November, 2010, 5:50 AM

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Mohon maaf karena ada beberapa data yang harus diluruskan.


1. IPO PT. KS sudah direncanakan sejak lama

2. PT. KS harus membangun pabrik baru sebagai antisipasi perkembangan
bisnis dunia untuk kebutuhan pembangunan kapal-kapal
besar3. .

3.Harga yang diusulkan oleh PT. KS sudah sesuai
dengan Road Show PT. KS  yaitu Rp 1.000,-
hanya harga ini kemudian diolah dan diputuskan di Kementerian  BUMN
bersama underwriter.

4.PT. KS kewalahan memenuhi  permintaan baja dalam dan luar negeri,
sehingga jika pabrik baru dibangun, maka swasta seperti Gunung Garuda,
Maspion
dan pabrik swasta lain tidak akan boleh mengimpor baja dari luar lagi.


Saya bukan berpihak pada pemerintah, justru saat PT. KS melakukan
terobosan maka hal ini dimanfaatkan oleh “oknum-oknum” pemerintahan
dan DPR untuk mengambil keuntungan sesaat (satu dan dua hari saja).
Perlu diingat bahwa PT. KS listing di bursa efek Jakarta, bukan di
bursa luar negeri, dimana saham 20% yang terpecah-pecah kepemilikan
sehingga tidak dapat mempengaruhi kebijakan PT. KS.

Dalam penjualan 20% saham PT. KS ini, memang terlihat adanya
“abused of power” dimana orang-orang yang punya kekuasaan memanfaatkan
moment ini untuk memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya (baca
partainya), suatu hal yang ironis ditengah derita Mentawai, Wasior dan
Merapi.


Yang perlu disorot adalah proses yang terjadi dalam
penentuan harga perdana saham PT. KS, dimana manajemen telah mengusulkan harga
Rp 1.000,- per lembar saham. Harga ini telah sesuai dengan hasil Road
Show yang diadakan oleh pihak manajemen PT. KS beberapa minggu
sebelumnya. Harga ini
diputuskan di dalam Kementerian BUMN bersama underwriter yang ditunjuk. Lubang
kelemahan penentuan harga ini terjadi disini, hanya saja saya belum dapat info
yang jelas dari mana “intervensi” itu datang sehingga harga menjadi Rp
850,-/lembarnya.

Hasil penjualan saham perdana ini adalah sebesar Rp 2,68Triliun,
dimana dana ini akan dipergunakan sebagian untuk mematangkan lahan
pabrik baru dan melengkapi setoran equity pendirian pabrik baru yang
bekerjasama dengan pihak KOREA.

Saat ini pabrik PT. KS hanya dapat menghasilkan besi baja sepanjang 2
meter dan tebal 20mm dengan bahan baku diimpor dari luar negeri.
Dengan
didirikannya pabrik baru bersama pihak Korea (baca POSKO) PT. KS akan
memproduksi baja yang sangat dibutuhkan oleh galangan kapal besar
yaitu baja dengan ketebalan 40 mm dan panjang 3 meter.


Galangan kapal besar saat ini dikuasai oleh Korea (ingat kasus VLCC
Pertamina) sehingga dengan pembangunan pabrik baru ini galangan
kapal seperti Hyundai Group akan merelokasi galangan kapal mereka ke
Indonesia (baca Banten / Cilegon). Jangan lupa bahan baku pabrik ini
tidak perlu impor
lagi karena pabrik ini dapat disuplai dengan bahan baku bijih besi
dari pulau Kalimantan. Jangan lupa juga teknologi yang dibawa sangat
efisien, selain bahan baku cukup dari domestik, “panas” yang
dihasilkan pabrik ini dapat men”generate”
pembangkit listrik sebesar 26MW sebagai excess power.

Keuntungan lain yang harus diperhatikan adalah, bahwa
pembangkit listrik pabrik ini direncanakan dari batubara dan
multiplier effect dari
industry ini adalah



1.Pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (jika
tidak salah 2x300MW)

2.Pembangunan pelabuhan baru sebagai keluar
masuknya bahan baku dan baja itu sendiri

3. Pembangunan sumber-sumber air untuk pelabuhan dan kapal-kapal

4. Pembangunan perumahan dan hotel di daerah banten dan sekitarnya

5.Pembangunan galangan kapal besar-besaran

6. Pembangunan pabrik bijih besi di Kalimantan
secara besar-besaran

7.Penutupan impor baja oleh pabrik swasta
Indonesia

8. Kontribusi pajak yang akan dihasilkan dari
pembangunan kapal-kapal besar


Jika dilihat dari sudut yang sempit maka memang IPO in sangat
bermasalah, tetapi jika dilihat ke depan dimana pemerintah tidak mampu
menyediakan modal bahkan dari perbankan Nasional sendiri, jalan ini
sudah “on the right track” walaupun memang diakui Direksi PT. KS tidak
mempunyai hak untuk menentukan “harga jual” saham dia sendiri.


Jalan keluar yang harus dilakukan adalah dengan menggerakkan pihak
pendanaan syariah untuk “bersatupadu” (yang saat ini tumbuh luar biasa
tetapi terbatas geraknya) untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur pemerintah
dan swasta. Sehingga tidak lagi “pusing” dengan intervensi asing.

PT. KS adalah contoh kecil dari ketidak berdayaan pemerintah, tahukan
anda bahwa BANK SWASTA NASIONAL sudah tinggal kenangan saja, karena
semua sudah dikuasai asing. Apakah anda juga tahu pertahanan
keuangan kita hanya tinggal 2,5 (baca dua setengah) perusahaaan yaitu
Bank Mandiri,
BNI dan setengah BRI saja. Inipun kata Dirut BRI Sofyan Basyir saat
saya bertemu dengan beliau selalu diminta oleh pihak-pihak Temasek
(Singapore; baca pemilik Indosat dan Telkomsel) dan pihak-pihak yang
dibecking Geoge Soros, agar dilakukan privatisasi besar-besaran.


Ingat uang anda sudah dikuasai oleh asing BUNG dan kita perlu
orang-orang yang “mengerti” dan “paham” akan kekuatan sumber alam kita
yang sangat luar biasa.


Demikian sharing saya yang saya dapatkan dari pihak “dalam” PT. KS sendiri.

Wassalam
M. Lynch

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke