PERANG MATA UANG Rizal Ramli G-20 dibentuk akibat adanya pergesaran peta kakuatan ekonomi dunia. Jika abad 19 adalah abad yang dikuasai Inggris, abad ke-20 adalah abad Amerika. Maka kini, abad 21 adalah abadnya Asia. Karena Asia saat ini mempunyai potensi dan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.
Krisis ekonomi di AS akibat defisit yang sangat besar (US$ 1,4 triliun) dan peningkatan ekonomi spekulatif yang ugal-ugalan, hanya dapat diselamatkan dengan pinjaman dari 10 negara besar asia yang memiliki cadangan devisa sangat besar (US$ 5,1 triliun). Banyak negara asia (kecuali Indonesia), China, India, Korea, Jepang menjadi "pabrik dunia" yang menghasilkan barang konsumsi dan modal yang dijual keseluruh dunia Untuk mempercepat pemulihan ekonominya, Bank Sentral AS mencetak uang senilai US$ 600 miliar, hal yang diharamkan di kuliah-kuliah Fakultas Ekonomi di seluruh Indonesia. Sebagian uang tersebut diantaranya masuk menjadi "uang panas" yang membanjiri negara-negara berkembang, sehingga mata uang mereka menjadi sangat kuat dan indeks saham melonjak tinggi. Inilah yang menjelaskan mengapa indikator finansial Indonesia melonjak selama setahun terakhir, tetapi indikator lainnya yang menyangkut lapangan kerja, daya beli dan kesejahteraan rakyat tidak berubah banyak. Gubernur Bank Sentral AS mengatakanbahwa mereka akan fokus pada perbaikan ekonomi AS, bukan pada ekonomi negara lain. Dengan kata lain mereka tidak peduli dengan ekonomi negara lain yang menderita dampak negatif atas pencetakan dollar tersebut. Nilai dollar terus melemah sehingga membuat barang-barang Amerika menjadi lebih murah di seluruh dunia. Sesungguhnya AS telah memulai perang mata uang (Currency War), tetapi melalui IMF & World Bank dia meminta agar negara-negara lain tidak ikut-ikutan perang mata uang. Padahal , banyak negara sangat kuatir dengan mata uang mereka yang terlalu kuat, karena harga barang-barang mereka menjadi lebih mahal dan ekspornya mandek. Strategi pelemahan dollar ini, sebetulnya pernah dilakukan Jepang pada tahun 1950-1985. Yang membuat barang-barang Jepang sangat murah, merajai pasar dunia, sehingga ekonomi Jepang tumbuh di atas 10% dan mengejar ketinggalannya dari barat. Akhirnya AS dan Eropa yang kalah bersaing kemudian menekan Jepang untuk menandatangani Plaza Accord, yaitu kesepakatan untuk memperkuat Yen dan memperlemah dollar. Setelah itu, ekonomi Jepang menjadi kurang kompetitif dan pertumbuhan ekonominya anjlok dibawah 2% Strategi mata uang lemah itulah yang diikuti China, sehingga barang-barangnya menjadi sangat murah di seluruh dunia dan menjadi salah satu faktor mengapa ekonomi Tiongkok bisa tumbuh diatas 10% dalam dua dekade terakhir ini. Sayangnya media dan Fakultas Ekonomi di seluruh Indonesia selalu mengajarkan bahwa mata uang kuat adalah indikator keberhasilan suatu negara. Paradigma itu adalah sebuah *fallacy* dan sangat tidak tepat, karena nilai tukar hanyalah sasaran antara. Sasaran akhir dan indikator terpenting adalah peningkatan kesejahteraan rakyat, tersedianya lapangan kerja dan rendahnya tingkat pengangguran. Dalam forum-forum internasional termasuk G-20, negara-negara berkembang yang ekonominya kuat, seperti Tiongkok dan India mulai berani mengambil sikap yang berbeda dengan negara adidaya. Negara yang lemah kemandirian ekonominya hanya akan menjadi *good boy *atau anak manis di dalam pertemuan-pertemuan internasional seperti G-20 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
