Melanjutkan kisah dibelakang layar mengenai keberhasilan PSSI
*
*
*Oleh: dr Phaidon Lumban Toruan - Faculty Member dari Rhenald Kasali School
for Entrepreneurs (RKSE) *

*KOMPAS.com* — Luar biasa! Tim nasional berhasil mengoleksi empat kemenangan
berturut-turut di ajang Piala AFF. Terakhir adalah saat melawan Filipina,
yang katanya memiliki sembilan pemain naturalisasi. Semua lawan yang telah
merasakan keperkasaan Firman Utina dan kawan-kawan saat ini mungkin cukup
terperangah melihat tim sebuah negara besar yang sudah lama absen dari
prestasi tiba-tiba tampil berbeda.

Kemenangan yang bukan main-main. Menundukkan Malaysia 5-1, mencukur Laos 6-0
(yang mampu menahan Thailand 2-2), dan menaklukkan Thailand 2-1 (salah satu
tim terkuat di Asia Tenggara), dan terakhir menang atas Filipina 1-0 di
semifinal *leg* pertama adalah bukti keperkasaan itu.

Apa rahasia besar dari semua ini? Tentu ini adalah hasil kegigihan semua
pemain di lapangan serta peran besar seorang Alfred Riedl, sang pelatih
kepala, yang dibantu asisten Wolfgang Pikal dan Widodo C Putro. Tapi,
apalagi?

Pasti ada sesuatu yang baru bukan? Masalahnya bukan sekali karena Indonesia
menggunakan jasa tenaga pelatih asing. Bahkan negara yang disegani di Asia
Tenggara, Thailand, menggunakan jasa pelatih ”bule” sekaliber Bryan Robson
pun harus angkat koper lebih awal.

*Apa yang berbeda? *
Sejak PSSI menunjuk Iman Arif sebagai Direktur Badan Tim Nasional (BTN),  ia
secara intensif membentuk suatu tim yang terdiri atas para profesional. Ia
melibatkan banyak orang dengan latar belakang  profesional di perusahaan
multinasional. Orang-orang pilihan ini menempati semua divisi, mulai dari
sekretaris direksi, direktur administrasi, direktur  keuangan, direktur *
marketing*, direktur*talent scouting*, dan direktur *sport science.*

Iman melakukan perubahan radikal di semua lini dan menerapkan *true
management*.* True management* di perusahaan multinasional seperti yang
dikomandoi ImanArif senantiasa menerapkan*management science* dalam
pekerjaan sehari-harinya.

Iman saat ini tidak lagi menjabat Direktur BTN, tetapi kini bertugas sebagai
Direktur Teknis di bawah direktur baru BTN, Nirwan Bakrie. Saya sendiri
pernah menjabat direktur *sport science di *BTN*.*  Tetapi, saat ini saya
lebih banyak membantu Iman membuat rancangan strategis untuk meningkatkan,
bukan hanya kualitas tim nasional, melainkan juga melakukan *transfer
knowledge* ke seluruh insan sepak bola di Indonesia.

Artinya, Badan Tim Nasional  bekerja mengumpulkan semua ilmu pengetahuan
yang menunjang prestasi sepak bola (bisa dibilang kulakan ilmu), melakukan
cara-cara  aplikasi ilmu pengetahuan tersebut sesuai dengan kondisi di
Indonesia. Keberadaan organisasi divisi *sport science *di Badan Tim
Nasional  merupakan bagian dari pelaksanaan rekomendasi sarasehan sepak bola
nasional di Malang beberapa waktu lalu.

Ada beberapa stretegi *sport science* yang diformulasikan buat timnas.
Strategi pertama adalah melakukan aplikasi *sport medicine* dibantu beberapa
profesional. Apa yang dilakukan dalam disiplin ilmu ini adalah melakukan
pemeriksaan awal, baik pemeriksaan fisik, laboratorium,
dan*musculoskeletal* (sendi
dan/atau otot).

