Waalaikumussalaam ww

Alhamdulillah, ketika dinegeri kita sedang berkutat memperkokokh da'wah dan 
tarbiyah, dinegeri seberang rupanya lebih menggembirakan dengan semakin 
ramainya 
orang2 well educated mempersaudarakan diri sebagai Mosleem dan semakin banyak 
saudara2 sesama Mosleem yang merantau kedaerah minoritas membentuk komunitas 
yang ditandai hidupnya cahaya Islam baik lewat pengajian ataupun aktifitas 
lainnya  


Suai mak, kita harus yakin bahwa "hari esok adalah milik Islam" bukankah 
Rasulullah dalam nubuwahnya ada menenggarai ada 5 periode Islam yaitu, pertama 
periode Kenabian, kedua periode Kulaffahurasyidin, ketiga periode Mulkan 
'Aadhan 
(penguasa yang menggigit), keempat periode Mulkhan Jabriyan (Penguasa yang 
menindas), kelima periode terakhir sebelum kiamat, sekali lagi umat ini akan 
jaya dengan kekhalifahan yang tegak diatas nilai2 kenabian dan nilai2 Islam 
yang 
rahmatan lil allamiin

Sekarang kita kira2 berada pada masa peralihan periode 4 ke periode 5 yang 
disebut juga sebagai era kebangkitan Islam setelah keterpurukan selama ratusan 
tahun ditindas kolonialisme Barat, maka oleh karena itu untuk menyongsong era 
kejayaan Islam sebagaimana yang disampaikan Rasulullah yang kita perlukan 
adalah 
kebersamaan (jama'i)

Rasulullah sama sekali tidak berpijak pada kerja Fardiyah (individual), bahkan 
sejak awal Beliau SAW bekerja keras menegakkan Jamaah yang solid yang 
anggota2nya terseleksi sebaik dan sebersih mungkin agar kelak bisa diandalkan 
menjadi tolls bagi Islam dalam melakukan perombakan dari kejahiliyahan, karena 
beratnya medan perjuangan tersebut diperlukan Tandzim (struktur) yang kuat baik 
kualitas dan kuantitas agar mampu menghadapi setiap fase perjuangan da'wah 
dalam 
kondisi seburuk apapun, perjuangan menegakkan Islam harus dilakukan secara 
Jama'i (ber-sama2), haraqi (movement) dan tertata rapi (well organized)

Mari kita jenguk ayat berikut ini "Sesungguhnya Allah mencintai orang2 yang 
berjuang dijalan NYA dalam barisan yang teratur, mereka se-akan2 seperti suatu 
bangunan yang tersusun rapi dan kokoh" Surah As Shaff (61):4 


Jadi kayaknya setelah anak dan keluarga terbenahi, sepertinya wajib ya berjuang 
ber-sama2 dalam sebuah wadah yang well organized, So tidak tergerakkah hati 
kita2 ini untuk berpartisapi?


Mohon maaf kok kurang berkenan
Wasalam
abp58



________________________________
Dari: Hambo Ciek <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Cc: "[email protected]" <[email protected]>; 
[email protected]
Terkirim: Jum, 5 November, 2010 06:43:28
Judul: [...@ntau-net] Re: [PSF] Surat Terbuka Lauren Booth: Mengapa Saya 
Memilih 
Islam (2)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarkatuhu,
Saya yakin Islam akan tetap berkembang. Dari pengalaman pribadi dan saksi mata 
senditi sebagai contoh kecil, mikrokosmos,  dapat saya ceritakan sekelumit, 
Mulai spring tahun 1966 waktu saya baru datang di UC Berkeley Campus, hanya 
beberapa orang (belum banyak) jumlah jamaah wakatu Jumat di Student Union. 
Tahun 
1980an hanya 5-6 orang jemaah Jumat kami yang kami laksanakan di Kantor saya di 
UC Santa Cruz. Umumnya anggota jemaah dari MSA.
Sekarang, alhamdulillah,  di Santa Cruz walaupun belum punya mesjid permanen 
kami punya jemaah kira-kira 50 orang untuk berjumat. Untuk sembahyang subuh, 
walaupun dua atu tiga orang jemaah kami di Sana Cruz, ( 1 dari Maroko, 1 dari 
India, 1 dari Indonesia) namun dalam hati kami, kami sudah mancakup di bawah 
naungan daerah Islam yang luas tersebar besar --   dari Marakesh ke Murauke 
(dari Maroko ke Indonesia).
Dipandang agak jauh sedikit disebrang Santa Cruz Mountain, di MCA  Santa Clara 
saya merasa berbahagia sekali dapat ikut berjemaah dengan kira-kira dua ribu 
orang di Malam-malam Qadar bulan Puasa yang lalu. Subhanallah. Alhamdulillah, 
Allahuakbar.
Walaupun banyak aral melintang,
Namun Islam akan terus berkembang.
Salam,
-- Sjamsir Sjarif
--- On Thu, 11/4/10, Adi Sumandi <[email protected]> wrote:


>From: Adi Sumandi <[email protected]>
>Subject: Re: [PSF] Surat Terbuka Lauren Booth: Mengapa Saya Memilih Islam (2)
>To: "[email protected]" <[email protected]>
>Cc: "[email protected]" <[email protected]>
>Date: Thursday, November 4, 2010, 5:37 PM
>
>  
>Subhanallah   
>Sekian banyak kisah orang terpesona Dan akhirnya memeluk Islam. Semoga kita 
>menjadi lebih kuat. Amin
>Adi
>
>On Nov 4, 2010, at 10:15 AM, Yusuf <[email protected]> wrote:
>
>Republika OnLine » Dunia  Islam » Islam Mancanegara 
>>Surat Terbuka Lauren Booth: Mengapa Saya Memilih Islam  (2)Kamis, 04 November 
>>2010, 17:46  WIB
>>
>>     
>>Daily Mail
>>
>>Lauren Booth   
>>REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Belum sebulan menjadi mualaf, ipar mantan perdana  
>>menteri Inggris Tony Blair,  Lauren Booth, kembali menjadi bahan berita.  
>>Kali 
>>ini ia disebut menganut Islam syiah garis keras. Tudingan itu, dilatari  
>>perjalanannya ke Iran yang mengantarkannya menjadi Muslim. 
>>
>>Publikasi  lain menyebut, ia menjadi Muslim hanya demi mencari popularitas. 
>>"Ia 
>>ingin  diperhatikan," demikian sebagian orang mengomentari.
>>Alih-alih menanggapi  semua tudingan, ia malah membuat surat terbuka tentang 
>>rasa syukurnya menjadi  seorang Muslim. Suratnya itu dimuat di harian Daily 
>>Mail 
>>edisi awal pekan ini.  Berikut ini bagian dua dari petikan suratnya yang 
>>sebelumnya dimuat di Republika  Online edisi rabu (3/11): 
>>
>>Bagaimana tentang perjalanan spiritual? Itu  tak pernah terjadi pada saya. 
>>Meskupun, saya suka berdoa dan sejak kecil sudah  mendengar cerita tentang 
>>Yesus 
>>dan para nabi sebelumnya. Saya dibesarkan dalam  keluarga yang sangat 
>>sekuler. 
>>
>>Mungkin apresiasi saya atas budaya Islam,  terutama pada perempuan Muslim, 
>>yang 
>>menarik saya untuk mengapresiasi Islam.  Perempuan Islam yang saya lihat di 
>>Inggris adalah yang menutup seluruh tubuhnya  dari kepala hingga ujung kaki, 
>>kadang berjalan di belakang suami mereka, dengan  anak-anak berbaju panjang 
>>di 
>>sekitar mereka. 
>>
>>Ini sungguh kontras dengan  kondisi wanita profesional Eropa yang umumnya 
>>sangat 
>>memperhatikan  penampilannya. Saya, misalnya, sangat bangga dengan rambut 
>>pirang 
>>saya, dan ya,  belahan dada saya. Ini seolah menjadi "jualan" utama kami. 
>>
>>Saat bekerja  di dunia broadcast televisi, betapa hal itu makin jelas terasa: 
>>presenter wanita  menghabiskan waktu hingga satu jam untuk merias wajah dan 
>>penampilan mereka,  hanya untuk membahas satu topik "serius" yang memakan 
>>waktu 
>>tak lebih dari 15  menit. Apakah ini sebagian bentuk liber-ation? Saya mulai 
>>bertanya-tanya  seberapa banyak penghormatan bagi gadis-gadis dan perempuan 
>>dalam masyarakat  "bebas" kita. 
>>
>>Pada tahun 2007 saya pergi ke Libanon. Saya menghabiskan  waktu empat hari 
>>bersama para mahasiswi di sana, sebagian dari mereka mengenakan  cadar. 
>>Mereka 
>>tetap tampak menawan, mandiri, dan bebas berpendapat. Mereka semua  bukan 
>>gadis 
>>yang pemalu, atau mereka akan segera dipaksa untuk menikah, seperti  yang 
>>sering 
>>kita dengar di Barat.
>>Suatu waktu mereka menemani saya  mewawancarai seorang syekh yang 
>>disebut-sebut 
>>dekat dengan milisi Hizbullah.  Saya sangat terkejut ketika melihat bagaimana 
>>syekh itu memperlakukan pada gadis  yang menemani saya ini. Saat Syekh Nabil  
>>yang mengenakan surban dan jubah  cokelat berbicara tentang topik yang 
>>"menantang" -- tentang pertukaran tawanan  -- mereka tergelitik untuk angkat 
>>bicara. Mereka bebas bertanya dan menyatakan  apapun, termasuk angkat tangan 
>>untuk menyela sang Syekh yang tengah berbicara. 
>>
>>Ada hal lain yang berubah kemudian dalam diri saya.  Semakin banyak  waktu 
>>saya 
>>habiskan di Timur Tengah, semakin sering saya minta diantar ke  masjid. Hanya 
>>untuk kepentingan pesiar, begitu saya selalu meyakinkan pada diri  saya. 
>>Walaupun faktanya, saya mendapatkan lebih dari sekadar "wisata" belaka. 
>>
>>Bebas dari aneka patung dan bangku, saya melihat mereka duduk begitu  saja 
>>dengan anak-anak bermain di sekitarnya, beberapa memakan bekal mereka, dan  
>>wanita tua duduk di atas kursi roda mereka membaca Alquran. Mereka membawa  
>>"kehidupan" mereka ke masjid, dan membawa "masjid" ke dalam rumah-rumah 
>>mereka. 
>>
>>Dan tibalah suatu malam saat saya mengunjungi kota Qom, di bawah kubah  emas 
>>yang disebut Fatimah Mesumah (Fatimah Sang Teladan), sama seperti perempuan  
>>lainnya di sana, tiba-tiba saya bergumam nama Allah beberapa kali, ketika  
>>memegang pagar makam Fatimah. 
>>
>>Ketika saya duduk, sebuah kenikmatan  spiritual menyergap saya. Bukan 
>>kenikmatan 
>>yang seolah mengangkat kita dari  tanah, tapi kenikmatan yang memberi 
>>kedamaian 
>>penuh. Saya duduk di sana untuk  waktu yang lama. Seorang wanita muda di 
>>samping 
>>saya membisikkan, "Suatu  keajaiban tengah terjadi pada Anda". 
>>
>>Ya, seketika saya tahu. Saya bukan  lagi "turis dalam Islam", tapi telah 
>>menjadi 
>>umat, bagian dari komunitas Muslim,  dan terkait dengan seluruh Muslimin. 
>>
>>Untuk pertama kalinya saya  merasakan ingin lari dari situasi ini. Ada 
>>beberapa 
>>alasan; Apakan betul saya  telah siap berpindah agama? Apa yang akan ada 
>>dalam 
>>pikiran teman-teman dan  keluarga kalau saya menjadi Muslim? Apakah saya siap 
>>untuk mengubah banyak hal  dalam perilaku keseharian saya? 
>>
>>Dan yang terjadi kemudian adalah hal  yang benar-benar aneh. Saya tidak 
>>merasa 
>>khawatir tentang hal-hal itu, karena  entah bagaimana menjadi seorang Muslim 
>>sangat mudah - meskipun masalah yang akan  saya hadapi sangat berbeda, tentu 
>>saja.
>>Untuk memulai, Islam menuntut  banyak belajar, namun saya ibu dua anak dan 
