Maninjau padinyo masak Batang kapeh batimbo jalan
Hati risau dibaok galak Bak paneh manganduang hujan (Kambang Aruih) "Bak paneh manganduang hujan", barangkali ungkapan yang tepat mengenai nasib danau vulkanik yang cantik di rusuk Barat bukit barisan, yang bernama Maninjau, yang airnya tercemar oleh bangkai ikan disebabkan cara budidaya ikan yang tidak benar yang dilakukan oleh para petani keramba, yang sempat jadi topik hangat di Palanta beberapa waktu yang lalu. Hal ini mencuat kembali dalam ingatan saya ketika membaca headline Kompas Minggu 5/12 yang lalu: "Si Cantik yang Merana" [1], yang berkisah tentang nasib yang serupa tapi tak sama mengenai Toba, danau cantik lainnya di pulau Sumatra, yang kini mulai ditinggalkan---tidak hanya oleh para wisatawan---bahkan oleh penghuninya sendiri. Pemkab Agam sudah mengambil langkah-langkah khusus untuk mengatasi hal ini dengan melibatkan sembilan kementerian, dinas atau lembaga terkait, yang tampaknya lebih difokuskan kepada perbaikan cara pembudidayakan, dan bukan dengan pelarangan sama sekali keberadaan keramba. Atau seperti bahasa yang digunakan Singgalang 22/11: "memaksimalkan fungsi danau dengan berbagai fungsi yang bisa dilakukan, agar keberadaan danau dapat dioptimalkan untuk berbagai fungsi, seperti pembangkit energi listrik, pengembangan ikan keramba, pariwisata dan lainnya". Cukup efektifkah langkah tersebut? Apalagi jika pembersihan keramba diperkirakan dapat menarik turis lebih banyak yang konon dapat meningkatkan PDRB Sumatra Barat sekian triliun dalam lima tahun? Seperti biasa saya akan berkelit dengan mengatakan bahwa ini "pertanyaan besar" :). Tapi poin saya sebenarnya ialah, kemampuan saya untuk menalar hubungan antara pembersihan keramba, kunjungan wisatawan dan peningkatan PDRB sangat terbatas, kecuali memberikan beberapa catatan kecil sebagai berikut. Pertama, seperti sebuah berita yang juga sempat dilewakan di sini, pariwisata atau jumlah kunjungan wisata ke danau Maninjau sudah menurun sejak krismon 1997/1998. Pertanyannya, apakah merebaknya pembudidayaan ikan dengan menggunakan keramba justru disebabkan kegiatan pariwisata semakin tidak mungkin untuk jadi sandaran hidup? Kalau melihat apa yang terjadi di Danau Toba seperti yang dilaporkan Kompas 5/12, sangat mungkin hal seperti itulah yang terjadi. Kedua, kalau di Bali pariwisata cepat mengalami recovery, di Sumbar ternyata tidak. Bahkan Sumbar tidak dapat mengkapitalisasi merosotnya kunjungan wisatawan ke Bali pascatragedi Bom Bali I dan II bagi kemajuan parawisata Sumbar. So what? Dalam tahun 2008 yang lalu saya pernah melewakan di sini tulisan sanak kita mantan Ketua AJI Irwan Piliang dalam tulisannya di Superkoran "Kufur Nikmat Berbuah Pelancong Kalong". Dalam tulisannya yang saya akan lewakan kembali secara lengkap pada posting berikut ini, Iwan memotret pola kunjungan wisatawan yang datang ke Bukittinggi melalui Medan, check-in ke hotel sudah di atas pukul 19.00. Sekitar pukul 19.30 mereka makan malam. Lantas sesubuh mungkin mereka sudah meninggalkan hotel, mengejar perjalanan berbis AC, melihat panorama di Embun Pagi, Kelok 44, lalu menyusuri jalan darat balik ke Medan, Sumatera Utara. Mampir ke Padang (dan obyek wisata lainnya) pun tidak Kita boleh sepenuhnya setuju atau tidak setuju dengan faktor penyebab fenomena "pelancong kalong" yang dipotret Iwan Piliang tersebut, atau fenomena tersebut mewakili perilaku seluruh wisatawan yang berkunjung ke Sumbar. Akan tetapi hal itu tidak mengurangi dua hal. Pertama, tidak mudah menarik wisatawan mancanegara ke Sumbar. Dan kalaupun mereka datang, kalau polanya seperti "pelancong kalong" tersebut, sumbangannya kepada perekonomian Sumbar, diukur dengan PDRB, kecil sekali. Akan tetapi, dengan tidak hendak mengurangi sangat perlunya mengurangi perilaku tidak terpuji anggota masyarakat yang langsung atau tidak langsung dengan industri pengawas, apakah lambatnya perkembangan pariwisata tersebut sesuatu yang perlu terlalu diratapi? Beberapa waktu yang lalu, setelah membaca tulisan Ivan A Hadar "IPM Baru dan Kita" di Kompas 5/11/10 , saya memcoba mencari dan menemukan di Wikipedia daftar IPM provinsi-provinsi di Indonesia tahun 2008. Ketika itu fokus saya hanya provinsi-provinsi di Sumatra, dan saya agak terkejut, karena Sumbar (72,96) hanya di bawah Sumut (73,29), Riau (75,09) dan Kerpri (74,18). Artinya Sumbar di atas Sumsel, yang mampu membangun stadion sepakbola bertaraf internasional (72,05). (Kalau Armen membaca ini dia tentu akan berkomentar: Mak Darwin pasti akan mengatakan Sumbar, punya nagari, punya tungku tiga sajarangan yang built-in dalam pemangku dan struktur masyarakat nagari, punya BMT Nagari, punya LKMA, punya IKM, punya SAS, punya RN.:) ) Tetapi ketika mengintip Bali, provinsi yang pariwisatanya sangat maju dan mendunia itu, saya lebih terkejut lagi, ternyata IPM-nya masih di bawah Sumbar, yaitu 70,98 (!) Dengan kata lain, dengan menggunakan IPM sebagai indikator---dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai alat pengukur---sektor pariwisata per se tidak menjamin masyarakat suatu daerah akan lebih makmur dibandingkan dengan sektor lain seperti pertanian dan UKM. Tentu bukan maksud saya hendak menolak pariwisata, apalagi Sumbar mempunyai potensi yang tidak kalah dengan Bali. Parawisata Sumbar perlu dikembangkan dengan cara yang memakmurkan rakyat, bukan pemodal atau dengan kata lain tidak padat modal, tidak menjual Lembah Anai dan hutan-hutan lindung dengan harga berapapun, tidak pesaing tetapi pelengkap sektor-sektor ekonomi lainnya. Dan yang tidak kalah penting tidak boleh menabrak nilai-nilai kultural dan sprituial masyarakat yang terangkum dalam ABS-SBK. Dalam perspektif ini IMHO, kebijakan Pemkab Agam mengatasi masalah pencemaran Danau Maninjau sudah tepat sekali. Kelestarian Danau adalah nomer satu dan tidak-ada tawar menawar, itu dilakukan dengan cara yang tetap menjadikan danau sebagai sumber protein hewani/pendukung ketahanan pangan masyarakat nagari , sumber nafkah masyarakat sekitar yang ingin menjadi nelayan dengan cara yang ramah lingkungan, atau yang lainnya, termasuk yang bergiat di sektor pariwisata. Kebijakan yang tidak menjadi sektor pariwisata sebagai sektor andalan patut dipuji. Jangankan Maninjau, Toba saja banyak memiliki sejumlah keunggulan kompetitif sebagai tujuan wisata dibandingkan Maninjau , kini mulai ditinggalkan bahkan oleh penghuninya sendiri. Bak kata pepatah, jangan karena mengharapkan mendung di langit, air ditempayan ditumpahkan. Wallahualam Bissawab Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+) Asal Padangpanjang, suku Panyalai, tinggal di Depok, Jawa Barat [1] http://cetak.kompas.com/read/2010/12/05/02354042/si.cantik.yang.merana [2].http://cetak.kompas.com/read/2010/11/05/03523110/ipm.baru.dan.kita -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