Dengan pemeriksaan ini, data pemain yang dinyatakan oleh tim *sport
medicine *tidak fit diserahkan kepada Alfred sebagai pelatih kepala sehingga
saat menyusun tim, bisa mengantisipasi pemain-pemain yang bermasalah secara
kesehatan agar tidak mengganggu program kerjanya.

Usaha ini tentu perlu kesabaran karena tim memeriksa puluhan pemain yang
secara kasatmata merupakan yang terbaik di Indonesia. Hasil akhir dari
pekerjaan ini adalah adanya penilaian kondisi fisik pemain sehingga timnas
yang terbentuk terdiri atas pemain yang fit untuk pelatihan.

Strategi kedua adalah melakukan aplikasi* sport nutrition.* Saat awal
pembentukan timnas, akibat kurangnya dokter yang menjadi ”pemain lapangan”
di bidang *sport nutrition*, saya melakukannya sendiri sesuai dengan
pengalaman menangani beberapa atlet nasional. Pada pelatnas tahap kedua,
pakar dari FKUI-RSCM dilibatkan untuk membantu pengawasan dan penyusunan
menu makan. Walaupun sudah diawasi, tetap saja aplikasi *sport nutrition* belum
sepenuhnya sempurna dilakukan.

Ketiga, adalah psikologi olahraga. Mental ternyata masih menjadi masalah di
Indonesia. Untuk itu, ada banyak program yang telah disiapkan oleh tim *sport
science* Badan Tim Nasional, tetapi belum semuanya bisa dijalankan.

Keempat adalah penggunaan *sport technology*. Beberapa hal unik dalam
aplikasi  teknologi *sport*adalah penggunaan alat ukur yang canggih guna
menentukan kecepatan tendangan, membuat sepatu yang didesain khusus untuk
personal (karena pada faktanya kaki kiri dan kaki kanan manusia ukurannya
tidak sama, sementara sepatu selalu dibuat simetris), penggunaan berbagai *
gadget*seperti gelang magnet, dan salah satu aplikasi yang paling sederhana
yang bisa dikerjakan adalah dengan bermain dengan teknologi IT.

Beberapa hal yang berhubungan dengan IT adalah pencatatan data, simulasi
pertandingan, *review*pertandingan, komunikasi, dan visualisasi yang
mendukung semua hal yang diperlukan dalam mencapai performa maksimal.

Lewat tulisan ini, Anda bisa melihat bahwa di dalam Badan Tim Nasional PSSI
sudah ada beberapa perubahan khusus di bidang *sport science* saja. Masih
ada perubahan lain di divisi lain yang ada di tubuh Badan Tim Nasional.

Pada akhir tulisan ini saya sekali lagi mengatakan bahwa prestasi tim
nasional adalah prestasi tim. Tim pelatih dan  tim pemain, tim *support*,
tim administrasi, tim *marketing*, tim *talent scouting*, tim *sport science
* dan tim medis, dukungan PSSI, dukungan pemerintah, serta jiwa seluruh
rakyat Indonesia yang berhimpun di Gelora Bung Karno, menjadikan kita saat
ini memiliki  modal sebagai *super team*, bukan ”kumpulan *superman*”.

Dengan demikian, kita berpeluang menjadi *the winning team*. Dan kalau saja
prestasi  dan kerja sama ini diteruskan, mimpi saya dan juga insan sepak
bola Indonesia bahwa kita bisa dan mampu main di putaran final Piala Dunia
2014 di Brasil akan menjadi kenyataan.

Saya mengundang para pemimpi besar di negeri ini untuk  mengambil tindakan
saat ini juga demi kejayaan Indonesia. Saat ini kita melihat Indonesia
menari. Tahun 2014, kita akan menari, menyanyi, dan bersukacita melihat jati
diri kita yang sebenarnya. Saat itu kita akan tepuk dada kita dengan bangga
seraya berkata, ”Saya orang  Indonesia.”

*Penulis adalah Sports Scientist di Badan Tim Nasional PSSI*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke