Amak Si Bos Dendeng Batokok :“ Kalau Tidak Bisa Berhitung, Jangan Jadi Pengusaha ..Nak”
By : Jepe Rasa-rasanya bagi warga Pekanbaru yang suka berpetualangan kuliner yang selalu ingin mencari cita rasa yang tampil beda dan khas tentu tidak asing lagi dengan Rumah Makan Dendeng Batokok (Urang Lintau) yang terletak di Jalan Jati (Harapan Raya) Tangkerang Utara ini. Keberadaan rumah makan yang satu ini sudah cukup lama paling tidak sejak tahun 1993 ketika saya merantau di Kota Bertuah Pekanbaru ini telah menjadi pelanggan setianya, 16 tahun lebih saya mengenal rumah makan dengan menu spesialnya dendeng batokok serta aneka menu “selera kampung” lainnya yang menggugah selera ada dua yang tidak berubah sampai saat ini Pertama yang tidak berubah tersebut tentu cita rasa berselera dari sebungkus nasi ramas dendeng batokok ini mulai dari kemasannya dari daun pisang yang membuat aroma nasi tersebut harum dan khas sampai aneka menu yang bersatu dalam sebungkus nasi tersebut sebut saja dendeng batokok yang garing, renyah dibaluri minyak kelapa dan taburan irisan bawang merah serta irisan serong cabe hijau, acar segar mentimun dan nanas, uok (kukus) pucuk ubi dan kacang panjang, samba lado bada (teri) dengan kuah kemerahan yang encer, gulai cubadak (nangka) dan rebung bergaya gulai cincang lalu diselipkan sepotong petai rebus dan terakhir sedikit dipucuk nasi ramas sebelum sebelum dibungkus ditaburkan (dideraikan) kerupuk emping (minang : baguak). Semuanya bersatu dalam nasi dari beras kualitas bagus dari ranah minang dengan porsi yang sangat pas “tidak berlebihan jauh dari kurang” Saya tidak bercerita apa dan bagaimana cita rasa khas berselera masakan dendeng batokok urang lintau jika anda mampir ke Kota Pekanbaru dari beragam dan pilihan masakan untuk memenuhi selera anda dalam berwisata kuliner maka kedai nasi dendeng batokok ini layak anda kunjungi (recommended). Nah hal kedua yang tidak pernah berubah yang akan saya ceritakan adalah seorang nenek yang tak lain tak bukan pemilik rumah makan tersebut. Amak begitu panggilan akrab saya pada sosok perempuan tua dalam bulan November ini genap berusia 81 Tahun. Sungguh si Amak ini dalam usianya boleh dikatakan telah uzur (diatas rata-rata umur harapan hidup manusia Indonesia) masih segar bugar serta menampilkan sosok fisik yang prima tentunya sesuai dengan kondisi usianya. Matanya masih awas, telinganya masih tajam dalam mendengar dan yang paling penting lagi dengan “profesi setia”nya sebagai kasir semenjak saya kenal kedai nasi ini pikirannya masih bening tidak ada tanda-tanda kepikunan sedikitpun dalam berhitung berapa pengembalian belanja uang seseorang yang membayar makananan di kedainya.Amak begitu sigap menerima, berhitung atas belanja konsumennya dan matanya dan pikirannya begitu “awas” terhadap uang yang diserahkan pelanggannya dan jika ada pengembalian hanya dalam hitungan detik saja setelah uang masuk dalam kotak lalu dengan sigap Amak ini mengembalikan uang pelanggannya seperti malam tadi saya membeli 2 bungkus nasi ramas dendeng batokok “Mak..2 bungkus” saya mendekati Amak yang duduak diketinggian dalam kursi dan meja menyerupai Bar sambil menyodorkan uang kertas Rp 100.000,- Set..set..set !!, si Amak membuka kotak uangnya dengan sigap (dia sangat hafal ini uang pecahan Rp 100.000 , perlu dipisahkan di “anak kotak” tersendiri) lalu seperti sudah sangat terlatih dan tidak ada sedikitpun meminjam istilah ABG “Oon” alias pikun Amak dengan cekatan mengembalikan uang saya sebesar Rp 70.000 (Pecahan Rp 50.000 dan Rp 20.000) dengan gaya yang “aduhay” tegas, tatapan tajam sambil tersenyum ramah atas pengembambalian belanja saya sebesar Rp 30.000 untuk 2 bungkus nasi ramas dendeng batokok. Belum sampai disitu gaya si Amak, ketika saya menerima kembalian uang yang disodorkannya si Amak secara otomatis (begitu yang saya kenal selama ini) menatap saya sambil telapak tangan dihadapkan kemuka saya (gaya seseorang menyetop kendaraan dari depan, bisa anda bayangkan ?) sambil berkata “pas ya Nak” Saya hanya tersenyum sambil meangguk-angguk kagum “ya pas Mak…mantapppp !!!” Si Amak tersenyum puas ketika saya berkata seperti itu, tentunya dia merasa bahagia dan ingin menunjukan kepada saya bahwa dalam usianya 81 tahun pikirannya masih tajam. Malam menjelang Isya tersebut tidak ada lagi pelanggan setianya makan ditempat, saya sempat sedikit mengobrol ringan sama Amak ini salah satu hal yang menarik dan tidak pernah berubah dari Amak yang menjadi Bos rumah makan ini yaitu kebiasaan “jelek”nya , Merokok !!!. Amak dengan gaya tulen perokok professional begitu syahdu dan menarik melihat gayanya merokok, baik cara memegang dan menghisap sebatang rokok Mild Menthol kesayangannya,…pus..pus..pus asap rokoknya mengepul ketika selesai sebuah tarikan “nikmat” sebatang rokok yang menempel di mulutnya. (Memang mantap…si Nenek punya gaya dan selera dalam merokok) Lalu saya bertanya “Mak..sejak kapan merokok dan kenapa merokok sudah bagian dari “gaya hidup” Amak” Atas pertanyaan ringan dan tak terduga dari saya ini pada si Amak dia menjawab dan menceritakan dengan santai kepada saya kira-kira begini (Amak tentu berbahasa Minang Kampungnya Lintau) “he he begini Nak, Amak merokok sekitar tahun 60 an, kala itu suami Amak (almarhum, meninggal dalam usia 65 Tahun) bekerja dan buka usaha bengkel di Pekanbaru ini sebagai montir. Jam istirahat Amak sering mengantarkan suami Amak secangkir kopi dan kue-kue serta sebungkus Rokok Kansas pendek yang berwarna kuning itu bungkusnya, lalu Amak “cilok sabatang” he he he (curi sebatang) lalu Amak hisap akhirnya ketagihan sampai sekarang. “Mmmm..begitu ya Mak” kata saya singkat sambil manggut-manggut Menjelang kaki saya melangkah meninggal warung Amak, saya masih sempat memuji Amak ini dan berkata “Mantap Mak..dalam usia 81 Tahun ini Amak masih tajam dalam hitung berhitung uang belanjaan pelanggannya” Ahaa..jawaban si Amak bukannya terima kasih pada saya atas pujian penuh kagum ini tapi sambil tersenyum menampakan giginya yang masih utuh berkata “Kalau ndak pandai barituang jaan jadi pengusaha Nak” jawabnya singkat diluar dugaan saya “hahhh !!! ya ..ya ..ya..Mak..betul..betul Mak, KALAU TIDAK BISA BERHITUNG JANGAN JADI PENGUSAHA..MANTAP MAK !!! “ Salut buat si Amak Pekanbaru, 28 November 2010 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
