Mamak Darwin dan sanak palanta sadonyo,

Kalau mengenai "sejauh mana Univ Bung Hatta ikut mengembangkan
pemikiran-pemiliran Bung Hatta di Sumbar?", mungkin nan labiah tapek
manjawabnyo adolah otoritas atau unsur pimpinan dari Univ Bung Hatta yo mak,
bukan rakyat badarai seperti ambo :)

Tapi dek beliau-beliau tu indak ado di palanta, bia ambo cubo manjabarkan
apo nan ambo tahu, beko kok kurang, mungkin Da In (Indrawadi Pisang) yang
notabene orang 'humas' UBH dan pasti labiah tahu seluk beluknyo dibandingkan
ambo, bisa manambahkan.

Sebelum ikut mengembangkan pemikiran Bung Hatta di Sumbar, UBH lebih dulu
berusaha menekankan penanaman nilai-nilai hidup dan pemikiran Bung Hatta di
lingkungan kampus. Pendidikan Koperasi Kerakyatan dikenalkan di semua
Fakultas, dan khusus di Fakultas kami, sudah ada mata kuliah 'khusus', yaitu
mata kuliah 'Pemikiran Bung Hatta' yang bertujuan untuk mengembangkan
nilai-nilai dan membentuk sikap mahasiswa sesuai dengan nama Universitas
yang kami pikul.

Memang itu belum menjamin bahwa semua mahasiswa nanti akan meniru sikap Bung
Hatta, tapi paling tidak kami mengenalkan pemikiran dan karakter yang
dimiliki si empu nya nama. :)

Itu pulalah sebabnya, di beberapa 'hotspot' lingkungan kampus, ditanamkan
Baliho-baliho besar bertuliskan sifat-sifat Bung Hatta seperti "Jujur,
Disiplin, dan Santun". Mudah-mudahan dengan selalu melihat dan membaca
sifat-sifat ini setiap hari, mahasiswa dan semua keluarga besar civitas
academica UBH akan cenderung juga untuk berbuat demikian. :)

Kalau untuk yang di Sumatera Barat, setahu saya sampai sekarang memang masih
ada wakil/utusan Bung Hatta dalam Proses Perencanaan Daerah yang ikut
merencanakan dan mewarnai kebijakan-kebijakan. Tapi tentu bukan
wewenang beliau menghitam atau memutihkan suatu rencana/kebijakan.

Untuk kegiatan kedaerahan, setahu ambo (lagi-lagi setahu ambo, karano
sebagai staf pengajar biaso, ambo justru labiah banyak nan indak tahu nyo :)
), Univ. Bung Hatta mencoba mengembangkan dan mengaplikasikan
pemikiran-pemikiran Bung Hatta melalui kegiatan-kegiatan yang ada di
desa-desa binaan yang ada di Sumatera Barat, baik itu desa binaan dalam
bidang pendidikan maupun dalam bidang perekonomian dan lainnya.

Itu nyo saketek nan ambo tahu, mamak Darwin. Tapi pertanyaan mamak ko
mambuek ambo juo mamikiakan hal iko. Tarimo kasih ka mamak, karano ini
sabananyo adolah pertanyaan nan merupakan suatu introspeksi dan evaluasi
internal juo bagi kami. Sahinggo ambo sendiri bisuak barencana ka mancubo
mandiskusikan pulo jo kawan-kawan di kampus :)

Wassalam,

Rita Lukman

--------------------

Pada 12 Desember 2010 04.19, Darwin Bahar <[email protected]> menulis:

>  Nakan Rita sarato Sanak sa Palanta
>
> Membaca paparan Rita, saya seakan-akan berada di jalur SIMAKA dan merasakan
> betapa “*sajuaknyo mato mamandang dengan udaro nan barasiah mamayungi
> Ranah Balingka di pagi hari, jalan nan lah leba dan rancak, ditambah paparan
> padi nan subur menghijau di sawah-sawah sajauah mato mamandang dengan
> gunuang Marapi mamandang tegak lurus nun dari kejauhan*”
>
> Saya juga seakan-akan dapat merasakan suasana batin para pemilik sawah,
> yang berharap tidak ada hama menyerang dan cuaca bersahabat, sehingga panen
> bisa memberilkan hasil dan harga jual yang bagus, yang tidak selalu
> dinikmati para petani.
>
> Lalu saya ingat Masril Koto, sang inovator dan motivator luar biasa
> “lulusan S-3” :), pengagum fikiran-fikiran Bung Hatta dan mencoba
> membumikannya, khususnya ketika dia merintis pembentukan Lumbung Pangan
> Rakyat, yang ditargetkannya untuk mengganti peran Bulog “yang tak bertugas
> menurut fungsi yang diamanatkan”.
>
> Ini jelas tugas sangat yang jauh dari pada mudah, jauh lebih sulit dan
> rumit dari pada  membangun LKMA-LKMA yang fenomenal itu: kegiatan ini
> memerlukan dana yang sangat besar untuk modal kerja: membeli gabah petani
> lebih tinggi dari pada Bulog pada saat panen dan menjual lebih rendah dari
> Bulog pada saat harga beras di pasar mulai meningkat karena stok mulai
> menipis. Di samping itu, tentu saja harus punya gudang yang memadai yang
> juga butuh investasi yang tidak kecil untuk membangunnya. Tetapi kalau
> berhasil, ini tentu akan lebih meningkatkan kesejahteraan para petani serta
> meningkatkan ketahanan pangan masyarakat Sumatra Barat.
>
> Sanak kamanakan sa Palanta, akankah Masril Koto kita biarkan sendirian?
>
> Dan kepada Rita, mamak ingin bertanya, sejauh mana Univ Bung Hatta ikut
> mengembangkan pemikiran-pemiliran Bung Hatta di Sumbar?
>
>
>
> Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 67+)
>
> Asal Padangpanjang, suku Panyalai, tinggal di Depok, Jawa Barat
>
>
>
> .
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke