ - 32 th > Padang > > ________________________________ > Dari: sjamsir_sjarif hamboc...@... > Kepada: [email protected] > Terkirim: Kam, 21 Oktober, 2010 23:01:39 > Judul: Re: [...@ntau-net] Asok > > Iko sabagian gambar-gambarnyo: > http://www.google.com/images?hl=en&expIds=17259,17291,22881,24472,25532,\ \ > 25907,26095,26562,26637,26992,27013,27147&sugexp=ldymls&xhr=t&q=Hot+Spot\ \ > s+Sumatra+Satellite&cp=16&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:officia\ \ > l&channel=s&um=1&ie=UTF-8&source=og&sa=N&tab=wi&biw=1024&bih=568 > > --MakNgah -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
