Sent: Saturday, November 27, 2010 8:11 AM
Subject: "Pak SBY, Tolonglah Kami..."

Sumber: http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=2049

Kamis, 25 November 2010
Tsunami Mengintai, Isu Meruyak 
Pak SBY, Tolonglah Kami...
Khairul Jasmi

Pak SBY, kami warga di pesisir Sumbar, mati saja yang belum. Kalaulah Bapak 
berkantor di Padang, takkan terpicingkan mata oleh bapak, meski malam telah 
larut. Pak Gubernur kami, sekarang sudah kurus. Kemarin bersama Waka Polda, 
Wagub, Walikota Padang, mengimbau rakyat untuk tidak resah. Pejabat kami kurang 
tidur sekarang, Pak. Bagaimana bisa tidur, di mana-mana rakyat ketakutan akan 
isu gempa besar. Sudahkah Bapak tahu akan hal itu?

Pak SBY yang terhormat...

Maksud hati hendak membangun jalan evakuasi, membangun shelter, mendinding 
laut, tapi kami tak punya uang. Pemerintah pusat tak peduli. Kami tahu tak 
peduli, karena kata Bappenas, tak ada dana pusat untuk membuat shelter di 
Sumbar. Akan Bapak biarkan saja kami mati disapu tsunami, jika monster itu 
datang? 

Sekarang Pak, tiap sebentar isu meruyak, lewat SMS, dari mulut ke mulut, resume 
rapat interen pejabat pemerintah disebar PNS tak bertanggungjawab. Kalau SMS 
terorisme, secepat kilat Densus 88 bergerak. Dijemput malamnya orang. Tapi tiba 
di SMS teror gempa, kenapa tak bisa, Pak?

Kami seperti terhukum mati menunggu eksekusi. Ulama kami sudah bertunas 
mulutnya memberi nasihat, tapi kami takut juga. Jiwa yang resah adalah 
penyakit, sedang hati yang riang adalah obat. 

Yang terjadi hati kami diperparah oleh pakar. Tim Sembilan yang Bapak bentuk 
datang ke Padang, hanya untuk bilang: “Itu gempa di Mentawai baru buntutnya, 
yang akan kita tunggu bapaknya, ini bukan mempertakut, tapi harus disampaikan,” 
katanya. 

Tim ini, melibas urusan BMKG. Padahal negara memercayakan kepada BMKG, namun 
Tim Sembilan lebih jago dan merasa berkompeten. Maka takutlah seisi kota, 
takutlah seisi kampung, dari ujung ke ujung. Setelah itu tim hebat tersebut 
pergi ke Jakarta, ke pangkuan istri dan anak-anaknya. Ketika gempa datang, yang 
sibuk justru BMKG.

Pak SBY yang tercinta...

Waktu pemilu 80 persen suara rakyat Sumbar untuk Bapak, maka sewajarlah kini, 
ketika kami memerlukan bantuan, Bapak bantu kami. Suratkabar Singgalang 
menawarkan, agar laut Sumbar didinding. Biayanya takkan sampai Rp. 20 triliun. 
Sekali angguk saja oleh Bapak, beres semua. Ini lebih penting dibanding 
Jembatan Selat Sunda. 

Dinding laut itu ada di Jepang, di Korea dan di sejumlah negara lainnya. 
Bentuknya seperti Tembok Cina. Bisa untuk jalan di atasnya. Kira-kira tingginya 
10 sampai 15 meter. Panjangnya, orang PU yang bisa mengukurnya Pak. Sekalian 
bisa untuk lokasi rekreasi, bahkan jalan tol bisa dibuat di atasnya Pak. 
Bukankah Bapak akan membuat jalur lintas barat Sumatra? Dinding laut itu saja 
jadikan jalan. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampau. 

Bisa Bapak bayangkan musibah tsunami Aceh, untuk rehab rekon (RR)nya saja habis 
uang minimal Rp75 triliun. Kerugian yang terjadi, empat kali lipatnya, 
barangkali. Akibat amuk alam ini, tidak kurang dari 132 ribu orang Aceh 
meninggal dan 37 ribu orang dinyatakan hilang. 
Apalah artinya yang Rp. 20 triliun untuk mendinding laut Pak. Atau habis dulu 
orang Minang oleh tsunami, baru kemudian dibentuk Badan Rehabilitasi dan 
Rekonstruksi (BRR) Sumbar. 

Okelah, tak ada uang untuk dinding laut, untuk shelter juga boleh. Padang 
memerlukan setidaknya 100 shelter. Sebanyak itu pula di wilayah lain di Sumbar. 
Tiap shelter Rp30 miliar. Kata Bappenas, tak ada dana untuk itu. Disuruhnya 
pemerintah daerah “kreatif”. Itu sama dengan membunuh namanya. Bagaimana 
perencanaan pembangunan, bisa melupakan mitigasi? Lupa akan nasib rakyat, 
kecewa berat kami dengan Bappenas.
Hentikanlah agak sejenak membangun jalan tol di Pulau Jawa itu, alihkan uangnya 
untuk Sumbar. Apakah untuk membangun shelter, escape building, dan jalan 
evakuasi atau dinding laut.

Pak SBY, jalan evakuasi saja di Padang sudah tujuh tahun tak selesai. Uang 
untuk membebaskan tanah tak kunjung cukup. Kasihlah kami uang untuk pembebasan 
jalan itu saja dulu, sudah besar hati kami, Pak. Ini kan tidak, selalu saja 
jawabannya klise, “pusat tak ada uang untuk pembebasan tanah”. 

Kalau untuk proyek biasa, bisa diterima, tapi untuk proyek kemanusiaan, apa 
tidak bisa pusat turun tangan?

Kadang kami di Sumbar merasa jauh dan sepi sendiri. Kenapa pemerintah pusat tak 
peduli lagi pada kami. Sedih hati kami di sini. 
Mohon temani kami dalam masa-masa sulit ini Pak. Kami sedang gamang. Hanya 
kepada Tuhan kami bisa mengadu, berdoa, berserah diri.
Kalau Bapak mau membantu, kami tawarkan tujuh hal untuk meminimalkan dampak 
tsunami di Sumbar. Ketujuhnya dinding laut, relokasi penuh warga pesisir 
Sumbar, relokasi zone merah saja, buat shelter, buat ecape building, jalur 
evakuasi, tanam trembesi dan bakau di pantai atau reklamasi. Sampai hari ini, 
hanya satu yang sudah ada yaitu satu unit shelter yaitu SMA 1 Padang. Itupun 
bantuan Yayasan Budhi Suci, bukan uang pemerintah.

Pemerintah daerah takkan bisa berbuat apa-apa, kalau pusat tak membantu. 
Penyakitnya Pak, kementerian dan Bappenas, kalau tak dilobi, tak dihiraukannya 
nasib rakyat. Apa perlu lagi lobi-lobi semacam itu, sementara kami sedang 
gundah gulana?

Jika Bapak memerlukan sepucuk surat yang ditandatangani seluruh rakyat, kami 
siap membuatnya. Kami tak takut mati Pak, sebab ajal sudah tersurat di Arasy. 
Mati hari ini, pasti mati. Tapi, bukankah kita perlu berikhtiar? Apalagi rakyat 
Sumbar adalah bagian integral dari Indonesia. 
Pak SBY yang terhormat...

Jujur saja, bangsa yang besar ini, berhutang sejarah pada kami orang Minang. 
Kami tak minta dibayar, tapi berbuat baiklah pada saat yang tepat. Saatnya 
sekarang.
Kalau pada 2011 hanya rapat ke rapat saja, janji ke janji saja, maka kami akan 
menjadi rakyat yang patah arang. 

Pak SBY...
Maafkan saya yang sudah lancang menulis seperti ini. Apa boleh buat ditangkap 
intel pun sudah risiko saya. Tak ada pilihan lain, Bapak harus turun tangan. 

Ah, jika saja Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Yamin, Agus Salim, masih hidup, 
mungkin nasib kami takkan semalang sekarang. Hari ini pasti dipanggilnya Bapak 
ke rumahnya. 
“Tolong kampuang kami ya, Pak Presiden,” kata Hatta, suara beliau antara 
terdengar dan tidak.
“Tolong itu Sumbar, lumbungnya demokrasi,” kata Sjahrir.
“Demi rakyat jelata yang menderita setiap hari, bantu Ranah Minang,” kata Datuk 
Tan Malaka.
“Minangkabau adalah libero dalam pembentukan Negara Kesatuan RI, bantu 
sekarang, rakyatnya sedang nestapa,” kata Pak Yamin.
“Belum bersekolah orang di tempat lain, orang Minang sudah studi ke Belanda, 
buat sekolah jadikan shelter,” kata Agus Salim.
Tapi tidak. Beliau telah tiada. Kami sepi sendiri Pak Presiden SBY. 
Wassalam. (*)

Baca juga KOMPAS.com:
http://regional.kompas.com/read/2010/11/26/2119027/Isu.Gempa.dan.Tsunami.Bikin.Warga.Panik.-5

Kutipan paragraf terakhir:
"Bagi saya, jika dana untuk dinding laut, atau shelter atau jalan evakuasi tak 
diberi pemerintah pusat, dengan alasan dana terbatas, atau pemerintah daerah 
harus kreatif, maka itu, sama dengan pembunuhan. Makin berjaraklah kita dengan 
pemerintah pusat..."


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke