Alhamdulillah, semoga jadi teladan dan tetap mempertahankan kesederhanaan itu, 
sulit memang, tapi sepertinya gubernur irwan ingin menerapkan mulai dari diri 
sendiri. Terima kasih sdh share pengalaman pak afda, salam kenal dari saya ,
Arina, 40 th, padang 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Afda Rizki <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 15 Dec 2010 07:57:21 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [...@ntau-net] Bila Gubernur di Kelas Ekonomi

http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=2466


Gubernur Duduk di Kelas Ekonomi
Pesawat Garuda GA 162 dari Padang, mendarat mulus di Bandara Soekarno Hatta,
Senin (13/12). Saya dan istri ada di pesawat yang sama. Kami yang duduk di
bagian ekonomi, tak tahu persis siapa saja gerangan yang duduk di kelas
eksekutif.
Perjalanan 90 menit setelah selesai, kami harus bergegas untuk urusan
masing-masing. Di antara yang bergegas itu, ada Gubernur Sumbar, Prof. Irwan
Prayitno.
Para penumpang kelas eksekutif dijemput dengan mobil khusus, namun karena
Irwan duduk di kelas ekonomi, maka naik buslah ia bersama-sama kami.
Bergelantungan. Apa adanya.
Menurut saya ada gubernur di Indonesia yang duduk di kelas ekonomi dalam
sebuah penerbangan adalah istimewa. Mungkin bagi orang lain tidak. Kabarnya
Gamawan Fauzi juga begitu ketika ia jadi gubernur. Pemilik Singgalang,
Basril Djabar, juga begitu, meski ia sudah jadi komisaris PT Semen Padang.
Gubernur Irwan terlihat oleh istri saya melangkah ke ruang ekonomi. Di sini
rakyat badarai memilih tempat duduk, sesuai kemampuan keuangan
masing-masing. Tidak seorang pun di antara kami yang akan berkecil hati,
jika Irwan Prayitno, duduk di eksekutif, sebab ia gubernur. Kami bangga
kalau gubernur duduk di kursi yang nyaman.
Namun saya tak percaya, kenapa ia melangkah ke ruang rakyat ini. Saya dan
istri duduk di kursi 5 AB, Gubernur Irwan justru lebih ke belakang lagi, 12
C. Kami berbasa-basi sejenak, lantas Irwan meluncur ke belakang, tenggelam
di kursinya.
Saya sudah lama juga hidup, sering naik pesawat bersama banyak orang dari
pejabat tinggi hingga orang biasa. Bagi saya ada gubernur rendah hati
seperti ini, menjadi obat. Ia tak berjarak dengan rakyat. Ia tampil apa
adanya.
Begitulah ketika Garuda mendarat di Cengkareng, kami tak bisa pakai pintu
garbarata, sehingga harus dijemput pakai bus besar. Semua penumpang kelas
ekonomi naik ke sana. Juga Gubernur Sumbar.
Bersama kami, ia berdesak-desakan dan bergelentungan. Bagi saya ini memang
luar biasa, ketika para pejabat kita merasa risih duduk di kelas ekonomi.
Bagi saya ini juga sebuah keteladanan, ketika di banyak bandara, ada lahan
parkir khusus untuk pejabat, persis di mulut pintu kedatangan.
Naik train
Jika di Indonesia, para menteri, kepala daerah menggunakan jasa transportasi
umum dapat dinilai sebagai hal yang luar biasa. Tidak demikian halnya di
negara-negara maju di Eropa, seperti Belanda, Inggris dan Jerman.
Dalam keseharian, belakangan ini, pemandangan seperti itu di negara-negara
yang disebutkan tadi bukanlah pemandangan yang aneh. Bahkan, mereka
menggunakan transportasi umum tanpa pengawalan.
Di Eropa sana, menteri, gubernur maupun walikota sudah terbiasa naik train,
bus. Sedangkan mobil dinas mereka diperlukan sewaktu-waktu untuk mengangkut
dokumen-dokumen sang mentri maupun kepala daerah.
Menurut Willy Laurens, 61, pengusaha nasional Belanda, yang merupakan indo
Belanda Depok, belakangan ini pemerintah setempat menganjurkan para menteri
untuk menggunakan transportasi umum, hal itu dilakukan untuk mengurangi
defisit anggaran. Belanda tahun ini mengalami defisit anggaran untuk bidang
militer. Sedangkan Jerman dan Inggris melakukan pengurangan defisit anggaran
hingga 40 persen untuk periode 2010-2014, sebagai bagian dari upaya
konsolidasi fiskal.
(Taufiq Ismail seperti dituturkan
pada susilo abadi piliang)

-- 
Afda Rizki

.:: Think Green ! Save the Planet ! ::.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke