PASCA MATINYA RIBUAN TON IKAN
Dunia Pariwisata di Maninjau Semakin Lesu

padangmedia.com - PADANG -Matinya ribuan ton ikan di Danau Maninjau, Tanjung
Raya, Agam, sejak Senin (18/11) lalu, tak hanya menyebabkan kerugian bagi
para petani keramba. Namun juga membawa kerugian bagi iklim pariwisata di
salingka Danau Maninjau. Aroma menyengat dari bangkai ikan tersebut
mengganggu turis yang sedang berkunjung ke kawasan itu bahkan banyak dari
mereka meninggalkan danau. 

Seperti dikatakan Rafki, warga Muaro Pisang Maninjau, sejak sepekan lalu
pasca matinya ribuan ton ikan karamba di Maninjau, lingkungan di salingka
Danau menjadi kurang sehat. Bau menyengat bangkai ikan sudah tercium dalam
radius setengah kilometer. 

"Bau bangkai ikan menyebabkan udara di maninjau tidak sehat Banyak wisatawan
termasuk turis yang meninggalkan Maninjau. Mereka tidak nyaman. Meski masih
ada beberapa yang tinggal, tapi situasinya kurang bagus. Apalagi, kebanyakan
hotel-hotel, homestay dan cottage lokasinya terletak di pinggiran danau. 

Hal itu juga diakui Yose, salah satu pengelola Cottage di Panurunan Gasang
Maninjau. Ia merasakan dampak matinya ribuan ton ikan di Danau Maninjau
sangat besar bagi dunia pariwisata. Apalagi Kafe 44 milik keluarganya
terletak di pinggir danau. 

Menurut Yose, memburuknya dunia pariwisata di Maninjau sebenarnya bukan
hanya saat ini. Sejak krisis moneter atau sekitar tahun 2000 dunia
pariwisata di Maninjau sudah lesu. Bagi pengelola home stay atau cottage
yang mengontrak kepada warga setempat bisa dikatakan merugi. Karena tidak
sepadan antara biaya operasional dengan pemasukan. 

"Kalau ngontrak, pastilah rugi. Untungnya saya mengelola homestay warisan
orang tua. Jadi tidak begitu banyak pengeluaran. Namun penghasilanpun tak
memadai. Seperti hidup segan mati tak mau. Ya, sekedarbertahan sajalah,"
jelasnya. 

Setelah krisis persoalan lain Danau Maninjau adalah tubo belerang yang
menyebabkan ribuan ton ikan mati. Dampaknya bagi dunia pariwisata semakin
buruk. Tubo belerang itu tak hanya sekali dalam setahun, ada yang lebih,
bahkan tahun ini sudah tiga kali ribuan ton ikan mati. 

"Tubo belerang sepertinya sudah rutin sekali setahun. Tapi ada juga yang dua
kali tahun ini saja sudah tiga kali. Pertama awal tahun, sekitar bulan
Januari Tiga bulan kemudian juga begitu. Dan sekarang November. Bisa
dibayangkan berapa lama Danau itu tercemar. Itulah yang kami hadapi,"
tuturnya. 

Yang disesalkan Yose adalah bangkai-bangkai ikan yang sengaja dibuang ke
danau. Setelah ikan mati, semua bangkai dikeluarkan dari danau. Beberapa
pemilik ikan karamba dalam jumlah besar mengalami kesulitan untuk membuang
bangkainya. Memang, kata Yose ada lubang-lubang yang dibuat untuk menimbun
bangkai ikan. Tetapi kapasitas lubang tersebut tidak memadai. 

"Berapalah besarnya lubang yang bisa dibuat untuk menimbun bangkai ikan.
Sedangkan ikan yang mati itu hamper se danau.. Makanya ada bangkai ikan yang
dibuang ke danau. Baunya sangat menyengat. Kami yang memiliki cottage di
pinggir danau itulah yang membereskannya," jelasnya. 

Masih untung masyarakat di Maninjau tidak menggunakan air danau untuk
dijadikan air minum ataupun mandi. Jika masih banyak warga yang mengkonsumsi
air danau, pada saat bangkai bertebaran di danau, tentulah akan membahayakan
kesehatan. Meski kondisinya sudah memprihatinkan, katanya, belum ada tampak
solusi yang diberikan pihak pemerintah. 

"Kami harap pihak terkait segera memberi solusi atas masalah ini. Jangan
biarkan iklim wisata di Danau Maninjau semakin suram dan akhirnya danau
Maninjau hanya tinggal nama," ucapnya. 

Sementara, Plt Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat, Prita Wardhani, saat
dihubungi padangmedia.com via telepon, mengatakan pihaknya belum mengetahui
perihal lesunya usaha pariwisata salingka Danau Maninjau pasca matinya
ribuan ton ikan keramba di danau itu. 

"Kami belum mendapat informasi tersebut dari Dinas Pariwisata Agam. Namun
bila terjadi demikian akan kami tindak lanjuti. Sebab Maninjau merupakan
salah satu icon wisata Sumbar," jelas Prita. 

Oleh sebab itu Prita akan membicarakannya dengan Kepala Dinas Pariwisata
Agam. Ia berjanji akan membahas hal tersebut dalam rakor dengan Kepala Dinas
Kabupaten/Kota Se-Sumatera Barat pada 22 November 2010 mendatang." Kita akan
cari solusi bersama agar pariwisata di Maninjau tak bertambah lesu,"
ujarnya. 

Dari info yang diperoleh padangmedia.com, di Danau Maninjau hingga kini ikan
keramba yang mati terus bertambah. Kondisi danau masih belum stabil. Total
kerugian bahkan sudah mencapai 28 Milyar Rupiah. (dodo/nit)
http://www.padangmedia.com/?mod=berita&id=64789
Kamis, 18/11/2010 19:00 WIB

====
Fend
34M-Cikasel


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke