Assalammualaikum wr wb
Pak Mochtar Naim, sarato angku, mamak, bundo jo dunsanak sapalanta RN nan ambo
hormati,
Dalam setiap kesempatan, dimana saja & kapan saja saya selalu berusaha
mendokumentasi daftar kalangan perantau minang berdasarkan nagari asalnya. Ini
adalah salah satu ikhtiar saya untuk melakukan pengarsipan yang nantinya bisa
diserahkan pada Wali Nagari yang bersangkutan. Namun, selama kegiatan saya ini,
ada pula orang minang yang tidak memiliki nagari asal. Bagi saya, orang minang
tentunya bersako & berpusako, dari persekutuan sako & pusako inilah
terbentuknya
suatu nagari. Jadi, apabila ada orang minang yang tidak memiliki nagari asal,
seperti 625 nagari yang tersebar di 11 Kabupaten di Sumatera Barat, saya kira
telah kehilangan sebagian "ruh" kebersamaannya, yang merupakan perpaduan
manitik
dari langik & mamabasuik dari bumi .
Nagari yang dahulunya dipimpin oleh persekutuan ninik mamak penghulu kaum, pada
tahun 1914 diperkenalkan dengan sistem "Kelarasan" & "Wali Nagari". Dimana
sistem kelarasan ini dipegang oleh "Tuanku Laras" yang ditunjuk oleh
pemerintahan kolonial Belanda. Sedangkan jabatan Wali Nagari dipilih secara
bersama-sama dari persekutuan ninik mamak penghulu kaum yang terdapat di nagari
tersebut. Kelarasan ini berbeda dengan "lareh" yang terbagi atas 2 faksi besar
"Lareh Koto Piliang" & "Lareh Bodi Caniago". Kelarasan lebih mirip dengan
kecamatan/distrik (di papua) sebagai badan penyelenggaraan pemerintahan yang
berada di bawah dan bertanggung jawab kepada bupati/walikota melalui sekretaris
daerah kabupaten atau kota. Sedangkan Wali Nagari saat ini dipilih bersama-sama
seluruh masyarakat nagari, bukan hanya hak pilih dari seluruh ninik mamak
penghulu kaum, dan tidak merupakan suatu keharusan berasal dari kalangan ninik
mamak.
Saya kira, di Sumatera Barat yang menjadi pokok permasalahan bukanlah bagaimana
perluasan wilayah kota Bukittinggi (luas wilayah : 25,24 km²), namun, apakah
wilayah Administratif setingkat Kota di Sumatera Barat mau merevisi pembagian
"cluster" wilayah pemerintahan terendahnya dari kelurahan atau beberapa
kelurahan menjadi "Nagari" sehingga 19 Nagari di sekeliling kota Bukittinggi
itu
hanya berpindah status dari bagian wilayah administratif Kabupaten Agam
menjadi bagian wilayah administratif Kota Bukittinggi. Sebagaimana yang kita
ketahui, 7 Kota yang ada di Sumbar, umumnya dipenuhi oleh kalangan pendatang.
Namun, tentunya ada penduduk asli di sebagian wilayah-wilayah perkotaan itu
sejak ratusan tahun yang lalu, seperti :
1. Kota Padang
* Pauh V
* Kuranji
* Koto Tangah
* Bukik Aia Manih
* Lubuk Kilangan
* Subarang Padang
* Bugus Teluk Kabung
* dll
2. Kota Bukittinggi,
* Kurai Limo Jorong
* Tigo Baleh
* Aua Birugo
* Guguak Panjang
* dll
3. Kota Pariaman
* Sunua
* Kurai Taji
* IV Padusunan
* Nareh III Koto
* IV Koto Sungai Rotan
* dll
4. Kota Padangpanjang
* Bukik Surungan
* Gunuang
* Ngalau
* Sigando
* Koto Katik
* dll
5. Kota Payakumbuh
* Koto Nan Ompek
* Koto Nan Godang
* Lampasi
* Aie Tabik
* Tiaka
* dll
6. Kota Solok
* Lubuk Sikarah
* * VI Suku
* Sinapa Piliang
* IX Korong
* Kampai Tabu Karambia
* Aro IV Korong
* Simpang Rumbio
* Tanjung Paku
* dll
7. Kota Sawahlunto
* Silungkang
* Kubang Sirakuak
* Talawi
* Sijantang
* Lumindai
* Talago Gunuang
* Kubang Tangah
* dll
Salah satu diskusi yang sangat menarik diantara saya dengan Angku Dt Endah
Kayo
Nan Kuniang Ketua KAN Lareh Nan Panjang Kota Padangpanjang, untuk mengurus
pencairan dana operasional KAN sebesar 10jt/tahun, beliau diharuskan meminta
tanda tangan 7 lurah yang ada di kecamatan Padangpanjang Timur, yaitu Lurah
Ganting, Guguak Malintang, Koto Katik, Koto Panjang, Ngalau, Sigando, Tanah
Palambiak.
Saya kira, jajaran Pemda Bukittinggi & DPRD Bukittinggi bisa menangkap sinyal
penolakan ini dengan menelurkan Perda Kota Bukittinggi bahwa selain kelurahan,
nagari juga merupakan salah satu sistem pemerintahan terendah di Kota
Bukittinggi. Dengan begitu, saya kira polemik ini bisa diakhiri oleh Pemko
Bukittingi dengan 19 Nagari yang menolak PP 84 tahun 1998.
sebagai perbandingan luas wilayah 6 kota lain di Sumbar :
* Kota Padang (694,96 km²)
* Kota Padangpanjang (23 km²)
* Kota Pariaman (73.36 km²)
* Kota Payakumbuh (80,43 km²)
* Kota Solok (57,64 km²)
* Kota Sawahlunto (273.45 km²)
Tentunya kita bisa memperluas wilayah perkotaan tanpa harus mengganti nagari
sebagai sistem pemerintahan demokrasi yang bercorak kultur minangkabau menjadi
Kelurahan.
wasalam
AZ - 32 th
Padang
asa nagari Kubang, 50 Koto
babako ka Canduang Koto Laweh, Agam
Mochtar Naim View profile More options Oct 29, 7:26 pm
Dedi,
Referendum adolah satu caro nan bisa awak lakukan sacaro demokratis dan
terbuka.
Nan penting rakyat punyo peluang untuk mengemukakan pandapeknya tanpa diarahkan
atau apalagi dikerahkan.
Nan ambo sampaikan dalam Surat Terbuka itu adalah sikap politis nan
diperlihatkan oleh wakil2 rakyat Agam di DPRD Kab Agam dan Bupati sendiri di
samping Surat Penolakan oleh praktis seluruh Wali Nagari di Kab Agam. Gambaran
nan ambo tangkok di Banuhampu, sebagian terbesar dari pemuka masyarakat nan di
kampuang menolak PP84. Sebagian kecil perantau, termasuk nan dipelopori oleh
sekelompok nan mudo2, pro PP84. Di Gaduik juo ado nan pro ado nan kontra.
Baitu
juo di nagari-nagari lain di sekitar BT. Tapi nan ambo tangkok, jauah labiah
banyak nan kontra dari nan pro.
Co lah awak caliak perkembangannyo lebih lanjut.
MN
Dedi Nofersi View profile More options Oct 29, 7:01 pm
Assalamu'alaikum Pak Mochtar.
Dek karano Apak manyuruah sumbang pandapek. Izinkan ambo manyampaikan pandapek.
Manuruik ambo (ayah ambo rang Gaduik, ibu rang Kurai Taji) jalan kaluanyo bisa
melalui referendum. Sahinggo dengan jalan tu bisa labiah tarang dan fair. Sabab
kalau ambo danga pandapek dikapuang, sabagian nio dan sabagian indak nio.
Itu pandapek dari ambo Pak.
Wassalam,
DN
[email protected] View profile More options Oct 29, 5:16 pm
Da Mochtar Naim yth,
Untuak referensi awak basamo rancak juo Da Mochtar tambahkan latar belakang,
proses nan pernah bajalan mulai dari awal taun 80, hasil musyawarah besar
Banuhampu taun 1986, surek dari Bupati Agam/DPRD Agam, surek walikota
Bukittinggi/DPRD Bukitinggi Desember 1987 ka Mendagri tantang permintaan dan
persetujuan untuak perluasan kota Bukittinggi dan baru terakhir pemerintah
pusat
mangaluakan PP nan jadi heboh ko. Sebagai pelaku sejarah dalam Mubes Banuhampu
taun 1986 Da Mochtar bisa pulo bacarito apo hasil mubes tu. Dengan itu
masyarakat indak dapek informasi sapotong-sapotong dan bisa pulo tau dan
manilai proses dari awal PP 84/2008 ko.
Wassalam
Salam hormat ambo
Tan Ameh (52+)
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
________________________________
Dari:Mochtar Naim <[email protected]>Kepada:[email protected];
[email protected]; [email protected]; [email protected]
Cc:Mochtar Naim <[email protected]>
Terkirim:Jum, 29 Oktober, 2010 15:21:43
Judul:[...@ntau-net] SURAT TERBUKA KPD GUBERNUR IP DARI MOCHTAR NAIM MENGENAI
PP84
Sanak semua di dunia maya,
Saya lampirkan Surat Terbuka saya kepada Gubernur IP mengenai pelaksanaan PP84
seperti yang disampaikannya pada pelantikan Bupati Agam yang baru kemarin lalu.
Silahkan sanak juga ikut urun pendapat tentang alternatif ke depan yang perlu
kita ambil dan dukung bersama.
Mochtar Naim
291010 --
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.