>>bekerja penuh waktu. Anda diharapkan  untuk membaca Alquran dari awal hingga 
>>akhir, ditambah dengan bertemu imam dan  segala macam aturan bagi orang yang 
>>sudah tercerahkan. Kebanyakan orang akan  menghabiskan berbulan-bulan, bahkan 
>>bertahun-tahun sebelum menyatakan  keislamannya. Saya bisa melewatinya.
>>Kini saya menjalin hubungan dengan  beberapa masjid di North London, dan saya 
>>pergi ke sana setidaknya sekali  seminggu. Saya tidak mengkotakkan diri saya 
>>apakah saya seorang Syiah atau  Sunni. Bagi saya, hanya ada satu Islam dan 
>>satu 
>>Allah. 
>>
>>Mengadopsi  pakaian, harus saya akui, lebih sulit dari yang Anda pikirkan. 
>>Menggunakan  jilbab artinya saya berubah secara lebih cepat lagi. Dan, saya 
>>melakukannya  beberapa pekan lalu. Untunglah, cuaca di luar dingin, jadi 
>>hanya 
>>sedikit orang  yang memperhatikan. 
>>
>>Beberapa orang di tempat kerja saya bisa menerima,  sebagian lain mencibir, 
>>bahkan menganggap palsu konversi keyakinan saya. Tapi  sekarang, saya mulai 
>>bisa 
>>mengabaikan komentar-komentas negatif mereka. Beberapa  orang mungkin tak 
>>bisa 
>>paham tentang perjalanan spiritual, dan berbincang  tentang itu justru 
>>membuat 
>>mereka ketakutan. 
>>Lepas dari semua itu, satu yang menjadi perhatian saya saat ini adalah: saya  
>>akan tetap profesional. Beberapa aktivias lama akan tetap saya lakukan. Saya  
>>akan tetap menjadi aktivis pro-Palestina, dan tak akan berhenti. Inggris 
>>adalah  
>>negara yang lebih toleran, setidaknya dibanding Prancis dan Jerman. 
>>
>>Saya  beruntung bahwa saya mempunyai hubungan yang kuat dengan orang-orang di 
>>sekitar  saya. Reaksi dari teman-teman saya yang non-Muslim lebih pada 
>>penasaran 
>>daripada  bermusuhan. "Apakah itu akan mengubahmu?" Mereka bertanya. "Bisakah 
>>kita tetap  berteman? Bisakah kita pergi minum?"
>>Jawaban atas dua pertanyaan pertama  adalah: ya. Yang terakhir kemungkinan 
>>besar 
>>adalah, tidak.
>>Hubungan saya  dengan ayah saya mungkin memang tidak bagus, dan susah 
>>memintanya 
>>memahami  konversi keyakinan saya. Saya dan ibu saya memiliki hubungan yang 
>>buruk sejak  saya menginjak dewasa, namun kami membangun sebuah "jembatan" 
>>hubungan dan dia  selalu mendukung saya. Ketika saya bilang saya menjadi 
>>Muslim, 
>>dia menjawab,  "Bukan menjadi itu (Muslim). Kudengar tadinya kau menjadi 
>>Budha." 
>>Namun kini dia  memahami dan menerimanya. 
>>
>>Suatu saat jika harus menikah lagi, saya ingin  suami saya seorang Muslim. 
>>Jika 
>>ditanya apakah anak-anak saya akan menjadi  Muslim juga, saya tak bisa 
>>menjawabnya. Semua terserah mereka. Anda tak bisa  mengubah hati seseorang 
>>bukan? (Selesai)
>>Catatan: Beberapa bagian suratnya kami penggal, tetapi tidak mengurangi arti  
>>secara keseluruhan.
>__._,_.___ 


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke