Memang kita harus waspada pada gempa dan tsunami apalagi kejadian itu masih 
bisa 
kita saksikan beberapa lalu, namun yang tidak kalah pentingnya bagaimana kita 
mendengar dan mempercayai isu. Isu kadang-kadang benar dan kerap kali salah.

Menurut saya, isu gempa dan tsunami perlu diragukan karena kita belum mampu 
meramalkannya meski sebetulnya suatu saat kemampuan manusia tersebut dapat 
diujutkan. Mudah-mudahan.......................................... Yang 
mengherankan, isu tersebut bersumberkan dari pakar kebumian dan saya selalu 
bertanya kok demikian ?. Saya salah satu pakar kebumian yang kebetulan 
berkecimpung pada kebencanaan geologi. Selama 4 tahun (2004-2008) pernah 
melakukan penelitian kebencanaan geologi di Sumatera Barat termasuk gempa bumi 
didalamnya. Prinsipnya, memang sewaktu-waktu bencana tersebut datang tapi 
tepatnya tidak tau.

Saran saya, siapapun yang meramalkan datangnya bencana itu biarlah dan 
terimalah 
dengan kepala dingin tapi tidak perlu dipercayai. Lakukanlah kegiatan-kegiatan 
sehari, namun tetap waspada. Kecuali, memang ada ketidak laziman kondisi 
seperti, cuaca yang buruk,  binatang yang perilakunya tidak seperti biasa 
karena 
lebih peka dari manusia, gelombang laut yang tidak seperti biasanya, dan 
sebagainya. Apabila itu terlihat, maka perlu kita curigai.

Akhirnya, saya harapkan kita dapat melakukan kegiatan keseharian kita. Nelayan, 
tetap mencari ikan begitu pula dengan yang lainnya.

Wassalam,

Dr.Ir. Herman Moechtar

Ahli Kebumian




________________________________
From: Jacky Mardono Tjokrodiredjo <[email protected]>
To: Rantau <[email protected]>
Sent: Sat, October 23, 2010 3:54:12 PM
Subject: [...@ntau-net] Takut Tsunami, Nelayan di Padang Tak Melaut

Nusantara
Takut Tsunami, Nelayan di Padang Tak Melaut
 
Sabtu, 23 Oktober 2010 - 14:18 wib
Rus Akbar - Okezone 
 

PADANG - Akibat isu gempa dan tsunami yang akan melanda wilayah Padang, para 
nelayan mengurungkan niatnya untuk melaut.
 
Burhanuddin (35), warga Keluruhan Pasia Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, 
Padang, 
mengaku isu tersebut beredar pada saat terjadi fenomena alam halo matahari.
 
"Isu ini sudah sangat santer di daerah kami. Akibatnya, kami tidak berani pergi 
menjaring ikan di laut. Kami takut akan datang gempa dan tsunami," ujarnya, 
Sabtu (23/10/2010).
 
Burhanuddin memilih memperbaiki jaringnya di rumah bersama dengan tiga anaknya. 
"Lebih baik saya di rumah memperbaiki jaring ini bersama anak-anak. Kalau saya 
paksakan melaut, kasihan anak dan istri. Mereka sangat cemas dengan isu ini," 
ungkapnya.
 
Syarizal (50), juragan ikan sekaligus pemilik kapal bagan, membenarkan soal isu 
ini. Dia pun akhirnya meliburkan semua anggotanya.
 
"Kita sama-sama tahu masalah gempa ini, kita kan sudah merasakan betapa kuatnya 
gempa 30 September 2009 lalu itu, dan kami mengakui sejak gempa sampai saat ini 
masih trauma soal itu, lebih baik saya bersama anggota tidak pergi ke laut 
takut 
itu benar-benar terjadi. Meski penghasilan kurang, tak apalah," tuturnya.
 
Akibat tidak melautnya para nelayan, harga ikan di pasar pun naik. "Ikan 
sekarang jarang karena isu itu mungkin. Ikan tongkol ini saja biasanya Rp15 
ribu 
tiga ekor sekarang sudah Rp20 ribu sampai Rp25 ribu," ujar Budi (30), penjual 
ikan keliling di Pasian Nan Tigo.
(lam)


Sent from Indosat BlackBerry powered by 
Bagi Pengguna Ponsel, BlackBerry Nikmati Berita Terkini Di http://m.okezone.com 




-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib 
mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.



      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke