jangan sampai nanti silek dipatenkan menjadi olah raga beladiri khas Jerman, 
kebetulan bendera Jerman dan umbul2 minangkabat serupa pula.

wassalam,
harman

http://koran.republika.co.id/koran/14/122121/Silek_Minangkabau_Etalase_Ribuan_Filosofi

Minggu, 31 Oktober 2010 pukul 07:51:00
                Silek Minangkabau, Etalase Ribuan Filosofi                      
                 
                

                                        Fitria Andayani

Di tengah krisis kebanggaan pada seni tradisi ini, orang asing justru 
berbondong-bondong mempelajari.


Lahia
 silek mancari kawan, batin silek mancari Tuhan. Untuk masyarakat 
Minangkabau, silat atau silek tak sekadar sebuah seni bela diri. Lebih 
dari itu, silek adalah cara untuk berkawan dan pada akhirnya jalan 
menemukan Tuhan. Silek pun telah meretas jalan dalam torehan sejarah 
awal berdirinya negeri ini. Kali pertama, silek diperkenalkan oleh Datuk
 Suri Diraja dari Kerajaan Pariangan di kaki Gunung Merapi pada abad XI.
 Sejak itu, silek mulai dipelajari banyak orang, baik itu di Minangkabau
 hingga Jawa dan Malaysia. Bahkan, di masa Kerajaan Majapahit, silek 
merupakan ilmu perang untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ini 
sekaligus mengukuhkan masa keemasan silek di abad ke-16. 

Kini, 
ceritanya berubah. Masa keemasan itu mulai memudar. "Ini karena tak 
banyak masyarakat Minangkabau terutama generasi muda yang peduli dengan 
keberadaannya," ujar seorang pendiri Persatuan Aliran Silek dan Seni 
Tradisi Minangkabau (Pasti Minangkabau), Aris I Sofyan. Saat ini, kata 
Aris, anak muda lebih tertarik belajar kungfu hingga judo ketimbang 
silek. Muhammad Ikhsan (19 tahun) adalah satu di antaranya. Mahasiswa 
ini lebih memilih menekuni taekwondo daripada belajar silek Minangkabau,
 seni bela diri khas daerah asalnya. Tak hanya beranggapan seni ini 
sulit dipelajari, "Setahu saya silek kan bukan hanya soal gerakan fisik,
 melainkan juga ada unsur ilmu kebatinan dan adat," tuturnya. Bahkan, 
Wahyudi Lukman (21), seorang atlet silat, sempat beranggapan silek 
kurang berkelas dibandingkan seni bela diri dari Cina atau Jepang. 
"Namun, ternyata setelah saya pelajari, justru silat tak sekuno itu. 
Unsur olahraganya banyak juga kok,'' tuturnya. Kendati begitu, dia tetap
 enggan belajar silat tradisi. "Saya dalami silat prestasi saja," 
katanya.

Silek kian berada di jurang kepunahan lantaran banyak 
tuo silek (guru silat) yang tidak mewariskan semua ilmu yang mereka 
miliki pada muridnya sehingga tidak ada penerus yang benar-benar 
menguasai ilmu tersebut. "Tampaknya mereka trauma dengan pengkhianat," 
ujar Aris. Mereka takut jika mereka memberikan semua ilmu yang mereka 
miliki kemudian muridnya itu berkhianat, ia tidak memiliki sesuatu yang 
lebih untuk membela dirinya. "Hal ini berbeda dengan guru bela diri 
Jepang yang akan memberikan semua ilmunya bahkan lebih pada muridnya," 
ujar Aris.
 
Sementara itu, tuo-tuo silek hanya akan berbagi 
delapan dari sepuluh ilmu yang dimilikinya. Inilah yang mencemaskan 
lantaran hanya sedikit pandeka silek (orang yang pandai bersilek) dan 
tuo silek (pengajar silek) yang tersisa. "Berdasarkan pendataan yang 
kami lakukan ke-19 daerah tingkat I dan II di seluruh Sumatra Barat, 
baru ditemukan sekitar 126 tuo silek yang masih eksis mengajar," 
tuturnya. Sedangkan dari 160 aliran yang teridentifikasi, baru ada 27 
aliran silek yang berhasil ditemukan. "Sisanya belum tergali dan mungkin
 sudah punah," ujarnya.

Orang asing
Ironisnya,
 di tengah krisis kebanggaan masyarakat Minang terhadap silek, 
orang-orang asing justru giat menggali dan belajar khusus tentang ilmu 
ini. "Bahkan, dari data jumlah murid semua perguruan silek yang ada di 
negara lain mencapai lebih dari 20 ribu orang," katanya. Orang-orang 
asing itu biasanya berasal dari Jerman, Belanda, Prancis, Spanyol, 
Inggris, dan Austria. Antusiasme mereka besar sekali untuk mempelajari 
berbagai aliran silek, terutama yang menonjol adalah aliran silek tuo 
dan silek kumango.
 
