Sdr Amwazi dkk,
Tulisan berikut barangkali bisa menjelaskan kenapa di Gorontalo ada ABS-SBK
seperti di Minangkabau dan dunia Melayu lainnya.
Mochtar Naim
5/12/10
Pola M dan J
Mochtar Naim
Sdr Ir. Amwazi di Banuanet mempertanyakan, kok di Gorontalo, dan
terutama di tempat-tempat yang strategis, terpampang ada epitom “ABS-SBK” (Adat
Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah), seperti yang biasa kita dengar,
tapi jarang dituliskan atau dipampangkan seperti di Gorontalo itu di Sumatera
Barat sendiri.
Bagi banyak orang mungkin ini sesuatu yang baru. Tetapi sesungguhnya
hal ini sekaligus menggambarkan bahwa konsep ABS-SBK bukanlah hanya terbatas di
daerah berbudaya Minangkabau atau Gorontalo saja, tetapi bahkan praktis di
seluruh daerah Melayu di Nusantara bahkan Asia Tenggara ini yang budaya
Melayunya bersamaan dengan budaya Melayu di Minangkabau dan Gorontalo itu.
Apa yang Anda lihat atau dengar di Gorontalo, akan juga Anda lihat dan dengar –
walau mungkin tidak segencar seperti di Gorontalo, karena juga diucapkan dalam
bahasa lokal, dengan sedikit variasi praktis di seluruh dunia Melayu, baik di
bagian Indonesia maupun di luarnya di Asia Tenggara ini, dan sendirinya
tentunya juga di Sumatera Barat atau di Minangkabau.
Ini yang membedakannya dengan dunia J (Jawa) yang kendati sesama Melayu dan
Islam tetapi orientasi budayanya berbeda. Termasuk ke dalam budaya berpola J
ini adalah juga masyarakat-masyarakat tribal bersuku-suku, yang tadinya
animis-palbegu, kemudian terkristenkan, seperti Batak, Nias, Mentawai, Dayak,
Toraja, Manado, dsb, yang semuanya secara antropologis adalah juga Melayu. Di
Batak khususnya, kendati ada yang Islam ada yang Kristen, mereka dipersatukan
oleh ikatan marga yang membikin mereka tetap sebagai orang Batak.
Beda yang menyolok dari kedua sub-budaya Melayu ini adalah bahwa yang berpola J
orientasinya adalah sinkretik dan sentripetal, sementara yang berpola M (Melayu
atau Minang) adalah sintetik dan sentrifugal. Lalu, tergantung pada sistem dan
struktur kekuasaannya, yang berpola J ada yang feodal, absolut, otoriter,
hirarkis-vertikal-top-down, dan karenanya bercorak kerajaan. Yang berpola J
tetapi struktur masyarakatnya tribal bersuku-suku, umumnya egaliter dan
demokratis, seperti masyarakat Melayu umumnya. Kalaupun ada yang beraja-raja,
raja-raja Melayu tidak memiliki kekuasaan yang absolut dan sentripetal, tetapi
sentrifugal dan terbatas. Raja-raja Melayu, seperti dikatakan, “Raja alim raja
disembah, raja lalim disanggah.” Sementara raja-raja Jawa memiliki kekuasaan
yang absolut dan sentripetal.
Dari dua sub-budaya Melayu ini terlihat bahwa yang berpola J menganut faham
sinkretik dan sentripetal, sementara yang berpola M menganut faham sintetik dan
sentrifugal. Artinya, dalam kepercayaan yang berpola J, semua agama dianggap
sama dan sama benarnya, dengan istilah Jawanya: “Sedaya Agami sami kemawon.”
Semua agama sama benarnya. Karena bagi orang Jawa tidak masalah jika tiap kali
pindah agama, atau dalam satu keluarga yang sama ada yang Islam, Kristen,
Kejawen, atau apapun, atau kawin dengan berlainan agama.
Dalam masyarakat berpola M, sebaliknya, karena sifatnya yang sintetik itu,
telah terjadi persenyawaan antara budaya asli dengan Islam, dengan konsekuensi,
hanya nilai-nilai budaya primordial yang serasi dan tak bertentangan dengan
Islam yang boleh diteruskan, sementara yang bertentangan harus dibuang. Inti
kesepakatan inilah yang dibuhul dalam epitom: ABS-SBK (Adat Bersendi Syarak,
Syarak Bersendi Kitabullah). Seorang Melayu atau Minang otomatis akan keluar
dari Melayu atau Minang kalau dia keluar dari Islam, dan dia dibuang sepanjang
adat. Sebaliknya, seorang yang bukan Minang atau Melayu yang masuk Islam,
apalagi kawin pula dengan seorang Minang atau Melayu Muslim, dia sekaligus akan
diterima dua-dua.
Masalah kita, bagaimanapun, tentu tidak akan berhenti dengan sejemput
kasus-kasus yang sekarang tengah dihadapi dalam masyarakat yang masih
berorientasi pada nilai-nilai agama, tetapi ke depan, ketika agama mulai
dilecehkan seperti yang kita lihat kecenderungannya pada dunia maju sekarang
ini. Seperti yang juga tengah kita hadapi dengan masalah Pancasila itu sendiri,
Republik Indonesia ini berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, atau tidak,
karena nyatanya semua agama apapun, baik yang bertuhan tiga, atau banyak, atau
tidak jelas ada atau tidak ada tuhannya, semua diakui, sebagai konsekuensi dari
kepercayaan sinkretik tadi. ***
Ciputat, 5 Des 2010
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.