http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=2129
Senin, 29 November 2010 Meninggalkan Perangai?Darman moenir SUSAH menerjemahkan ungkapan maninggaan parangai (dalam bahasa ibu urang awak, Minangkabau) ke bahasa Indonesia sehingga jadi meninggalkan perangai (yang dijadikan judul komentar ini). Dan itulah salah satu kekuatan bahasa, bahasa apa pun: susah diterjemahkan ke lain bahasa, tanpa kehilangan rasa bahasa. Meninggalkan perangai merupakan satu ungkapan sarkastik dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari masyarakat Minangkabau. Siapa tahu juga demikian dalam kehidupan etnik-etnik lain. Barangkali, dalam disiplin ilmu apa pun, belum ada penelitian panggah mengenai orang yang meninggalkan perangai ini. Satu hal, kata meninggalkan itu sering diikuti dengan sindiran terhadap fenomena kematian. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Pertanyaan yang segera mengemuka tentu saja adakah gajah yang tidak punya gading, dan harimau yang tidak (punya kulit yang berwarna) belang? Dan kalau mereka, gajah dan harimau itu, mati benarkah mereka bersengaja meninggalkan gading dan belang? Tidakkah itu hanya kepandaian dan kelihaian penyair (tak bernama) mencari ungkapan metaforik? Lantas, benarkah sebelum mati orang meninggalkan perangai? Iyo koh urang mati maningga an parangai? Dan, orang mana? Anak-anak, remaja, orang-tua, atau semua? Adakah anak-anak, remaja, orang-tua atau semua yang akan mati meninggalkan perangai? Pertanyaan-pertanyaan itu takkan serta-merta terjawab. Tetapi “sampel” di alam terkembang menunjukkan, rata-rata orang berumur lanjut, sebutlah di atas 60 tahun, sebelum wafat memang meninggalkan perangai. Terkadang kelakuan itu aneh-aneh. Tidak soal apakah mereka, orang-orang lanjut usia itu, laki-laki atau perempuan. Dan perangai yang direfleksikan sebelum wafat itu adalah apa yang mereka kerjakan di usia remaja, dan di usia matang. Ada seorang perempuan lanjut usia dalam keadaan sekarat tiap sebentar membaca ayat-ayat Alquran dan sering bertanya bahkan dengan bahasa isyarat apakah waktu zuhur atau asar sudah masuk? Dalam kesadaran minimal sesekali sang perempuan tua itu mendengungkan ayat-ayat tertentu. Mengapa demikian? Ternyata sejak masa kanak-kanak perempuan itu diajar dan belajar mengaji di surau dan bahkan pada gilirannya dia pernah menjadi qariah terbaik ukuran kampung kecil. Ada pula seorang kakek yang di masa muda terkenal pareman. Dia menjalani hidup dengan pola makan masak-matah, ke mana-mana mengadu pangkal lengan, suka mengganggu dan bahkan menzinai banyak perempuan. Penghasilan? Dia tak segan-segan menodong, merampas, mencopet dan juga, dalam bahasa yang umum, kini, melalukan korupsi. Dan sebelum wafat dia konon selolah-olah menghitung kuitansi kosong, ingin memlintir (maaf) puting susu perempuan dan berteriak-teriak melihatkan keberanian. Dan kemudian dia wafat setelah kerabat sengaja melihatkan, hanya melihatkan, seorang perempuan yang bisa dia nistakan seenak perut. Apabila hari-hari belakangan juga terbetik-terberita orang-orang lanjut usia yang menyibukkan diri hendak menyelenggarakan omong-omong, diskusi, seminar, bahkan kongres, dikhawatirkan kalau orang-orang itu memang sedang meninggalkan perangai. Biarpun nyaris sebagian besar komponen masyarakat menyatakan menolak rencana pertemuan itu tetapi mereka tetap ngotot, bersimada, kareh angok, kareh arang, keras kepala, untuk menyelenggarakan. Mereka pun tidak memedulikan pemerintah yang juga sudah berkali-kali mengingatkan agar program itu diundur dulu. Dan ditilik masa muda mereka, ternyata hari-hari mereka, dulu, dihabiskan dari satu ke lain palanta untuk maota-ota tentang apa saja. Di masa lampau itu, mereka tak memikirkan dampak pekerjaan mereka. Ditolak orang banyak pun mereka tidak peduli. Padahal, persis sebagaimana masa lalu, apa yang mereka kerjakan sekarang pun jelas-jelas bakal mengganggu, merusak bahkan memusnahkan apa yang sudah sejak lama menjadi acuan masyarakat. Mereka seolah meninggalkan perangai. Menyadari keadaan seperti ini, beberapa sahabat segera mendatangi mereka seraya menyerahkan kokarde kepanitiaan. Sahahat itu beranggapan ekstrem, hanya dengan cara itulah perbuatan orang yang sedang meninggalkan perangai bisa dihentikan! (*) Salam, Marindo Palar -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