Seperti yang dilakukan ketua persilatan Eropa
 yang berasal dari Jerman, sang ketua ini, ungkap Aris, tak hanya khusus
 belajar silek Minangkabau aliran silek tuo, tetapi juga membuat 
disertasi mengenai aliran silek yang dipelajarinya. Aris merasa, ini 
mengancam eksistensi silek Minang. "Apalagi kalau mereka berniat 
mematenkannya, silek Minangkabau akan menjadi milik mereka," tuturnya. 
Biasanya, mereka mendapatkan ilmu tersebut melalui para pandeka silek 
yang merantau ke luar negeri. Mereka inilah yang mengajarkan ilmu silek 
pada orang-orang asing di sana. Ada juga orang asing yang sengaja datang
 ke daerah Minangkabau hanya untuk belajar silek langsung pada tuo-tuo 
silek. "Orang asing tersebut dapat dengan mudah memperoleh ilmu silek 
tanpa biaya," ujar Aris.

Setelah kembali ke negaranya, mereka 
mengajarkan silek bagi orang-orang di negaranya dengan menentukan tarif.
 "Setiap kepala biasanya dipatok 30 DM (deutsche mark) per jam, 
rata-rata latihan dilakukan selama dua jam dan dari satu kali latihan 
minimal terdapat 20 orang," lanjut Aris. Silek memang mengajarkan para 
pendekarnya untuk selalu memiliki kerendahan hati dan berjiwa bersih. 
Agaknya, itu pula yang menyebabkan banyak tuo-tuo silek menjadi terlalu 
tulus dan tidak mengharapkan pamrih saat mengajarkan ilmunya.

Namun,
 akhirnya kebaikan mereka tak jarang dimanfaatkan oleh orang-orang yang 
ingin mencari keuntungan. Aris pun menuturkan kisah tentang seorang 
konglomerat dari Jakarta yang meminta para tuo silek untuk tampil 
memamerkan ilmunya di Prancis. "Yang namanya orang Indonesia, tentu 
bangga kalau pergi ke luar negeri," kisah Aris.

Sang konglomerat 
lalu mengirim para pendekar silat tersebut sampai dua kali. "Sayangnya, 
selama dua kali tersebut, mereka yang diutus tidak mendapatkan tanda 
terima kasih yang sepadan," ujar Aris. Mereka hanya diberi Rp 2 juta per
 orang sesudah tampil padahal keuntungan yang diperoleh oleh konglomerat
 tersebut sangat besar. Meski kemudian sang konglomerat berjanji untuk 
memberikan bantuan dana agar silat tradisi ini bisa berkembang, 
kenyataannya sampai sekarang tidak ada janji yang ditepati.

Kisah
 itu tak berhenti di sana. Ada pula seorang tuo silek dari Desa Gunuang,
 Padang Panjang, bernama Inyiak Upiak Palatiang. Dia adalah seorang 
perempuan tuo silek yang berusia lebih dari 100 tahun. Berkat publikasi 
di koran lokal, dia terkenal dan makin banyak orang-orang yang datang 
padanya untuk berguru. "Dan, lagi-lagi dari orang yang berguru padanya 
itu, dia tidak dapat apa-apa," papar Aris.

Upaya pelestarian
Bagi
 para pesilek, ilmu silek menyimpan filosofi mendalam. Saking indahnya, 
Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Sumatra Barat berencana untuk 
menghadirkan fakultas silat tradisi di kampus mereka. Di luar itu, silek
 pun menyimpan potensi wisata. "Seni bela diri selalu menarik perhatian 
orang," kata Aris. Dulu, sempat diadakan uji ketangguhan di antara seni 
bela diri yang lain. Ternyata, silek Minangkabau mampu bersaing bahkan 
mengalahkan keampuhan seni bela diri yang lain. Meski punya potensi, 
rupanya usaha pelestarian silek kerap terkendala dana. Tak banyak orang 
berduit yang mau memberikan sponsor atau donor untuk pembinaan silek. 
Ini karena silek Minangkabau sudah kurang diminati bahkan oleh 
masyarakat Minang sendiri. Alhasil, para penyandang dana enggan untuk 
menginvestasikan uangnya.

Namun, harapan tak pernah pupus. Tim 
Pasti Minangkabau berusaha giat mendata aliran silek Minangkabau. "Kami 
akan terus mendata hingga setidaknya kami menemukan lebih dari 50 persen
 aliran silek Minangkabau," tutur Aris. Mereka juga berusaha 
mempertemukan guru silek Minangkabau dengan guru silat Jawa sehingga 
mereka bisa saling mengisi.

Setelah itu, mereka akan 
memfasilitasi pertemuan antara tuo-tuo silek di seluruh Minangkabau. 
Kegiatan ini pernah diadakan pada 14 Desember 2003 di Bukittinggi. 
"Rencananya akan kami rutinkan kembali," lanjut Aris. Selain itu, 
bekerja sama dengan pemerintah daerah, Pasti Minangkabau pun siap 
mengadakan Festival Silek Minangkabau yang diadakan setiap tahun. Pasti 
juga melakukan pendekatan dan sejumlah kerja sama dengan Ikatan Pencak 
Silat Indonesia (IPSI). "Salah satunya, agar mereka mau bekerja sama 
dengan Departemen Pendidikan Nasional sehingga silek bisa masuk sebagai 
mata pelajaran di sekolah-sekolah," tuturnya. Silek mungkin saja sebuah 
tradisi masa lalu. Namun, di dalamnya, kita bisa meresapi kearifan dan 
filosofi tentang hidup. Selain itu, silek adalah etalase ribuan filosofi
 yang menyatu dengan alam dan Tuhan. ed: endah hapsari (-)
                                




      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke