'Eden In The East' memperkuat teori Atlantis (memang) di Indonesia

Antusiasme Masyarakat Pada Seminar 'Eden In The East' dan 'Atlantis :
The Lost Continent'

03 November 2010

“ Saya yakin bahwa apa yang ditemukan oleh Professor Oppenheimer
maupun Professor Arysio Santos dalam thesisnya semakin mendekatkan
pada kebenaran bahwa bumi nusantara ini tempat bermukim pusat
peradaban dunia yang mengagumkan"
(Prof. Dr.Jimly Assiddiqie, Mantan Ketua MK-RI)

Hajatan dua hari pada momen Hari Sumpah Pemuda 2010 / Hari Kebangkitan
Nasional dihadiri oleh kehadiran secara langsung Professor Stephen
Oppenheimer, Ph.D dan Frank Joseph Hoff Ph.D. Keduanya mewakili thesis
masing-masing yang disebut dengan Oppenheimer Theory yang dibukukan
dalam Eden In The East dan Santos Thesis yang dibukukan dalam
Atlantis, The Lost Continent Finally Found. Kehadiran mereka di
Indonesia untuk memenuhi undangan dari Pemprov Jawa Barat, Ufuk
Publishing House, LIPI dan Prof Dr. Jimly Assiddiqie. Mereka berada di
Indonesia sejak tanggal 24 Oktober hingga 29 Oktober 2010.

Selama berada di Jakarta, Frank Joseph Hoff Ph.D didampingi anggota
tim ekspedisi yang terdiri dari Dr. Hans Berekofen dan Dr. Rose
Berekofen (anggota tim ekspedisi bawah laut eksplorasi Atlantis) yang
bermukim di Miri, Malaysia serta ahli bahasa Dravida (bahasa yang
digunakan penduduk Atlantis berdasarkan temuan linguistik dan
arkeologi) yang bermukim di Singapura. Sedangkan Prof. Stephen
Oppenheimer, Ph.D datang seorang diri dari Oxford, Inggris.

Pada tanggal 28 Oktober 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah
Pemuda, bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
dan Universitas Indonesia (UI) serta didukung oleh Hotel Sultan,
Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB), HU Seputar Indonesia, Majalah
Gatra, Detik.com, TV One dan HU Kompas, seminar nasional yang
menghadirkan kedua tim sekaligus penulis / penyusun thesis tersebut
dilaksanakan.

Acara yang dibuka oleh Herry Haryono, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan
Kebumian mewakili Ketua LIPI dihadiri Prof. Dr. Jimly Assiddiqie yang
memberikan keynote speaker pada acara tersebut. Acara utama yang
menghadirkan kedua tim tersebut (Eden In The East dan Atlantis)
berlangsung penuh pernyataan dan pertanyaan yang tidak habis hingga
menjelang akhir seminar. Para peserta yang memenuhi ruang seminar dan
sebagian besar terdiri dari para peneliti yang berasal dari LIPI,
Kemenristek, BPPT, perguruan tinggi serta guru besar dan staf ahli.

Tidak ketinggalan pula masyarakat umum dan pecinta buku juga hadir
meramaikan seminar tersebut. Umumnya mereka hadir setelah melakukan
registrasi dengan penyelenggara yang dibagi yaiti LIPI dan Ufuk
Publishing House. Hingga akhir seminar dan memasuki waktu makan siang
hujan wawancara mewarnai aktivitas wartawan dengan para narasumber
khususnya Prof. Stephen Oppenheimer, Ph.D dan tim Atlantis.

Pada 29 Oktober 2010, didampingi Ufuk Publishing House,Prof. Stephen
Oppenheimer, Ph.D dan tim Atlantis memenuhi undangan Prof Dr. Jimly
Assiddiqie di ruangan kerjanya di JL. KH Tmarin, Jakarta. Dalam
diskusi tersebut terdapat obrolan yang hangat antara mereka. Diskusi
hangat tersebut sebagian besar membahas proses riset yang dijalani
oleh Prof. Stephen Oppenheimer dan tim Atlantis.

Pada akhir dikusi, Prof. Dr. Jimly Assiddiqie sangat mengapresiasi
riset yang dilakukan mereka dan berjanji memberikan dukungan maksimal
dengan menghubungi instansi yang berwenang untuk memberikan support
dan bantuan bagi keberlangsungan riset Eden In The East dan Atlantis.
Selepas dari ruangan kerja Prof. Dr. Jimly Assiddiqie, rombongan
menuju gedung Kelompok Kompas Gramedia (KKG) untuk memenuhi jadwal
diskusi dengan pihak redaksi HU Kompas di kawasan Palmerah.

Dalam kunjungan tersebut, redaktur Humaniora Kompas paling banyak
mengkritisi Oppenheimer Theory dengan bertanya langsung pada Prof.
Stephen Oppenheimer Ph.D. meski begitu, dengan banyaknya sumber-sumber
informasi yang dibawa dalam materi presentasi, membuat pihak redaksi
Kompas merasa puas dan menyatakan ingin mewawancara lebih lanjut
dengan Prof. Stephen Oppenheimer, Ph.D.

Sayangnya, pada saat yang bersamaan, Prof.Stephen Oppenheimer Ph.D
harus segera meninggalkan Indonesia untuk kembali ke kotanya, Oxford,
Inggris. Diskusi seru tersebut berakhir dengan jabatan tangan yang
hangat sebagai salam perpisahan untuk meninggalkan Indonesia.

BERITA SEBELUMNYA : http://indonesiabuku.com/?p=7448

Diskusi Buku ‘Eden in The East’
30 Oct 2010

JAKARTA – Sejumlah ilmuwan asing meyakini Indonesia sebagai awal
peradaban dunia. Teori yang tentu saja menimbulkan pro-kontra di dunia
ini semestinya menjadi referensi Indonesia untuk mengkaji lebih lanjut
teori peradaban manusia modern.

Teori baru bahwa Indonesia sebagai awal peradaban manusia itu
berdasarkan buku Eden in The East atau Surga di Timur, Benua yang
Tenggelam di Asia Tenggara karya Profesor Stephen Oppenheimer dari
Universitas Oxford, Inggris. Indonesia sebagai sumber segala peradaban
besar di dunia juga dikemukakan ilmuwan Brasil, mendiang Profesor
Arysio Santos, dalam karyanya, Atlantis, The Lost Found Continent
Finally Found atau Indonesia Ternyata Tempat Lahir Peradaban Dunia.

Pembahasan untuk mencermati penelitian yang menyebutkan bahwa
Indonesia merupakan awal peradaban dunia yang dimulai dari Paparan
Sunda itu digelar dalam diskusi yang dilaksanakan Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Ufuk Publishing House
di Jakarta, Kamis (28/10). Hadir juga dalam acara itu Oppenheimer dan
Frank Joseph Hoff dari Universitas Washington, Amerika Serikat, yang
mewakili Santos.

Hery Harjono, Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, mengatakan, teori
ini memang hangat di kalangan ilmuwan yang memicu perdebatan ilmiah
yang berkembang. ”Seperti teori Matahari dikelilingi planet-planet,
perdebatannya sampai 1.700 tahun. Dalam keilmuan, hal yang biasa ada
perdebatan teori yang berkepanjangan,” kata Hery.

Teori Oppenheimer menyatakan, nenek moyang dari induk peradaban
manusia modern (Mesir, Mediterania, dan Mesopotamia) berasal dari
tanah Melayu yang sering disebut dengan Sunda Land. Kesimpulan
Oppenheimer itu didasarkan pada penelitian selama puluhan tahun.

Dokter ahli genetik dengan struktur DNA manusia tersebut melakukan
riset struktur DNA manusia sejak manusia modern ada selama ribuan
tahun lalu hingga saat ini dengan pendekatan dasar yang digunakan
disiplin keilmuan kedokteran, geologi, linguistik, antropologi,
arkeologi, dan folklor.

Darwin Chalidi, Bintaro Jaya

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke