Sanak Jepe,
Terima kasih atas koment-nya. Memang saya agak sakit hati kadang2 melihat
bagaimana di negeri orang yg namanya air (sungai, kanal, banda, dll.) menjadi
hiasan negeri, menjadi sumber income untuk penduduknya. Mereka memeliharanya
dengan baik dan menjaga kebersihannya. Di kita sungai, banda dan lain
sebagainya menjadi tempat buang sarok dan bahan2 yang kotor.
--- Pada Ming, 14/11/10, Jupardi ANDI <[email protected]> menulis:
Dari: Jupardi ANDI <[email protected]>
Judul: [Suryadi] Komentar: "Minang Saisuak #24. Pengerukan Batang Arau"
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 14 November, 2010, 8:25 PM
Komentar baru pada tulisan Anda #556 "Minang Saisuak #24. Pengerukan Batang
Arau"
Penulis : Jupardi ANDI (IP: 202.182.184.125 , 202.182.184.125)
E-mail : [email protected]
URL :
Siapa : http://ws.arin.net/cgi-bin/whois.pl?queryinput=202.182.184.125
Komentar:
Menarik bagi saya Artikel Sanak Minang Saisuak #24
Jika saya simak fotonya paling tidak saya bisa membayangkan situasi Muaro
Padang pada jaman dulu tentunya Ekosistimnya masih terjaga terutama di Daerah
Aliran Sungai Batang (H)Arau ini mulai dari Hulu sampai ke Hilir begitu juga
bantaran kiri kanan Sungainya belum diokupasi secara "membabi buta" oleh
(tekanan) penduduk tentu dapat dimaklumi jumlah penduduk kota Padang saat itu
belum banyak seperti sekarang
Jika pemerintahan Hindia Belanda begitu peduli dengan mulut muara ini tentunya
Muara Padang ini mempunyai arti yang sangat strategis terutama dalam hiruk
pikuk perdagangan yang memanfaatkan sungai sebagai sarana transportasi kapal
dijamannya. Muara Padang mempunyai arti yang penting sebagai pelabuhan dalam
mengangkut hasil bumi dan rempah2 dari ranah minang ini dibuktikan di kota lama
sepanjang batang harau menuju Pondok banyak terdapat gudang2 dengan bangunan
yang kokoh tempat penyimpanan hasil bumi sebelum di kapalkan
Dalam foto tersebut mesin keruk terlihat sedang bekerja, ini tidak lebih dan
tidak kurang tentunya mengeruk pasir dan lumpur dari hulu yang hanyut dan
menimbun di mulut muara (sedimentasi) sebuah proses yang alami saja terjadinya.
Tentunya agar kapal2 yang berlabuh bisa setiap saat,kapan saja tanpa harus
menunggu pasang naik baik ketika bersandar maupun berangkat
Kondisi Sekarang
Paling tidak dari tahun 2001 sampai awal tahun 2005 saya sangat akrab sekali
dengan pelabuhan muara Padang ini. Disinilah saya jika ke Sipora Mentawai
berangkat dengan kapal kayu (KMP) secara reguler 2 kali seminggu dari dan ke
Padang-Mentawai. Kondisinya seperti yang sanak bilang "ironis" sekali,
pengendapan lumpur, sampah terutama plastik sangat luar biasa belum lagi
pencemaran perairan sekitar mulai di hulu sampai ke hilir (miuaro)
Saking parahnya pengendapan (sedimentasi) di mulut muara memaksa kapal yang
"dari dan ke" harus menunggu pasang naik dulu untuk bersandar dan berangkat.
Pernah satu kali KMP yang saya tumpangi harus berangkat jam 12 malam karena
harus menunggu pasang yang sehrusnya KMP. Berangkat jam 9 malam agar sampai di
Sioban Sipora subuh, celakanya lagi pas keluar mulut muara mau masuk perairan
laut tiba-tiba KMP ini buang jangkar..apa pasal
Ternyata plastik diputar oleh baling2 kapal dan menyekat di porosnya, terpaksa
ABK dalam kegelapan malam yang dingin turun menyelam untuk membersihkan plastik
yang melilit poros baling2 kapal
Telah banyak kita diskusikan di palanta RN ini seputar muara padang dengan
pemikiran dan ide2 yang berlian buat PemKot Padang tapi nampaknya apa yang kita
diskusikan disini "mati terkubur" saja di alam maya ini.
Kalau tidak salah. Saya (kita) pernah berdiskusi seputar muara ini agar ditata
lebih baik lagi menjadi kawasan parawisata satu paket dengan Kota Tua dan
pantai muara
Kapal motor penumpang dan barang antar pulau pindah total ke Teluk Bayur dan
Bungus (kita bisa baca di arsip diskusi RN tentang alasan mutlak harus pindah
ini)
Seperti yang sanak sindir tentang kafe mewah (disinyalir milik urang bagak) di
muara Padang ini (yang juga termasuk diskusi di palanta RN ini dulu) memang
berselera rendah "kampungan dan norak" ketika muara Padang ini masih saja
kotor, carut marut dengan segala permasalahannya, ibaratnya kita memakai sebuah
sepatu kulit mewah "branded" mungkin merek Braun Buffel he he tapi berjalan di
pasar yang becek dan kumuh sementara yang punya (pakai) sepatu merasa gaya saja
Tentu menjadi bergengsi kafe mewah ini jika muara Padangnya bersih dan hanya
kapal2 pesiar, sampan2 layar masyarakat yang bersandar di muara ini, tidak ada
lagi KMP yang hiruk pikuk dengan muat bongkar barang dalam jumlah yang banyak
baik dari segi berat maupun volume yang berpotensi mencemari perairan dan
rentan terhadap kecelakaan di laut karena barang yang dimuat dipelabuhan ini
seperti "sdipaksakan" dimuat melebihi batas maksimal muatan KMP antar pulau
ini, belum lagi pencemaran dari sampah, BBM, Oli dll dari KMP2 ini
Tapi begitulah sanak "hidup sarit terpaksa jual kerambil" dalam arti bagi
masyarakat banyak yang hidup susah muara Padang telah mendarah daging dari
dulu2nya mencari nafkah mulai dari jasa buruh muat bongkar barang, pedagang
asongan, rumah makan ampera, menjadi urang bagak dimuara dan tukang palak
sampai yang sekedar mengumpulkan recehan seribu dua ribu perak menyambut tali
kapal yang dilemparkan ke dermaga untuk ditambatkan.
Tapi bagi oknum yang punya otoritas di pelabuhan muara padang ini tentu "hidup
senang (tidak sarit)" karena banyak piti masuak yang didapat secara ilegal
melalui pungutan liar dengan senjata peraturan untuk "menggertak"
Dan bulan suatu hal yang aneh lagi jika ada berita ketika KMP yang bermuatan
bagan bangunan seperti semen,besi dll ketika keluar mulut muara lansung karam,
ya itu tadi oknum memberikan Surat Izin Berlayar dengan muatan yang berlebih
tidak sesuai dengan kapasitas KMP yang telah ditentukan dalam peraturan dan
undang2 yang mereka pegang sebagai senjata untuk menggertak sebelum menerima
pitih masuk.
Ohhh..Muara Padang Riwayatmu dulu dan sekarang
Wass-Jepe
Anda dapat melihat seluruh komentar pada tulisan ini di sini:
http://niadilova.blogdetik.com/2010/11/14/minang-saisuak-24-pengerukan-batang-harau/#comments
Hapus ini: http://niadilova.blogdetik.com/wp-admin/comment.php?action=cdc&c=561
Spam ini:
http://niadilova.blogdetik.com/wp-admin/comment.php?action=cdc&dt=spam&c=561
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.