*
Sebuah cerita yang mendebarkan bagaimana pelosok negeri bisa menghasilkan
SDM tingkat dunia. Mohon maaf bagi yang tidak berkenan.

Dikirim:* Kamis, 16 Desember 2010 14:04:16
*Judul:* [M-ITS] Cara Gila Membangun Indonesia (Pelajaran dari Tollikara)



Luar Biasa "menyentuh" dan memberi semangat buat kita semua... Agree?

Cara "Gila" Membangun Indonesia: Pengalaman dari Tolikara  Pak Kun
and colleagues, Salam dari Jayapura! Kami bertiga baru saja keluar
dari pedalaman Tolikara menyaksikan Olimpiade Astronomi se Asia-Pacific.


Hasilnya? Pelajar2 Indonesia menduduki urutan ke-2 dari 9 negara,
dengan perolehan 1 medali emas, 2 perak dan 4 perunggu. Korea Selatan di
urutan pertama dengan 2 emas. Indonesia berada diatas China, Rusia,
Kazakshtan, Kyrgistan, Nepal, Cambodia, dan Bangladesh. Lebih mengejutkan
lagi, 3 medali perunggu Indonesia di raih oleh pelajar asal Tolikara,
kabupaten terpencil di Tolikara, yang selama ini mengalami
keterbelakangan pendidikan dan SDM.


Dari Tolikara, Indonesia belajar!

Kisahnya dimulai dengan seorang "gila" bernama Yohanes Surya, pendiri
Surya Institute dan salah satu aktivis olimpiade science dunia, yang telah
sukses mempromosikan banyak anak Indonesia ke ajang olimpiade science
dunia, memprakarsai dilaksanakannya Olimpiade atronomi Asia Pacific (APAO)
di Indonesia. Program ini ditawarkan ke berbagai pemda di Indonesia,
namun tidak ada yang tertarik. Hingga suatu hari ... Yohanes Surya ketemu
dengan seorang "gila" lainnya bernama John Tabo, orang Papua, Bupati
Tolikara, pegunungan tengah Papua, kabupaten baru yang terisolir dan hanya
bisa dicapai dengan naik pesawat kecil dari Jayapura ke Wamena
disambung berkendaraan off-road selama 4 jam, daerah dimana laki-laki tanpa
celana dan perempuan tanpa penutup dada, ditemukan dimana-mana.

John Tabo, tanpa diduga, bersedia menjadi sponsor pelaksanaan APAO di
Indonesia, selain menjadi tuan rumah, dia juga mendanai seluruh biaya
persiapan tim olimpiade Indonesia yang datang dari berbagai daerah di
Indonesia termasuk dari Papua,selama 1 tahun. John Tabo membangun tempat
khusus (hotel) untuk menjadi venue olimpiade ini. Orang yang berfikir normal
pasti bilang, untuk apa John gila ini urusin Olimpiade astronomi seperti
ini? bukankah masih banyak persoalan internal kabupaten yang harus dia
selesaikan? mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi dan berbagai
infrastruktur dasar? Cari kerjaan dan masalah saja!


John Tabo melakukan terobosan "gila".
Dana diambil dari APBD, mau dari mana lagi? Dia tidak takut BPK atau
BPKP yang akan menilainya salah prosedur. Untuk John Tabo, membangun
adalah untuk rakyat, jangan dibatasi oleh hal-hal administratif. Yang
penting misi dia untuk membangun SDM Tolikara yang mendunia dapat tercapai,
dan itu "breakthrough" untuk mengatasi kemiskinan Tolikara, tidak perlu
menunggu sampai infrastruktur jalan akses terbuka.


Dikumpulkanlah 15 anak Indonesia sejak februari 2010 di Karawaci
untuk, kesemuanya "gila". 8 dari 15 anak tersebut direkrut dari SMP/SMU
Tolikara, yang semuanya memiliki kemampuan matematika yang rendah,
menyelesaikan soal matematika tingkat kelas 4 SD saja tidak mampu. Bahkan
ada yang namanya Eko, ketika ditanya 1/5 + 1/2, langsung dijawab
1/7! Seorang anak dari Kalimantan Tengah, malah tidak diijinkan kepala
sekolah dan gurunya untuk mengikuti persiapan olimpiade ini.
Guru-gurunya mengatakan bahwa apa yang akan dia ikuti itu sia-sia saja. Dia
melawan ini
dan lari dari sekolah! Ke-15 anak ini dilatih oleh pelatih2 "gila", yang
tidak bosan dan kesal melatih anak-anak ini. Dalam 10 bulan ke-8 anak
Tolikara ini mampu mengerjakan problem matematika paling sulit yang
diajarkan pada tingkat terakhir SMA atau tingkat awal universitas.


Pendekatan mengajarnya juga "gila".  Astronomi adalah  kumpulan
dari berbagai ilmu science: matematika, fisika, kimia dan biologi menjadi
satu mempelajari fenomena jagad raya. Ini juga ilmu gila. Bayangkan seorang
anak seperti Eko dari pedalaman Tolikara dapat menjadi salah seorang anak
terpandai dibidang astronomi didunia hanya dalam waktu 10 bulan??!!


Urusan ijin ternyata juga "gila-gilaan".


Ternyata even APAO ini tidak diakui oleh Kemdiknas. Akibatnya,
untuk mendatangkan peserta luar negeri, tidaklah mungkin mendapatkan
fasilitas visa dari negara. Pake prosedur normal ijin dari Pemerintah cq
Mendiknas tidak keluar. Entah gimana ceritanya ...
Surya Institute akhirnya bertemu dengan seorang "gila" dari UKP4.
Orang inilah yang mengetok Menteri Diknas, sehingga kemdiknas mau
mengeluarkan ijin. Lalu orang ini memfasilitasi ijin visa disaat-saat
terakhir, ketika semua sudah pasrah, bahkan orang ini
mempertemukan anak-anak Indonesia dengan wakil presiden RI. Orang normal
mungkin akan berfikir, apa urusannya astronomi dengan wapres??!!


Lalu siorang gila dari UKP4 ini menugaskan 3 orang anggotanya yang
kebetulan juga "agak gila" untuk datang menghadiri kegiatan olimpiade di
Tolikara. jadilah 3 orang itu sebagai satu2nya unsur pemerintah pusat dalam
even Olimpiade di Tolikara. Lalu 3 orang ini membawa-bawa nama Wakil
Presiden RI dan Kepala UKP4 untuk memotivasi anak2. Dalam percakapan hati ke
hati dengan 15 orang anak, semalam sebelum pengumuman, tidak kurang 7 orang
anak terharu menangis, melihat begitu besarnya perhatian pemerintah RI
kepada mereka, sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan dari pemerintah di
Jakarta selama 10 bulan mereka di godok di Karawaci. Datang dan duduk
bersama dengan mereka, ternyata lebih dari segalanya bagi anak-anak ini.

Anak-anak Tolikara begitu terharu, menangis terisak, melihat ada
orang Jakarta mau datang melihat mereka di Tolikara.
Apa hasil dari semua kegilaan ini? Selain perolehan medali-medali diatas:

   1. Indonesia dikenal lewat Tolikara! Tolikara, meskipun tidak
   dikenal Indonesia, namun telah membuktikan kepada dunia bahwa dari tempat
   yang sedikit sekali dijamah pembangunan, bisa lahir juara-juara
   olimpiade science, yang akan mengharumkan nama Indonesia ditingkat dunia,
   2. Tolikara mulai membenahi sumber daya manusianya menuju SDM
   berkualitas dunia. Hasil olimpiade ini telah memotivasi semua anak Tolikara
   bahwa keterbatasan fisik dan fasilitas bukanlah halangan bagi anak Tolikara
   untuk menjadi SDM terbaik dunia. 8 anak Tolikara yang bersaing ditingkat
   dunia menjadi saksi hidup bahwa SDM Tolikara dapat bersaing ditingkat dunia.
   3. Tolikara membuktikan bahwa mereka dapat membangun "lebih cepat" jika
   cara berfikir "gila" ini diterapkan. Hanya dengan cara gila seperti
   ini pembangunan Papua dapat dipercepat.
   4. Kita perlu "A Tolikara Approach" untuk sebuah percepatan
   pembangunan Papua!

Pesan moral dari kisah ini: jadilah orang gila untuk
membangun Indonesia lebih baik! Never underestimate things! Kesempatan ke
Tolikara telah memberikan pelajaran berharga bagi saya. Belajar tidak harus
selalu dari tokoh dunia. Dari seorang anak SMP yang tidak pernah
diperhitungkan dipelosok Tolikara, kita dapat belajar untuk berbuat yang
terbaik bagi
Indonesia dan dunia.

Ferry Hendarto
M41
Engineer PT Astra Honda Motor
Butuh Blackberry, Call me ...
081 908215 777
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke